Entertainment

Mengapa Jimothy si rakun menjadi mega meme terbaru di internet

×

Mengapa Jimothy si rakun menjadi mega meme terbaru di internet

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why Jimothy the raccoon has become a mega meme online

jurnalistik.co.id – Nama “Jimothy” mendadak jadi pembicaraan lintas platform—berawal dari seekor rakun berwajah tidak lazim yang kemudian menjelma mega meme. Perbincangan ini tidak muncul dari kampanye besar, melainkan dari satu unggahan video yang cukup sederhana.

Semua bermula dari video yang dibagikan warga Seattle, Kiana Hall, di Instagram. Dalam klip tersebut, Jimothy terlihat berlari dan melompat melintasi jalanan, bahkan menuntaskan geraknya hingga naik beberapa anak tangga.

Hall terdengar bereaksi dengan kalimat, “What am I looking at?” Di bagian caption, ia menyebut rakun itu sebagai “Jimothy the raccoon with short spine syndrome”. Meski kondisi itu tidak bisa dipastikan secara medis dari video singkat, banyak orang kemudian mengaitkan bentuk tubuh Jimothy dengan julukan tersebut—dan nama Jimothy pun melekat.

Ketika reels Hall mulai menyebar, perhatian pengguna ikut melonjak. Pada Jumat pagi, video tersebut telah meraih lebih dari delapan juta penayangan, disertai lonjakan komentar dan unggahan ulang.

Salah satu komentar merangkum bagaimana meme ini bekerja sebagai “penyapa dunia maya”. Komentar itu berbunyi, “My brother was talking about Jimothy the other day, and I asked him who is,” lalu berlanjut, “He told me Jimothy would find me, and now he has.”

Selain aspek lucu dan tidak terduga dari penampilan Jimothy, sebagian warganet juga menilai popularitasnya punya efek samping yang bernilai. Ada pengguna yang berharap perhatian internet dapat diterjemahkan menjadi kepedulian terhadap gangguan tulang belakang, sebagaimana tulis seorang pengguna yang menyebut dirinya lahir dengan sindrom tulang belakang bawaan: “I hope that someone can care for Jimothy as a wild animal… he will get older and need more care,”.

Jimothy tidak sendirian dalam pola “hewan dengan kondisi unik” yang justru menjadi sorotan publik. Dalam laporan BBC, disebut bahwa Lessons in Meme Culture (YouTuber asal Australia) menyinggung kasus seekor anjing bernama Pig yang sempat menjadi sensasi internet pada 2014, sebagian karena short spine syndrome.

Lalu, mengapa Jimothy terasa hadir di mana-mana? Menurut Dr Idil Galip, peneliti budaya digital dari University of Amsterdam, ada hubungan antara perubahan lingkungan perkotaan dan intensitas pertemuan manusia dengan rakun. Ia mengatakan, “As cities expand and food waste increases, humans and raccoons cross paths more often,”.

Dr Galip menambahkan bahwa frekuensi pertemuan akan memperbesar peluang munculnya rekaman yang dianggap “lucu” atau berkesan, lalu pada arus feed yang bergerak cepat, momen itu bisa berubah menjadi meme hampir seketika. Ia juga menyebut, “More encounters mean more footage of raccoons being funny and in today’s fast-moving, saturated feeds, that footage can become a meme almost instantly.”

Arus perhatian itu kemudian tidak berhenti di layar. Popularitas Jimothy ikut menjelma karya nyata di lingkungan tempat ia pertama kali terlihat. Salah satu seniman lokal, misalnya, merayakannya lewat mural di kawasan Ballard—wilayah yang disebut sebagai tempat awal kemunculannya.

Tak hanya penggemar biasa, akun-akun resmi juga ikut mengangkat meme ini. Dalam artikel disebut bahwa akun media sosial Gedung Putih milik Presiden Donald Trump, yang tidak asing memanfaatkan budaya internet untuk tujuan komunikasi, turut membagikan meme Jimothy.

Saat tampil di platform X, meme tersebut memerlihatkan rakun mengenakan topi merah dengan tulisan “Trump was right about everything”. Detail ini menunjukkan bagaimana sebuah konten viral bisa “dipindahkan” ke berbagai agenda dan konteks komunikasi, tanpa kehilangan statusnya sebagai bahan lelucon.

Bagi banyak merek, viralitas seperti ini adalah peluang untuk meningkatkan jangkauan. BBC mencatat bahwa selain beredar di unggahan individu, Jimothy juga menjadi “bahan balap” bagi brand yang berlomba memanfaatkan minat konsumen terhadap tren terbaru.

Sejumlah contoh yang disebut dalam laporan antara lain animasi Google yang berjalan di layar saat pengguna mencari “Jimothy”. Ada juga meme coins yang menamai diri mereka dengan rujukan Jimothy—dalam tradisi yang menggambarkan para penggemar kripto yang ikut masuk momen viral dengan koin digital yang nilainya dipandang meragukan.

Jimothy bahkan disebut akan muncul dalam World of Warcraft di dunia fiksi Azeroth. Ia juga diklaim muncul di Minecraft melalui akun resmi platform tersebut. Di titik ini, meme bergerak dari perhatian berbasis unggahan amatir menuju bentuk-bentuk distribusi yang lebih terstruktur.

Dr Galip menilai praktik “memeluk tren” seperti ini sudah menjadi kebiasaan umum di dunia pemasaran. Ia menyatakan, “Meme marketing is now standard practice for many brands,” dan menambahkan, “They will hop on to whatever’s trending, hoping the visibility rubs off on them.” Ia melanjutkan, “A viral moment can give momentary brand visibility, in searches and social media feeds, where the attention is.”

Di sisi lain, ketika kegemaran publik memuncak, ada risiko perilaku yang mengabaikan keselamatan dan privasi satwa liar. BBC menyinggung bahwa lonjakan minat pada hewan-hewan lucu di internet sering kali memicu permohonan dari otoritas lokal agar orang tidak mendekati secara sembarangan demi keamanan hewan maupun manusia.

Penduduk di Washington, termasuk Seattle, juga menerima peringatan serupa terkait Jimothy. Departemen kesehatan negara bagian, misalnya, menyampaikan lewat Threads bahwa selama tidak ada tindakan seperti memberi makan atau mencoba memeluk, risikonya dianggap sangat rendah.

Kalimat resminya berbunyi, “As long as you don’t try to pet him, cuddle him or feed him, Jimothy poses zero public health risk,”. Dengan kata lain, batas yang ditegaskan bukan untuk mematikan rasa penasaran, tetapi agar meme tidak mendorong interaksi yang berbahaya atau mengganggu.

Meski begitu, sebagian orang merasa momen viral ini justru memberi jeda dari kepadatan informasi. Jamie Slack menulis di blog Totally the Bomb bahwa internet terasa terlalu ramai: “The internet is a lot. It is too much, constantly, in every direction,”. Menurutnya, Jimothy hadir sebagai fenomena yang membuat banyak orang sejenak berada pada halaman yang sama.

Ia menambahkan, “And then Jimothy shows up and for one brief weird moment everyone is on the same page – rooting for this little gremlin, giggling at his name, feeling weirdly connected to strangers over absolutely nothing.” Dari video sederhana hingga respon publik lintas platform, Jimothy menjadi contoh bagaimana satu makhluk dengan karakter tak biasa bisa mengikat perhatian jutaan orang—tanpa perlu klaim besar, selain momen yang kebetulan tertangkap kamera dan kemudian dibagikan.

Di balik viralitasnya, cerita Jimothy juga menyiratkan dua hal sekaligus: budaya meme yang cepat bergerak, dan cara publik modern mencari koneksi ringan di tengah arus digital yang melelahkan. Selama perhatian itu tetap diarahkan pada kepedulian dan batas keselamatan, Jimothy tetap bisa menjadi kisah internet yang lucu—bukan gangguan di ruang nyata.