jurnalistik.co.id – Glasgow 2026 meninggalkan panggung dengan suasana yang terasa hangat dan penuh perayaan. Selama 11 hari, rangkaian ajang ini menghasilkan 674 medali dan memperlihatkan antusiasme penonton yang nyata di lapangan.
Namun, ketika sorotan mulai mereda, pertanyaan tentang masa depan Commonwealth Games justru belum sepenuhnya hilang. Perbincangan bergeser dari “bagaimana Glasgow sukses” menjadi “apakah kesinambungan acara ini bisa terjamin”.
Victoria memang sudah tidak lagi menjadi tuan rumah setelah menarik diri. Kini, Ahmedabad berdiri menggantikan peran tersebut sebagai kota tuan rumah berikutnya, untuk edisi yang akan merayakan ulang tahun ke-100 penyelenggaraan pada 2030.
Tetap saja, jaminan tidak datang dengan mudah. Raghu Iyer—chief executive Indian Olympic Association—menyampaikan, “I don’t think one can give any guarantees,” kepada BBC Sport, seolah merangkum keraguan yang muncul sejak pertandingan terakhir Glasgow selesai pada Minggu malam.
Di tengah kehampaan kepastian itu, Glasgow sebenarnya berupaya menjawab sinyal darurat setelah Victoria mundur pada 2023. Penyelenggara menyebut 11 hari di kota Skotlandia itu “exceeded all expectations,” dan menegaskan bahwa ajang ini terasa lebih dari sekadar agenda olahraga.
Memang ada keluhan yang terdengar, termasuk gangguan di area parkir dekat rumah warga, serta keluhan dari pengemudi taksi dan pemilik toko yang beraktivitas di sekitar lokasi kegiatan. Meski begitu, pengalaman di lapangan memperlihatkan momen yang bermakna, dengan kerumunan penonton yang tampak terlibat sejak awal.
Dari sisi angka, penjualan tiket sebesar 434.000—jauh lebih rendah dibanding 1,5 juta pada Birmingham 2022. Akan tetapi, perbedaan itu juga dipahami terjadi karena penyelenggaraan edisi yang lebih “scaled-back” di venue dengan kapasitas yang lebih terbatas.
Di antara sorak-sorai itu, Glasgow melahirkan beberapa kilasan yang sulit dilupakan. Josh Kerr merayakan kepulangan “homecoming” emasnya di Scotstoun Stadium lewat nomor mile, sementara Angharad Evans membuat lantai ruang renang bergoyang dengan aksi yang mengguncang suasana. Neil Fachie juga mencuri perhatian melalui kemenangan emosional saat kembali berkompetisi di Sir Chris Hoy Velodrome, tak jauh dari cerita yang selama ini melekat pada stadion tersebut.
Perayaan tidak hanya datang dari atlet tuan rumah. Jamaica mencatat kemenangan netball yang terasa “seismic” atas Australia, menambah bukti bahwa ajang ini mampu menghadirkan kejutan lintas negara.
Di luar adegan kompetisi, muncul satu pertanyaan yang berulang sepanjang penyelenggaraan: apakah ada pihak lain yang benar-benar menonton, selain yang hadir langsung di venue? Penyelenggara menyebut capaian penonton dari media sosial Glasgow melampaui Birmingham pada fase awal. Mereka juga menyoroti angka televisi yang memecahkan rekor di Australia dan Selandia Baru, terutama karena siaran dapat dinikmati secara free-to-air.
Namun, tanpa liputan yang setara di Inggris, beberapa momen terasa seperti berjalan dengan jarak tertentu. Commonwealth Games di Glasgow tetap hidup melalui stadion, tetapi pada beberapa kesempatan terasa “drifted by” karena perhatian yang tidak merata dari sisi cakupan siaran.
Keberhasilan di Glasgow juga dipengaruhi oleh fakta bahwa tidak semua pesaing besar tampil sepenuhnya, atau menarik diri pada waktu yang mendekat. Khususnya pada cabang atletik, absennya Keely Hodgkinson, Katarina Johnson-Thompson, dan Dina Asher-Smith meninggalkan bayangan yang ikut mengubah ritme persaingan.
Berita Terkait
Perbedaan “nilai” antar cabang olahraga pun tampak jelas. Untuk netball, ajang ini tetap dipandang sebagai puncak—sejenis tujuan utama—sedangkan untuk cabang lain, Commonwealth Games lebih sering menjadi batu loncatan.
Banyak narasi juga diarahkan pada “next generation.” Filip Nowacki, perenang berusia 18 tahun dari Jersey, menjadi salah satu nama yang paling menarik untuk diikuti. Gymnasi Ruby Evans (Wales) dan Reuben Ward (Skotlandia) juga menguatkan gambaran bahwa regenerasi mulai benar-benar bergerak, begitu pula Henry Hobbs dari Inggris dalam cabang track cycling yang meraih dua emas dan satu perunggu.
Di kolam renang, Faye Rogers menunjukkan pendekatan yang berbeda. Ia membawa keberhasilannya dari Paralympics kembali ke Glasgow lewat medali emas di nomor renang, lalu juga tampil di event non-para. Sementara itu, Emma Finucane mengubah tiga medali Olimpiade di Paris menjadi empat emas Commonwealth Games di Glasgow, memperlihatkan bagaimana momentum dari satu panggung besar bisa ditransfer menjadi dominasi di panggung berikutnya.
Semua pencapaian itu tentu mengarah pada agenda berikutnya: Los Angeles pada 2028. Pada saat yang sama, pembicaraan mengenai Ahmedabad juga menguat lewat perubahan jadwal. Pemindahan ke bulan Oktober disebut akan membantu atletik karena terbebas dari benturan jadwal dengan European Championships.
Meski demikian, langkah itu juga membawa konsekuensi: musim kompetisi menjadi lebih panjang dan atlet menghadapi keputusan yang berbeda. Selain itu, keberadaan Commonwealth Games edisi mendatang juga dibaca sebagai bagian dari langkah menuju penyelenggaraan Olimpiade dan Paralimpiade India—yang mungkin juga berpusat di Ahmedabad.
Untuk bagian infrastruktur, venue utama direncanakan di stadion kriket berkapasitas 120.000 kursi, yang membawa nama Perdana Menteri Narendra Modi. Banyak pihak menaruh perhatian, mengingat tantangan yang pernah muncul saat Delhi 2010, sekaligus karena skala penyelenggaraan berpotensi berdampak pada kualitas dan kesiapan seluruh ekosistem acara.
Jumlah cabang olahraga juga diperkirakan bertambah. Versi edisi berikutnya tidak akan melewati angka 20 seperti yang sebelumnya direncanakan untuk Victoria, tetapi naik menjadi 17 dari 10 di Glasgow. Poin sensitifnya adalah biaya: anggaran di Glasgow dipangkas dari ÂŁ800m, sementara anggaran untuk Ahmedabad 2030 disebut hampir dua kali lipat dari anggaran Glasgow yang tercatat ÂŁ160m.
Tentang “template untuk masa depan” itulah letak ketegangan yang terus mengendap. Versi yang dipublikasikan sebagai model, pada praktiknya tetap menuntut penyeimbangan antara kebutuhan finansial dan kesiapan logistik—agar sirkuit penyelenggaraan tidak terhenti oleh konflik perencanaan.
Cabang yang kembali untuk Ahmedabad juga menarik untuk diikuti. India yang memiliki peran besar disebut akan mendorong pengembalian cabang seperti kriket, menembak, panahan, dan hoki. Dalam konteks Olimpiade, olahraga yang baru-baru ini ditambahkan termasuk skateboard, surfing, dan breakdancing—sementara Commonwealth Games tampak bergerak dengan komposisi yang berbeda.
Namun, bagian paling signifikan bukan hanya daftar cabang, melainkan kenyataan bahwa olahraga, negara, dan ribuan atlet masih ingin berada di ajang ini—meski alasan mereka beragam. Runner 5.000 meter Rose Davies, yang menjadi bagian dari skuad Australia, mengatakan, “I always looked up to it as a little girl and wanted to compete at a Commonwealth Games,” dan menekankan bahwa ajang ini menjadi bagian besar dari perkembangan atlet serta salah satu tujuan yang ingin dicapai.
Tarona Taafaki dari Tuvalu, yang meraih medali Commonwealth pertamanya, juga memberi gambaran lebih luas. Ia menyampaikan, “It means there’s a start, there’s a beginning, and right now it just the beginning of what Tuvalu can reach in the future,” yang menunjukkan bahwa pengalaman di Glasgow bukan sekadar hasil, tetapi titik awal untuk batas yang lebih jauh.
Jika dorongan itu tetap terpelihara, harapan untuk masa depan Commonwealth Games juga ikut bertahan. Di balik keraguan soal kepastian tuan rumah, Glasgow 2026 justru meninggalkan satu pesan: dukungan atlet dan negara masih punya alasan kuat untuk bertahan.












