Bisnis & Ekonomi

Shein Kembali Merugi Menjelang IPO, Tekanan Tarif Impor AS Membebani Bisnis

×

Shein Kembali Merugi Menjelang IPO, Tekanan Tarif Impor AS Membebani Bisnis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Shein Berbalik Rugi Jelang IPO, Bisnis Tertekan Tarif Impor AS

jurnalistik.co.id – Shein mencatat rugi bersih pada kuartal I 2026, tepat ketika perusahaan bersiap melangkah ke penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Hong Kong. Kinerja itu disebut ikut tertekan oleh pencabutan fasilitas bebas bea untuk paket impor bernilai rendah di Amerika Serikat.

Pada periode Januari–Maret 2026, Shein membukukan rugi bersih 99 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,77 triliun. Angka tersebut kontras dengan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya yang masih mencatat laba bersih 395 juta dollar AS atau sekitar Rp 7,08 triliun.

Dokumen pra-IPO menyoroti beban akuntansi sekali jalan

Laporan keuangan pra-IPO yang dirilis pada Minggu (27/7/2026) menggambarkan bisnis Shein menghadapi tekanan di tengah perlambatan pertumbuhan, kenaikan beban operasional, serta pengawasan regulasi yang makin ketat di sejumlah pasar utama. Meski sudah disiapkan sebagai bahan presentasi kepada calon investor menjelang IPO, perusahaan belum mengumumkan rincian seperti jumlah saham yang dilepas, kisaran harga penawaran, jadwal pencatatan, maupun target dana yang ingin dihimpun.

Salah satu faktor yang menonjol dalam kuartal pertama adalah adanya beban akuntansi satu kali dalam jumlah besar. Sebagian besar kerugian kuartal I berasal dari pencatatan beban nilai wajar sebesar 328 juta dollar AS atau sekitar Rp 5,88 triliun, yang berkaitan dengan saham preferen yang dapat dikonversi dan ditebus kembali.

Menurut dokumen tersebut, saham jenis ini dimiliki investor sebelum IPO sehingga nilainya dapat berubah sebelum dikonversi menjadi saham biasa. Penurunan valuasi juga masih membayangi perusahaan, yang sebelumnya mengalami penilaian lebih tinggi pada fase pertumbuhan belanja daring.

Tekanan tarif AS setelah aturan de minimis dicabut

Dalam prospek yang sama, Shein menegaskan bahwa pencabutan aturan de minimis di AS menjadi penyebab utama perlambatan bisnis. Fasilitas itu sebelumnya membebaskan paket impor bernilai di bawah 800 dollar AS dari bea masuk, sehingga perubahan kebijakan mengubah struktur biaya perusahaan.

Setelah fasilitas itu dihapus sejak Mei 2025, produk asal China yang dijual Shein ke pasar AS dikenai tarif antara 10 persen hingga 87,5 persen. Perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi biaya, tetapi juga berimbas pada penjualan Shein di Amerika Serikat.

Shein menyatakan kebijakan tarif tersebut mendorong perusahaan menyiapkan respons komersial. Dalam prospektusnya, perusahaan menulis: “Sebagai tanggapan terhadap peningkatan bea dan pajak, kami sedang mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk menaikkan harga di pasar AS untuk mengimbangi sebagian dari peningkatan biaya,”.

Konstelasi IPO: CSRC menyetujui, rencana New York dan London gagal terwujud

Di sisi pencatatan saham, Shein memperoleh persetujuan dari China Securities Regulatory Commission (CSRC) pada 10 Juli 2026. Persetujuan tersebut membuka jalan bagi Shein untuk melantai di Bursa Hong Kong, setelah rencana IPO di New York dan London tidak terwujud.

Perusahaan juga tercatat menjual produk di sekitar 160 negara. Salah satu rentang harga yang disebut berasal dari penjualan gaun mulai 5 dollar AS atau sekitar Rp 89.610 dan celana jins mulai 10 dollar AS atau sekitar Rp 179.220.

Tekanan terhadap prospek juga tercermin dari target valuasi yang disebut dalam pemberitaan Reuters. Shein sebelumnya disebut membidik valuasi sekitar 40 miliar dollar AS hingga 50 miliar dollar AS atau sekitar Rp 716,88 triliun hingga Rp 896,10 triliun untuk IPO di Hong Kong, meski angka itu jauh lebih rendah dibanding valuasi sekitar 100 miliar dollar AS yang pernah diraih pada putaran pendanaan tahun 2022.

Dokumen pra-IPO menempatkan tantangan tersebut dalam konteks perubahan momentum pasar. Saat lonjakan belanja daring pada masa pandemi mereda, perusahaan menghadapi penyesuaian operasional sekaligus dampak biaya akibat perubahan kebijakan perdagangan, termasuk penghapusan fasilitas de minimis di AS.

Dengan kombinasi rugi kuartalan, beban nilai wajar sekali jalan, serta tekanan tarif impor, Shein kini berada pada fase yang lebih berat menjelang penentuan parameter IPO. Meski begitu, rincian paling krusial—termasuk jumlah saham, kisaran harga, dan target dana—masih belum diumumkan dalam dokumen yang sama.