Teknologi

DJI Luncurkan Mic Mini 2S Resmi, Rekaman Tetap Aman Saat Koneksi Wireless Kamera Terganggu

×

DJI Luncurkan Mic Mini 2S Resmi, Rekaman Tetap Aman Saat Koneksi Wireless Kamera Terganggu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: DJI Rilis Mic Mini 2S Resmi, Bisa Amankan Audio Meski Sambungan Terputus

jurnalistik.co.id – DJI resmi meluncurkan mikrofon nirkabel terbarunya, DJI Mic Mini 2S, di pasar China pada Minggu (5/7/2026). Perangkat ini hadir sebagai versi yang lebih “pro” dibanding DJI Mic Mini 2 yang sebelumnya dirilis pada April lalu.

Dalam peluncurannya, DJI menekankan peningkatan yang membuat rekaman lebih terjaga ketika penggunaan wireless menghadapi kendala, termasuk saat tautan ke kamera putus atau terganggu. Mic Mini 2S dibekali memori internal yang memungkinkan suara tetap tersimpan dari dalam perangkat.

Rekaman internal 32-bit float untuk rentang dinamis lebih luas

Fitur utama Mic Mini 2S adalah dukungan rekaman internal 32-bit floating point. DJI membedakan teknologi ini dari format 24-bit pada Mic Mini 2, karena 32-bit float disebut mampu menangkap rentang dinamis yang lebih lebar.

Dengan karakter tersebut, audio diklaim tetap aman dari distorsi saat muncul suara keras secara tiba-tiba, sekaligus tetap dapat merekam suara pelan dengan baik. DJI juga menyebut fitur ini memberi fleksibilitas saat proses editing karena level suara masih bisa disesuaikan tanpa banyak menurunkan kualitas rekaman.

Selain itu, perangkat menyediakan opsi penyimpanan audio dalam format mentah (RAW) maupun format yang sudah diproses sehingga siap digunakan. Pilihan ini ditujukan untuk dua kebutuhan workflow, yakni produksi yang butuh kontrol maksimal maupun produksi yang ingin langsung pakai hasilnya.

Memori internal 14,5 GB: hingga 28 jam lewat loop recording

Peningkatan terbesar pada Mic Mini 2S berada pada memori internal di bagian transmitter sebesar 14,5 GB. Kapasitas tersebut cukup untuk menyimpan hingga 28 jam rekaman secara langsung melalui fitur loop recording.

Keberadaan memori internal ini menjadi kunci agar audio tidak hilang ketika koneksi wireless ke kamera mengalami gangguan. Dengan kata lain, selama transmitter masih menyimpan rekaman, hasil suara tetap dapat diperoleh meski link wireless ke receiver terganggu.

Di sisi ukuran dan bobot, transmitter juga dibuat tetap ringan. DJI menyebut bobotnya hanya bertambah sekitar satu gram menjadi 12 gram, sehingga perangkat masih dibayangkan praktis untuk penggunaan mobile.

Selain berfungsi sebagai mikrofon nirkabel, transmitter juga dapat dipakai sebagai voice recorder mandiri tanpa harus terhubung ke receiver. Ini membuka kemungkinan penggunaan tanpa konfigurasi wireless yang rumit, selama kebutuhan utamanya adalah merekam suara.

Receiver lebih fleksibel: hingga empat transmitter dan pilihan mode audio

DJI juga meningkatkan kemampuan receiver. Pada Mic Mini 2, perangkat disebut hanya mendukung dua transmitter, sementara Mic Mini 2S dapat dipasangkan dengan empat transmitter sekaligus.

Dalam pengaturan output audio, pengguna dapat memilih format mono, stereo, maupun quad track. Opsi quad track terutama membantu proses pascaproduksi karena masing-masing sumber dapat ditangani dalam jalur yang terpisah.

DjI menyoroti bahwa skema quad track berguna untuk berbagai produksi, mulai dari podcast, diskusi, wawancara dengan banyak narasumber, hingga pembuatan video yang memerlukan beberapa sumber suara sekaligus. Dengan begitu, produksi yang melibatkan lebih dari satu pembicara dapat dikelola lebih rapi saat masuk tahap editing.

Secara keseluruhan, Mic Mini 2S memadukan rekaman internal 32-bit float, memori 14,5 GB yang mendukung loop hingga 28 jam, serta peningkatan dukungan transmitter pada receiver. Kombinasi tersebut diarahkan untuk mengurangi risiko hilangnya audio dan memberikan ruang lebih luas bagi pengolahan suara setelah pengambilan gambar.

Untuk skenario produksi bergerak, kombinasi memori internal dan rekaman 32-bit float dapat berfungsi sebagai “penyangga” ketika kondisi wireless tidak ideal. Ketika sinyal ke kamera terganggu, perangkat tetap menyimpan jejak suara di dalam transmitter, sehingga hasil pengambilan tidak langsung putus di tengah kebutuhan liputan.

Dari sisi pengolahan, pilihan output RAW dan versi yang sudah diproses membantu menyesuaikan tingkat intervensi selama pascaproduksi. Jika ingin mengatur ulang detail suara secara lebih leluasa, pengguna bisa mengandalkan rekaman mentah; sementara untuk kebutuhan yang ingin cepat dipakai, format yang sudah diproses bisa mempercepat alur kerja tanpa mengubah tujuan rekaman.

Di sisi receiver, ketersediaan mode mono, stereo, hingga quad track juga memberi ruang bagi produksi dengan variasi jumlah pembicara. Skema quad track khususnya relevan ketika tiap sumber suara ingin dipisahkan sejak awal, agar penyesuaian level dan penataan jalur audio saat editing menjadi lebih terstruktur.