Hukum & Kriminal

Patroli Dialogis Polairud Polda Gorontalo di Tanjung Kramat: Menyimak Keluhan Nelayan

×

Patroli Dialogis Polairud Polda Gorontalo di Tanjung Kramat: Menyimak Keluhan Nelayan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bukan Sekadar Patroli, Polairud Polda Gorontalo Turun ke Pesisir Tanjung Kramat, Dengarkan Suara Hati Nelayan

jurnalistik.co.id – Kehadiran polisi di pesisir tidak berhenti pada upaya menjaga keamanan. Patroli dialogis yang dilakukan Ditpolairud Polda Gorontalo juga menjadi ruang untuk mendengar kebutuhan langsung warga, khususnya para nelayan.

Kegiatan itu berlangsung di kawasan pesisir Kelurahan Tanjung Kramat, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo, pada Sabtu (24/10/2026). Tim turun ke lokasi sejak pukul 09.00 WITA untuk berdialog saat masyarakat menjalankan aktivitas harian.

Di tengah suasana akrab, personel patroli membuka jalur komunikasi sehingga warga dapat menyampaikan keluhan, harapan, serta berbagai persoalan yang mereka hadapi. Pendekatan tersebut memungkinkan aspirasi tersampaikan apa adanya dari lapangan.

Pelaksanaan patroli dialogis melibatkan enam personel Ditpolairud. Selain itu, kegiatan juga diikuti tiga personel KP.XXIX-1001/TONGO, guna memperkuat kesiapan pengawalan dan koordinasi di wilayah perairan.

Direktur Polairud Polda Gorontalo, Kombes Pol Devy Firmansyah, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa patroli bukan sekadar aktivitas rutin. Menurutnya, komunikasi langsung dan cara yang humanis dibutuhkan untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap Polri.

“Bagi kami, patroli bukan hanya tentang kehadiran personel di lapangan, tetapi juga tentang bagaimana kami dapat mendengar langsung apa yang dirasakan dan dibutuhkan masyarakat. Aspirasi warga pesisir sangat penting karena dari komunikasi inilah kita dapat memahami persoalan yang mereka hadapi dan mengupayakan koordinasi dengan pihak terkait,” tegas Kombes Pol Devy Firmansyah.

Aspirasi warga yang disampaikan

Dalam dialog bersama, masyarakat Kelurahan Tanjung Kramat menyampaikan tiga aspirasi utama. Ketiganya berkaitan dengan kesejahteraan keluarga nelayan, keselamatan wilayah pesisir, serta kebutuhan layanan yang berdampak pada kehidupan sehari-hari.

Keluhan pertama datang terkait berhentinya layanan bus sekolah gratis yang sudah berlangsung sekitar tiga bulan. Warga mengungkapkan kondisi itu menyulitkan sejumlah orang tua, terutama keluarga nelayan, karena harus bekerja sejak pagi sementara waktu untuk mengantar anak ke sekolah menjadi terbatas.

Warga berharap pemerintah memberikan perhatian agar layanan transportasi pendidikan dapat kembali diaktifkan. Menanggapi hal tersebut, Ditpolairud menampung aspirasi warga untuk dikoordinasikan dan diteruskan kepada instansi terkait sesuai kewenangannya.

Aspirasi kedua menyangkut penyaluran bantuan pemerintah bagi nelayan. Masyarakat meminta agar prosesnya berjalan adil, transparan, dan mengikuti persyaratan yang berlaku.

Dalam penyampaian mereka, warga juga menyampaikan kekhawatiran adanya potensi penerima yang lebih diutamakan karena kedekatan dengan pihak tertentu. Ditpolairud kemudian mengapresiasi kepedulian tersebut dan menyediakan ruang bagi warga untuk menyampaikan informasi awal yang dapat dipertanggungjawabkan.

Aspirasi maupun dugaan penyimpangan yang disampaikan warga akan diteruskan kepada instansi berwenang agar ditangani sesuai ketentuan hukum. Langkah ini dimaksudkan agar masukan masyarakat tidak berhenti di forum dialog, tetapi berlanjut pada proses yang tepat.

Aspirasi ketiga berkaitan dengan pembangunan tanggul pemecah ombak. Warga menilai kebutuhan itu penting mengingat perubahan cuaca dan gelombang laut yang kerap memengaruhi aktivitas di wilayah pesisir.

Mereka khawatir, terutama saat musim angin barat, gelombang tinggi dapat mencapai permukiman. Kondisi tersebut dikhawatirkan merusak rumah sekaligus mengancam keselamatan keluarga.

Ditpolairud menampung aspirasi tersebut untuk disampaikan kepada instansi terkait agar memperoleh perhatian dan tindak lanjut. Masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca dan gelombang laut guna menekan risiko yang dapat membahayakan.

Komitmen membangun komunikasi yang berkelanjutan

Kombes Pol Devy Firmansyah menyatakan bahwa persoalan yang disampaikan warga merupakan masukan berharga. Ia menekankan bahwa tidak semua urusan berada dalam kewenangan kepolisian, namun Polri dapat berperan sebagai penghubung komunikasi dengan pihak yang memiliki wewenang.

“Kami memahami bahwa masyarakat pesisir memiliki kebutuhan dan tantangan tersendiri, mulai dari pendidikan anak, kesejahteraan nelayan, hingga perlindungan permukiman dari ancaman gelombang laut. Kami akan menampung aspirasi yang disampaikan dan meneruskannya kepada pihak terkait. Harapan kami, komunikasi seperti ini terus terjalin sehingga masyarakat merasa didengar dan mendapatkan pelayanan yang baik,” ungkapnya.

Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman dan berjalan lancar. Masyarakat juga memberikan respons positif, dan tidak ditemukan peristiwa menonjol dalam pelaksanaan patroli dialogis tersebut.

Patroli Dialogis Polisi Perairan di Tanjung Kramat menunjukkan bahwa layanan kepolisian dapat diwujudkan melalui langkah sederhana namun bermakna. Hadir di tengah warga, menyapa dengan ramah, mendengarkan keluhan, serta menjembatani aspirasi menjadi cara yang memperkuat hubungan Polri dengan masyarakat.

Ditpolairud Polda Gorontalo berkomitmen untuk terus memperkuat komunikasi dengan komunitas pesisir. Upaya ini menjadi bagian dari menjaga keamanan dan ketertiban sekaligus membangun hubungan yang harmonis antara Polri dan warga.