jurnalistik.co.id – Keluarga Oliver McGowan mengaku sangat terganggu setelah mengetahui catatan medisnya diduga diakses tanpa izin, bahkan bertahun-tahun setelah ia meninggal pada 2016 di Bristol. Paula McGowan, ibunda remaja penyandang autisme itu, mengatakan ia baru diberi informasi bahwa akses semacam itu bisa terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Paula McGowan menyatakan ia “deeply concerned and hurt” usai mendapat kabar bahwa setidaknya lima anggota staf di Bristol Foundation NHS Trust mungkin mengakses rekam medis putranya secara tidak semestinya. Informasi tersebut disampaikan kepadanya sebagai sesuatu yang dapat terjadi tanpa izin, terakhir kali disebut masih berlangsung hingga tahun ini.
Menurut keterangan yang diterimanya, tiga staf keperawatan kini menjalani investigasi formal. Sementara itu, seorang dokter yang sudah tidak bekerja di trust tersebut juga melakukan pelaporan diri ke General Medical Council (GMC), dan satu anggota staf lainnya sedang ditinjau dalam proses terpisah.
Trust menyampaikan permintaan maaf atas tekanan serta kecemasan yang mungkin timbul. Bristol Foundation NHS Trust juga menyatakan telah merujuk secara sukarela kasus ini kepada Information Commissioner’s Office (ICO).
Kasus ini muncul sebagai bagian dari rangkaian kekhawatiran bahwa staf layanan kesehatan dapat mengakses data pasien tanpa alasan profesional yang sah. Dalam pengingat kebijakan tahun ini, Kepala NHS England, Sir Jim Mackey, disebut mengeluarkan “stark warning” bahwa pelanggaran dapat berujung pemecatan bahkan tuntutan pidana.
Peringatan itu juga merujuk pada sejumlah peristiwa berprofil tinggi yang pernah dibahas publik. Di antaranya, kasus yang menyangkut korban serangan Nottingham dan Southport, serta seorang anak yang mengalami cedera di kandang buaya di Cambridgeshire.
Di sisi lain, hasil investigasi yang dilakukan untuk Health Services Journal menyebut sedikitnya 214 staf NHS kehilangan pekerjaan dan sekitar 2.000 orang dikenai sanksi karena menyontek data pasien sensitif selama lima tahun terakhir.
Penyelidikan terkait akses setelah Oliver meninggal
Oliver McGowan, yang memiliki disabilitas belajar ringan dan epilepsi, meninggal pada 2016 di Southmead Hospital, Bristol. Ia diberi obat antipsikotik, sementara keluarganya berulang kali mengingatkan bahwa obat tersebut tidak seharusnya diberikan.
Setelah Paula McGowan meminta informasi mengenai catatan medis putranya, ia diberi tahu bahwa sejak Oliver meninggal, data tersebut telah diakses oleh 38 orang. Dari akses itu, tercatat 637 item dilihat dan 67 cetakan dilakukan.
Paula juga diberi penjelasan bahwa sebagian besar akses dinilai berkaitan dengan kebutuhan yang pantas, termasuk keluhan, proses hukum, serta inkuiri koroner terkait kematian Oliver. Namun, tiga staf keperawatan yang tidak terlibat dalam perawatan Oliver disebut kini berada dalam investigasi formal karena penyelidikan awal tidak menemukan bukti bahwa mereka memiliki alasan yang sah untuk melihat rekam tersebut.
Menurut Paula, informasi yang ia terima juga memuat bahwa salah satu perawat ingin melihat berkas karena terdapat “general interest” pada obat antipsikotik serta perawatan pasien dengan disabilitas belajar.
Trust juga disebut menelusuri 13 kasus lain yang melibatkan staf lama, termasuk dokter, perawat, dan pekerja administrasi. Tujuan penelusuran tersebut adalah memastikan apakah akses pada masing-masing kasus dilakukan secara semestinya atau tidak.
Dalam laporan yang ia terima, satu dokter yang sudah tidak bekerja di trust itu telah lebih dulu melakukan rujukan diri ke regulator medis, GMC, setelah dihubungi pihak rumah sakit.
Berita Terkait
Respons keluarga dan peringatan soal kontrol sistem
Paula McGowan mengatakan investigasi itu masih berlangsung ketika ia menyampaikan responsnya kepada BBC. Ia menyebut dirinya “deeply hurt, deeply disappointed” setelah diberi tahu tentang penyelidikan.
Ia menambahkan, “I’ve always been open and honest but there are deeply personal things in Oliver’s [medical] notes that I don’t tell anybody,” sebelum menegaskan bahwa kematian Oliver berhubungan dengan hal-hal yang sangat pribadi. Paula juga berkata, “He died in pain and it’s not pleasant if that side of Oliver’s death has been accessed.”
Suaminya, Tom McGowan, menilai risiko akses tanpa izin meningkat seiring bertambahnya informasi yang disimpan secara digital dan berbasis layanan cloud. Ia menyampaikan, “It’s a weakness in the system and action needs to be taken now to tighten up controls,” yang menggambarkan kebutuhan perbaikan pada pengendalian sistem.
Usai kematian Oliver, Paula menjadi figur kampanye keselamatan pasien dan pada 2021 ia menerima OBE atas kontribusinya dalam upaya meningkatkan layanan bagi penyandang autisme dan disabilitas belajar.
Janji investigasi dan batasan akses data medis
Bristol NHS Foundation Trust menegaskan pihaknya sedang melakukan “thorough investigation”. Trust juga menyatakan “inappropriate to reach conclusions before those enquiries are complete,” sehingga pihaknya tidak akan menarik simpulan sebelum proses penelusuran selesai.
Prof Steve Hams, chief nursing and improvement officer trust tersebut, menyampaikan bahwa “Every patient and family has the right to expect that their personal information will be treated with care, respect and confidentiality,” dan menegaskan setiap kekhawatiran mengenai akses tanpa alasan yang sah dipandang sangat serius.
Trust juga menyatakan, apabila ditemukan adanya pelanggaran oleh staf, maka “appropriate action will be taken through the relevant processes”.
Dalam penjelasan konteks, disebutkan bahwa rekam medis NHS memuat informasi personal yang sangat sensitif. Data tersebut mencakup hasil pemeriksaan dan ringkasan pemulangan rumah sakit, hingga detail resep dan obat yang diberikan.
Selain informasi yang dapat dilihat pasien melalui aplikasi NHS, rekam medis juga dapat memuat perhatian terkait perlindungan, penilaian risiko, korespondensi antar-profesional kesehatan, serta catatan konsultasi yang lebih detail. Tidak ada satu sistem rekam medis elektronik yang berlaku di seluruh NHS, sehingga tiap organisasi seperti praktik GP, rumah sakit, dan klinik spesialis mengelola catatan mereka sendiri.
Dalam skema akses tersebut, hak melihat informasi ditentukan oleh otorisasi yang sesuai. Dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lain kerap membutuhkan akses cepat, khususnya dalam situasi darurat.
Namun, mereka hanya seharusnya mengakses informasi rahasia ketika ada alasan kerja yang sah serta otorisasi yang tepat. Disebutkan pula bahwa sistem IT menyimpan jejak audit, sehingga seharusnya dapat menunjukkan dengan jelas siapa mengakses catatan pasien dan kapan akses tersebut dilakukan.
NHS England menyatakan bahwa setiap kejadian staf melihat catatan tanpa alasan yang valid adalah “wholly unacceptable, a disgraceful breach of patients’ trust and against the law”. Seorang juru bicara menambahkan bahwa pelanggaran dapat berujung tindakan disipliner, termasuk kehilangan pekerjaan dan potensi penuntutan pidana.












