jurnalistik.co.id – Bilal Fawaz, petinju Inggris dari divisi light-middleweight, terus berjuang agar bisa mendapatkan paspor Inggris—meski tinggal di negara itu lebih dari dua dekade. Ia menjadi figur yang dibicarakan luas setelah kisahnya diangkat lewat dokumenter BBC berjudul Fighting for Freedom.
Promotornya, Eddie Hearn, menyebut situasi yang dihadapi Fawaz sebagai sesuatu yang “memalukan”. Hearn mengatakan pemerintah seharusnya segera bertindak karena status keimigrasian Fawaz membuatnya tidak bisa bertanding ke luar negeri, sekaligus menghambat rencana membawa keluarganya berlibur.
Menurut laporan tersebut, Fawaz berusia 38 tahun. Ia didatangkan ke Inggris pada usia 14 tahun dan sejak saat itu tidak pernah melakukan perjalanan ke luar negara.
Fawaz pernah mewakili Inggris sebagai petinju amatir sebelum kemudian menjadi profesional setelah memperoleh work permit. Dari jalur kariernya, ia akhirnya meraih gelar British dan Commonwealth champion. Namun, kendala paspor membuatnya tetap terhalang untuk menghadapi peluang tanding di luar Inggris.
Eddie Hearn mempertanyakan proses yang dianggapnya tidak beres. Ia berkata, “What on earth is the hold-up?” lalu menambahkan, “You want to go down to Number 10 [Downing Street] and bang on the door and say: ‘Any chance of dealing with this?’ It’s the most ridiculous thing I’ve ever heard.”
Hearn juga menyampaikan, “If you were them, you’d almost be embarrassed. Someone should look at it and go, ‘What are you guys doing? Give him his passport.’” Ia menilai pemerintah perlu meninjau kembali hambatan yang dialami Fawaz agar kariernya tidak terus tersendat oleh urusan administrasi.
Sementara itu, juru bicara Home Office menyampaikan kepada BBC Sport bahwa mereka tidak memberi komentar rutin untuk kasus-kasus individual.
Kisah dari masa kecil hingga masuk dunia tinju
Fawaz lahir di Nigeria dari ibu berdarah Beninese dan ayah berdarah Lebanon. Ia mengatakan masa kecilnya dibentuk oleh kekerasan, pengabaian, dan perasaan bahwa dirinya tidak memiliki tempat di lingkungan tersebut.
Menurut Fawaz, ia sempat dikirim untuk tinggal bersama kerabat sebelum akhirnya dibawa ke London dengan keyakinan bahwa ia akan dipertemukan kembali dengan ayahnya. Namun, ia mengklaim justru ditempatkan di dalam sebuah rumah dan dipaksa bekerja, sekaligus dicegah untuk bersekolah serta bergaul dengan anak-anak lain.
Fawaz menggambarkan pengalamannya lewat kalimat, “My best friend was the window.” Ia menambahkan, “I could see people walking and kids outside playing, but I wasn’t allowed to play with them.”
Setelah kabur, ia masuk ke sistem perawatan. Di masa mudanya, ia mendapatkan catatan kriminal untuk pelanggaran ringan, termasuk kepemilikan ganja dan tindakan vandalisme berupa graffiti.
Fawaz mengungkap pandangannya bahwa dirinya membutuhkan bimbingan, bukan hukuman. Ia mengatakan, “I’ve never robbed anything,” “I’ve never beaten anyone up,” dan “I’ve never done anything that’s atrocious.”
Ia menegaskan, “I was just a kid who needed guidance and I never had that.” Dalam penjelasan lain, ia menambahkan, “Somebody should have taken care of me and fixed my whole life before I turned 18.”
Stabilitas, menurut Fawaz, ia temukan di All Stars Boxing Club yang berada di barat London. Di sana, ia menjadi juara amatir Inggris dan mewakili Inggris sebanyak enam kali.
Meski begitu, ia tidak bisa mengejar kualifikasi Olimpiade atau menerima kontrak profesional karena ia tidak memiliki izin untuk bekerja maupun bepergian. Ia juga mengalami dua kali penahanan imigrasi, dengan ancaman deportasi.
Proses hukum kemudian berakhir ketika seorang hakim memutuskan bahwa tidak ada dasar hukum yang sah untuk menahan Fawaz. Ia dibebaskan dan pada praktiknya disebut berada dalam kondisi “stateless”.
Work permit pada usia 33 dan perjalanan menuju gelar
Berita Terkait
Fawaz akhirnya mendapatkan work permit pada usia 33 tahun. Saat usia tersebut, banyak petinju profesional lain biasanya mendekati masa akhir karier.
Ia kemudian dianggap mengejar ketertinggalan dengan cepat di ring. Setelah beralih ke profesional, ia mengalahkan Junaid Bostan untuk meraih gelar English light-middleweight. Selanjutnya, ia mengalahkan Ishmael Davis untuk menjadi British dan Commonwealth champion.
Dalam dokumenter, ia mengatakan, “Boxing saved me.” Ia juga menyebut, “It’s my addiction. Boxing gave me the feeling that I deserve more.”
Ia menegaskan usaha yang telah ia lakukan, “I’ve worked hard.” Lalu ia bertanya, “When will I get the dues and respect that I deserve?”
Fighting for Freedom mengikuti Fawaz di gym, di rumah bersama keluarganya, serta saat ia menari salsa dalam salah satu sesi rutinnya. Dokumenter itu juga menyoroti bagaimana masa kecilnya membentuk perannya sebagai ayah.
Fawaz menyampaikan, “The only way I can fill the void is by being there for my family and my sons.” Ia menambahkan, “That’s healing.”
Ia memiliki pasangan dan anak-anak yang sama-sama berstatus Inggris. Namun, ia mengatakan otoritas negara masih belum sepenuhnya mengakui kontribusinya. Dalam penuturannya, ia berkata, “I am in prison.”
Ia juga mengatakan, “I’ve been in this country for 24 beautiful years and I’ve never travelled.” Fawaz menggambarkan posisinya seolah dimanfaatkan untuk kebutuhan pihak lain, dengan kalimat, “I was being used. ‘Fight for us… but you’re not British’.”
Ia menegaskan bahwa ia pernah bertarung untuk mereka sebanyak enam kali sebagai amatir, dan “I was bleeding in the ring.” Menurutnya, “They don’t view me as important or someone who is trying to make an honest living.” Ia menutup dengan, “I am a Commonwealth champion who can never take my belt to another country.”
Rute penyelesaian 10 tahun dan dampak tanpa paspor
Menurut laporan tersebut, Fawaz menjalani rute penyelesaian (route to settlement) selama 10 tahun. Ia diperkirakan akan berusia 43 tahun sebelum memenuhi syarat untuk menjadi warga negara Inggris.
Dalam rute ini, seseorang harus menyelesaikan 10 tahun tinggal secara sah sebelum mengajukan indefinite leave to remain. Status tersebut membuat seseorang bisa tinggal di Inggris tanpa batasan keimigrasian. Setelah itu, kewarganegaraan Inggris dapat diajukan jika syarat yang relevan terpenuhi.
Inggris juga memiliki jalur yang lebih singkat, termasuk rute lima tahun untuk mereka yang memenuhi ketentuan pada kategori imigrasi tertentu. Rute yang ditempuh bergantung pada dasar status imigrasi seseorang serta situasi individualnya, termasuk faktor kehidupan keluarga, pekerjaan, lamanya tinggal, dan private life di Inggris.
Namun, masih tidak jelas apakah rute 10 tahun adalah satu-satunya opsi yang tersedia bagi Fawaz, maupun alasan rute tersebut diterapkan dalam kasusnya. Home Office sebelumnya menyebut keputusan menempatkan Fawaz pada rute 10 tahun tidak dibuat oleh departemen mereka.
Akibat tidak memiliki paspor, Fawaz tidak bisa menerima pertandingan potensial yang berlangsung di luar Inggris, termasuk di negara seperti Saudi Arabia atau Amerika Serikat. Meski demikian, ia tetap dapat memanfaatkan peluang tanding di dalam Inggris.
Eddie Hearn menilai hambatan ini merugikan Fawaz secara nyata. Ia berkata, “The government are denying him that opportunity, which is so wrong,” dan menambahkan, “I could get him a big fight in America. I could get him a fight in Saudi.”
Hearn juga menegaskan pesan universal kisah tersebut, “This is a story that resonates in any part of the world.” Ia bertanya, “How can you not be allowed to travel?”
Fawaz sendiri mengatakan bahwa ia merasa peluang untuk menjadi juara dunia seharusnya sudah bisa diraihnya lebih awal. Ia percaya jika mendapatkan paspor pada awal usia 20-an, ia mungkin sudah berada pada level tersebut.
Dokumenter Fighting for Freedom turut mengikat seluruh informasi ini dalam satu narasi: perjalanan karier di ring, kehidupan bersama keluarga, serta hambatan administrasi yang terus menghalangi mobilitasnya. Dengan gelar yang sudah diraih, perjuangan Fawaz kini berpusat pada satu kebutuhan yang belum terpenuhi—paspor yang membuatnya dapat bergerak bebas sebagai atlet, sebagaimana tuntutan karier profesionalnya.












