Bisnis & Ekonomi

Perusahaan mengemas rekrutmen sebagai kompetisi ala X Factor: pelamar naik panggung di hadapan juri

×

Perusahaan mengemas rekrutmen sebagai kompetisi ala X Factor: pelamar naik panggung di hadapan juri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: The firms turning recruitment into X Factor-style competitions

jurnalistik.co.id – Yumi Liberman pernah berdiri di atas panggung di hadapan juri dan audiens yang mencapai 300 orang. Bukan untuk bernyanyi atau memainkan instrumen, melainkan untuk mempresentasikan ide bisnisnya—dengan taruhan mendapatkan pekerjaan penuh waktu.

Peristiwa itu terjadi di London pada 2024, saat Liberman berusia 24 tahun. Ia tampil bersama dua temannya di sebuah auditorium, berharap proposal mereka bisa membawa mereka masuk ke seleksi untuk posisi di perusahaan kosmetik raksasa, L’Oreal.

Liberman menggambarkan suasan kompetisinya seperti tekanan dari olahraga kompetitif yang pernah ia jalani saat kecil. “It reminded me of when I used to do competitive sports growing up and the pressure would get heavy,” katanya, sebelum menambahkan, “But somehow you just get into flow mode.”

Dalam skema Brandstorm, Liberman dan timnya berhasil menembus tahap yang mengantarkan mereka ke final Inggris. Kompetisi internasional yang dijalankan perusahaan asal Prancis ini memberi ruang bagi anak muda untuk menguraikan ide produk sekaligus rancangan bisnis mereka.

Proposal mereka menyoroti aplikasi perawatan rambut. Dari situ, mereka dinobatkan sebagai pemenang di tingkat Inggris, lalu melaju ke final global yang digelar di Paris pada tahun yang sama, di mana mereka meraih peringkat ketiga.

Meski demikian, peluang kerja penuh waktu tidak sepenuhnya terbuka untuk semua tim. Disebutkan bahwa hanya anggota tim yang finis pertama yang otomatis memperoleh pekerjaan penuh waktu, sedangkan Liberman tetap mampu meyakinkan pihak senior melalui penampilannya.

Akibatnya, ia memperoleh tempat dalam program marketing management traineeship, dengan prospek posisi penuh waktu di akhir masa pelatihan.

Kompetisi sebagai strategi perusahaan

Upaya mengemas rekrutmen seperti ajang bertarung ala X Factor ikut mendorong atensi publik dan percakapan seputar perusahaan. Namun, bagi sebagian peserta, pertanyaan yang mengemuka bukan semata tentang peluang menang, melainkan apakah format semacam ini terasa menarik—atau justru tidak adil.

Pada konteks ekonomi global saat ini, tingkat pengangguran pemuda di banyak negara dilaporkan lebih tinggi daripada rata-rata nasional. Di Inggris, angka pengangguran untuk usia muda tercatat 16,2%, dibandingkan 4,9% untuk tingkat keseluruhan.

Dalam kondisi seperti itu, kompetisi bisa menjadi satu bentuk harapan. Program Brandstorm milik L’Oreal, misalnya, menarik banyak pelamar: 380.000 orang mendaftar tahun ini, naik 58% dari 240.000 pada 2025.

Meski demikian, besar kemungkinan mayoritas peserta tidak mendapatkan apa pun. Untuk mengikuti kompetisi saja, kebutuhan untuk melewati tahapan dan menampilkan kemampuan di ruang yang kompetitif tetap menyisakan risiko bagi yang tidak terpilih.

L’Oreal menyampaikan kepada BBC bahwa kompetisinya berjalan baik karena membantu menarik ragam calon perekrutan yang lebih luas. Perusahaan menyebut termasuk mereka yang mungkin tidak akan terpikir untuk melamar pekerjaan di perusahaan tersebut.

Suara kritik: tekanan, waktu, dan ketidaksetaraan

Di sisi lain, Liberman mengaku menikmati struktur kompetisi, sementara pihak lain yang pernah mengalami seleksi berbasis kompetisi justru lebih kritis. Melissa Alcruz, yang kini bekerja di bidang pemasaran untuk perusahaan properti di New York, pernah menjalani pola serupa saat masih bekerja di MTV.

Menurut Alcruz, di MTV promosi diperoleh melalui kompetisi internal yang ia sebut “bake-off”. Para kandidat diminta menyiapkan rancangan sponsorship dan kampanye pemasaran, lalu mempresentasikannya di hadapan ruangan berisi tujuh orang.

“This is intimidating, even for a seasoned professional. I ultimately got the job, but even though I won I disliked the process,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa meskipun berhasil meraih posisi tersebut, proses itu tetap tidak ia sukai.

Alcruz juga menyoroti beban yang datang di luar pekerjaan utama. Ia sudah memegang peran penuh waktu yang menuntut, namun ketika kompetisi berjalan, ia “expected to complete several substantial projects” di waktu luang.

Perusahaan induk MTV saat ini, Paramount Skydance Corporation, dimintai tanggapan. Dalam narasi yang sama, mantan konsultan rekrutmen Katrina Collier—kini menjadi penulis, pembicara, dan pelatih rekruter—mempertanyakan dampak format yang menuntut kandidat mengorbankan banyak waktu secara gratis.

Collier khawatir seleksi berbasis kompetisi dapat menciptakan “economic discrimination”. Ia menegaskan bahwa tidak semua orang punya fleksibilitas waktu “possibly months” untuk berpartisipasi dalam tantangan guna meraih salah satu dari jumlah peran yang terbatas.

Ia mempertanyakan, “Does that mean only people from financially strong backgrounds proceed? Is that leaving talented applicants who don’t have the bank of mum or dad, for example, unable to take part?”

Siapa yang lebih diuntungkan dalam format kompetisi

Jamie Kohn, senior director untuk talent acquisition di perusahaan riset Gartner, berpendapat format rekrutmen berbasis kompetisi tampaknya akan terus bertahan. Menurutnya, majikan merasa lebih mudah menilai kandidat dibandingkan metode wawancara tradisional.

Namun, ia menyepakati bahwa organisasi harus berhati-hati pada seberapa banyak yang diminta dari pencari kerja. “And they should focus on providing feedback… so candidates build their capabilities even if they are not selected,” kata Kohn.

Sementara itu, psikolog Amanda Potter menyoroti aspek psikologis dari desain kompetisi. Ia mengkhawatirkan acara seleksi semacam ini cenderung menguntungkan individu yang ekstrover, sehingga tipe kepribadian yang lebih pendiam berpotensi tertinggal.

“Does this approach encourage all types of people to apply, or would certain types of people avoid these assessment methods?” ujarnya. Ia juga menambahkan kemungkinan dampak lanjutan: “This could result in an organisation [ending up] full of ambitious, competitive people who want to win, possibly to the detriment of others.”

Pengalaman Liberman: bukan semata soal tekanan

Meski kritik bermunculan, Liberman menawarkan sudut pandang berbeda. Ia hidup dengan disleksia berat, dan berpendapat proses rekrutmen yang lazim beserta asesmennya justru akan menjadi tantangan yang lebih besar baginya.

Ia juga menganggap format ini membantunya menghindari periode pengangguran setelah menyelesaikan kuliah. Alih-alih berhenti di tengah jalan, ia melangkah langsung menuju bidang yang ia pilih.

Pola yang ia jalani tidak selalu sama dengan yang dialami teman-temannya. Liberman mengatakan, “I have a lot of friends coming from extremely reputable backgrounds, extremely educated people who have applied to over 1,000 jobs, and have been jobless.”

Dengan demikian, kisah Liberman memperlihatkan bahwa kompetisi rekrutmen bisa memiliki daya tarik sekaligus memunculkan pertanyaan baru. Bagi sebagian orang, formatnya membuka pintu masuk yang lebih cepat. Namun bagi yang lain, struktur kompetisi juga menimbulkan kekhawatiran soal waktu, akses, dan siapa yang sebenarnya lebih siap—atau lebih mampu—untuk bersaing.