jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah di pasar spot pada Kamis (23/7/2026) ditutup melemah. Rupiah terdepresiasi 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp 17.936 per dollar AS, setelah sebelumnya sempat menguat tipis saat pembukaan.
Di awal perdagangan, rupiah berada pada posisi Rp 17.914 per dollar AS, atau menguat 0,02 persen dibanding penutupan hari sebelumnya di Rp 17.917 per dollar AS. Namun, pergerakan kemudian berbalik sehingga rupiah menutup sesi dengan tekanan ke bawah.
Perubahan sentimen juga terlihat pada pasar global. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dollar AS (DXY) melemah 0,06 persen ke area 101,069, sedangkan pada perdagangan sebelumnya indeks ini ditutup di posisi 101,125.
Di dalam negeri, kondisi volatilitas rupiah berjalan beriringan dengan kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75 persen. Sejak Mei 2026, BI telah menaikkan BI Rate secara kumulatif sebesar 100 basis poin hingga mencapai level tersebut.
Kenaikan suku bunga acuan itu tidak berdiri sendiri. Rangkaian kebijakan lain menyertai langkah tersebut, mulai dari intervensi di pasar valuta asing, peningkatan imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga pemberian insentif bagi investor asing.
Meski demikian, tekanan pada rupiah tetap berlangsung. Hingga pertengahan Juli 2026, mata uang Garuda sempat melemah ke level Rp 18.060 per dollar AS, dengan pelemahan sekitar 2,09 persen secara bulanan dan 7,29 persen sejak awal tahun.
Kenaikan BI Rate tidak otomatis mengangkat rupiah
Secara teori, kenaikan suku bunga acuan membuat imbal hasil instrumen keuangan domestik menjadi lebih menarik dibandingkan negara lain. Dalam kondisi seperti itu, diharapkan arus dana dapat beralih dan mendukung stabilitas nilai tukar.
Berita Terkait
Namun, menurut analisis Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), efek dari kenaikan suku bunga belum cukup kuat untuk mengimbangi tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri. Dengan kata lain, meskipun daya tarik aset domestik meningkat, kebutuhan valas tetap menjadi faktor penekan.
Dalam pengamatan LPEM FEB UI, peningkatan imbal hasil memang terlihat dari respons pasar obligasi pemerintah. Selanjutnya, arus masuk portofolio asing membaik pada periode 15 Juni hingga 15 Juli 2026 dengan nilai bersih mencapai 700 juta dollar AS.
Permintaan valas domestik masih lebih dominan
Temuan tersebut menjelaskan mengapa rupiah tetap bergerak melemah meskipun terdapat perbaikan pada arus portofolio. Jika permintaan valuta asing di pasar domestik lebih tinggi dibandingkan dukungan yang datang dari masuknya dana portofolio, tekanan pada rupiah bisa tetap berlanjut.
Dengan kerangka itu, kenaikan BI Rate yang meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik dipandang belum mampu menjadi penyeimbang utama. Keputusan dan kombinasi kebijakan tetap penting, tetapi pada periode yang sama, faktor permintaan valas domestik menjadi penentu yang membuat rupiah tak kunjung menguat secara signifikan.
Meskipun pelemahan indeks dollar AS terlihat pada sesi tersebut, respons rupiah tidak bergerak searah secara langsung. Rupiah justru menunjukkan kecenderungan menutup perdagangan dengan tekanan ke bawah, yang memperlihatkan bahwa faktor eksternal yang hanya melemah tipis belum cukup untuk meredam dorongan jual pada pasar valas.
Menurut penjelasan LPEM FEB UI, kenaikan imbal hasil yang muncul di pasar obligasi pemerintah memang menjadi sinyal positif. Namun, sinyal itu bertemu dengan kondisi ketika kebutuhan valuta asing di pasar domestik tetap tinggi. Akibatnya, efek kenaikan suku bunga lebih banyak bekerja sebagai penguatan daya tarik aset, tetapi belum menjadi penetral utama terhadap permintaan valas.
Perbaikan arus portofolio juga sempat terukur, dengan nilai bersih masuk yang mencapai 700 juta dollar AS pada periode 15 Juni sampai 15 Juli 2026. Meski begitu, ketika dukungan dana dari portofolio tidak melampaui besarnya permintaan valuta asing, tekanan tetap akan tersisa. Kerangka ini selaras dengan gambaran pelemahan rupiah yang sempat menyentuh sekitar Rp 18.060 per dollar AS pada pertengahan Juli 2026.












