jurnalistik.co.id – Ghetto Kids dari Uganda tengah merayakan capaian baru setelah tampil di panggung show paruh waktu pada final Piala Dunia, Minggu ini. Pengalaman itu digambarkan sangat berarti oleh Sierra, 10 tahun, dengan kalimat “very, very, very, very, very good”.
Walau sejumlah pihak sempat mengeluhkan kemunculan hiburan bergaya “Superbowl” di tengah acara sepak bola terbesar, penampilan anak-anak itu bersama bintang global Burna Boy dan Shakira mendapat perhatian luas. Di tengah sorotan jutaan penonton, mereka berbagi momen yang dinilai banyak orang sebagai pengingat bahwa kegembiraan bisa hadir di panggung paling besar.
Dalam wawancara dengan program Newsday dari BBC, anggota rombongan dan manajer mereka menjelaskan perjalanan yang tidak instan. Mereka mulai dari awal yang sederhana di ibu kota Uganda, Kampala, lalu menemukan popularitas sambil tetap menyeimbangkan sekolah.
“Never give up… pray to God. Listen to your parents, education is first, that’s all,” kata Sierra. Ia dan Josephine, 11 tahun, tetap merasakan euforia setelah tampil di paruh waktu, pada pertandingan yang menyaksikan Spanyol mengalahkan Argentina di MetLife Stadium, New Jersey.
Josephine menceritakan kegembiraannya saat melihat para bintang. “I saw Messi and Lamine Yamal!” ujarnya tentang Lionel Messi, kapten Argentina, dan Yamal, winger remaja dari Spanyol. Ia menambahkan, “I was so happy to see Messi and people watching us. I felt so excited and I was smiling, and a little bit nervous,” sambil mengingat momen ketika sorotan mengarah ke mereka.
Selaras dengan itu, Sierra juga menyampaikan kesan pribadinya kepada Shakira. “Shakira, she’s very kind,” katanya, merangkum suasana yang mereka rasakan selama persiapan maupun saat acara berlangsung.
Ketika penampilan mereka berakhir, anak-anak itu memberikan pelukan besar kepada Shakira dan musisi Nigeria Burna Boy. Manajer Dauda Kavuma menegaskan bahwa gesture tersebut merupakan ekspresi afeksi yang alami, bukan koreografi yang “dibuat-buat”. Menurut Kavuma, penunjukan mereka untuk tampil memang terasa seperti mimpi yang menjadi nyata.
Kavuma menceritakan reaksi mereka saat mendapat kabar. Anak-anak “ran around in a circle, banging and shouting” ketika mengetahui kesempatan tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa mereka sebelumnya pernah menari untuk “Waka Waka” di Britain’s Got Talent, namun kali ini adalah momen khusus karena Shakira mengundang mereka untuk tampil bersamanya.
Bagi rombongan, filosofi yang mereka pegang adalah keyakinan bahwa bakat tidak mengenal batas keadaan. “It means a lot and it’s life-changing.” Kavuma menyebut, ada begitu banyak kemampuan di lingkungan “ghetto”, tinggal perlu dipoles sampai siap tampil di panggung yang lebih luas.
Berita Terkait
Dalam perjalanan hidupnya, Kavuma pernah tinggal di jalanan Kampala sebagai anak. Ia kemudian mendapatkan perubahan setelah kebaikan seorang guru yang turut mengubah hidupnya. Dari titik itu, ia ingin membalas kebaikan dan akhirnya menjadi guru sendiri sebelum membentuk Ghetto Kids—rombongan yang berisi anak-anak tunawisma serta mereka yang tidak mampu membayar biaya sekolah.
Ragam gaya tari Afrika, unsur komedi, dan energi murni membuat mereka cepat menarik perhatian. Mereka juga mendapat kesempatan lebih luas ketika musisi Uganda seperti Eddy Kenzo meminta Ghetto Kids untuk tampil dalam beberapa video. Strateginya, rombongan memanfaatkan kekuatan internet agar karya mereka bisa menyebar.
Langkah terbesar mereka terjadi pada 2017 saat tampil dalam video musik French Montana untuk lagu “Unforgettable”. Pada saat artikel itu ditulis, video tersebut telah mengumpulkan lebih dari 1.9 billion views di YouTube. Pengakuan itu membuka pintu lanjutan, termasuk membawa Ghetto Kids sampai ke final Britain’s Got Talent pada 2023, lalu berkompetisi di America’s Got Talent pada tahun berikutnya.
Kesuksesan tersebut turut memperluas dampak proyek Kavuma, termasuk dukungan hunian, makanan, dan biaya pendidikan untuk banyak anak di Uganda. Walau final Piala Dunia tahun ini mungkin menjadi panggung paling besar yang mereka jalani, perjalanan mereka di dunia acara olahraga juga sudah lebih dulu dimulai.
Pada 2023, Ghetto Kids mengaku sangat senang bertemu Kylian Mbappé dan tampil di pertandingan sepak bola paruh waktu di Prancis. Saat itu, mereka tampil dalam laga antara raksasa Paris Saint-Germain dan Reims.
Di luar panggung kompetisi dan event olahraga, cerita mereka juga akan dibawa ke layar lebar. Sebuah film tengah dibuat dengan judul Ghetto Kids Documentary: No Plan B, yang merangkum perjalanan mereka dari awal yang berat hingga panggung internasional.
Di tengah ketenaran, pesan yang ditanamkan orang tua dan manajer mereka tetap sama: “Education first”. Kavuma mengatakan, video untuk pengikut media sosial mereka direkam pada akhir pekan sehingga hari-hari sekolah bisa tetap berjalan. Jika mereka harus bepergian untuk pertunjukan, anak-anak terhubung secara daring dengan guru mereka, lalu mengejar kembali tugas yang sempat tertinggal ketika kembali ke Kampala.
Sierra dan Josephine juga menuturkan rencana masa depan mereka. “Dancing changed my life – I went to school because of dance,” kata Sierra. Josephine menyambung dengan, “Dance is what I know and that makes me happy because that’s my talent.”
Untuk anak-anak lain yang mungkin memiliki bakat seperti mereka, tetapi memulai dari kondisi yang tidak mudah, Josephine menjawab dengan nasihat yang sederhana namun tegas. “To love themselves, believe in God, and pray. Be with their talents – don’t deny them,” katanya. Ia menutup dengan, “And we love them.”












