jurnalistik.co.id – Inflasi inti Jepang kembali menguat pada Juni 2026 menjadi 1,6 persen secara year on year (yoy), setelah sempat melandai selama dua bulan sebelumnya.
Kenaikan itu merujuk pada data indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) inti yang tidak memasukkan harga pangan segar, yang dirilis oleh Kementerian Dalam Negeri Jepang pada Jumat (24/7/2026) dan dilaporkan Japan Times.
Kombinasi kenaikan pada bulan Juni tersebut dinilai memperkuat ruang bagi Bank of Japan (BOJ) untuk kembali menaikkan suku bunga acuan di tahun ini, meski pertemuan kebijakan akhir Juli 2026 masih diperkirakan menjadi momen penahanan.
BOJ disebut masih akan menahan suku bunga pada rapat kebijakan yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Juli 2026. Pasalnya, bank sentral dinilai ingin mengevaluasi dampak dari kenaikan suku bunga sebelumnya sebelum mengambil langkah lanjutan.
Inflasi inti tetap di bawah target BOJ
Meskipun menguat, inflasi inti Jepang masih berada di bawah target BOJ sebesar 2 persen untuk bulan kelima berturut-turut.
Dalam rilis tersebut, inflasi umum tercatat sebesar 1,7 persen, sementara inflasi yang mengecualikan harga pangan segar dan energi juga berada di level 1,7 persen. Dengan demikian, tekanan harga yang lebih mendasar tetap menjadi perhatian dalam penilaian kebijakan.
Kenaikan inflasi inti pada Juni terutama didorong oleh biaya energi. Walau harga energi masih mengalami penurunan karena adanya subsidi pemerintah, laju penurunannya berjalan lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya.
Selain energi, kenaikan turut ditopang oleh harga barang tahan lama serta biaya layanan kesehatan. Sementara itu, harga jasa—yang juga menjadi salah satu indikator penting untuk menilai keberlanjutan tekanan inflasi—naik 1 persen secara tahunan dan tidak berubah dibanding bulan sebelumnya.
Berita Terkait
- Petrosea (PTRO) Perbesar Kepemilikan di Singaraja Putra lewat Penyertaan Modal Rp 1,19 T
- Diskon Tambah Daya PLN 50 Persen Masih Berlaku: Syarat, Biaya Terbaru, dan Klaim Voucher PLN Mobile (hingga 27 Juli 2026)
- KAI Properti Lanjut Renovasi Gudang Stasiun Jakarta Gudang, Perkuat Operasi Logistik Kereta Barang
Pangan melambat, tapi komponen lain tetap naik
Di sisi pangan, kenaikan harga untuk komoditas di luar kelompok pangan segar tercatat sebagai yang paling lambat dalam hampir dua tahun terakhir.
Harga beras bahkan turun 8,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang menjadi penurunan terdalam sejak 2015. Kondisi itu muncul setelah beras sempat melonjak sekitar 100 persen setahun sebelumnya dan menjadi salah satu pendorong utama inflasi.
Meski begitu, biaya makan di luar rumah terus meningkat secara stabil. Pola ini mencerminkan dampak pelemahan yen terhadap harga barang impor yang kemudian ikut terbawa pada biaya konsumsi.
Dengan komposisi tersebut, data inflasi dinilai memperkuat argumentasi BOJ untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya. BOJ pada bulan lalu menaikkan suku bunga acuan ke level tertinggi sejak 1995, sehingga arah kebijakan setelah langkah tersebut menjadi fokus pelaku pasar.
Namun, pasar secara luas masih memperkirakan BOJ akan mempertahankan suku bunga pada rapat kebijakan berikutnya, yang dijadwalkan pada 31 Juli 2026. Evaluasi dampak kenaikan sebelumnya dipandang perlu dilakukan terlebih dulu sebelum memutuskan langkah berikutnya.
Gambaran ekonomi tetap menjadi bahan pertimbangan
Selain dinamika harga, kondisi ekonomi Jepang juga ikut menjadi konteks pembacaan kebijakan. Ekonomi Jepang turun 1,8 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal III-2025, dengan penurunan yang lebih kecil dari perkiraan.
Pada periode itu, konsumsi pemerintah dan swasta disebut membantu menahan pelemahan. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan 1,4 persen pada Mei 2026, serta sejalan dengan perkiraan ekonom yang disurvei Bloomberg.
Dengan inflasi inti yang kembali naik namun masih berada di bawah target 2 persen, ruang diskusi bagi BOJ tampaknya terbuka, sementara keputusan pada akhir Juli tetap berpotensi menjadi langkah menunggu—untuk memastikan efek kebijakan terdahulu berjalan sesuai ekspektasi.












