jurnalistik.co.id – Investasi sektor besi dan baja pada kuartal II 2026 melambat tajam, mencerminkan penahanan ekspansi industri di tengah prospek paruh kedua tahun ini yang masih belum sepenuhnya pulih.
Realisasi investasi sektor besi dan baja pada periode tersebut tercatat mencapai Rp 13,2 triliun. Angka ini turun 22,35% dibanding kuartal I 2026 yang sebesar Rp 17 triliun.
Melambatnya realisasi investasi menjadi sinyal kuat bagi pelaku usaha bahwa rencana ekspansi belum bergerak agresif. Selain itu, permintaan baja dinilai belum kembali pada kondisi yang diharapkan, sehingga pelaku industri memilih bersikap lebih berhati-hati.
Menurut data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, perlambatan ini bertepatan dengan masa ketika industri masih menunggu arah yang lebih jelas untuk permintaan. Kondisi tersebut kemudian berimbas pada cara emiten menyusun rencana operasional sampai beberapa kuartal ke depan.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai penurunan investasi dapat dimaknai sebagai refleksi dari prospek permintaan baja yang masih lemah. Ia menyebut bahwa kualitas struktur biaya dan karakter sumber energi emiten akan menentukan posisi mereka ketika siklus berjalan.
“Emiten dengan struktur biaya efisien dan eksposur gas dominan berpeluang paling unggul,” ujar Wafi pada Rabu (22/7/2026).
Pendapat itu sejalan dengan pandangan Ekky Topan dari Infovesta Utama yang menekankan bahwa perlambatan investasi menunjukkan industri masih menahan langkah ekspansi. Ia mengaitkannya dengan utilisasi pabrik yang belum optimal, persaingan dari produk baja impor yang harganya lebih murah, serta permintaan dari sektor konstruksi dan manufaktur yang belum kembali menguat.
Meski investasi melambat, Ekky menilai penurunan tersebut tidak otomatis terlihat pada kinerja keuangan emiten dalam satu kuartal. Dalam jangka pendek, kinerja perusahaan masih lebih banyak dipengaruhi oleh volume penjualan, harga jual baja, biaya bahan baku dan energi, serta pergerakan nilai tukar rupiah.
Dampak perlambatan investasi, lanjutnya, baru berpotensi terasa lebih besar apabila kondisi tersebut berlanjut. Jika penurunan investasi beriringan dengan turunnya pesanan serta permintaan baja pada beberapa kuartal mendatang, tekanan pada kinerja emiten bisa semakin nyata.
Potensi pemulihan pada semester II
Berita Terkait
Di sisi lain, prospek industri baja masih menyisakan ruang untuk membaik. Ekky dan Wafi sama-sama menyoroti bahwa percepatan pembangunan infrastruktur dan penguatan aktivitas di berbagai sektor dapat menjadi katalis permintaan.
Wafi menyebut sumber permintaan yang mungkin muncul antara lain dari percepatan pembangunan infrastruktur, kawasan industri, proyek hilirisasi, industri otomotif, sektor energi, smelter, hingga manufaktur. Aktivitas tersebut dinilai dapat membantu memperbesar serapan baja domestik ketika proyek bergerak lebih cepat.
Selain faktor proyek, dinamika harga juga berpeluang memberi dorongan bagi emiten. Wafi memperkirakan reli harga hot rolled coil (HRC) dapat mendorong kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) emiten baja hingga akhir 2026.
Lebih lanjut, penurunan harga gas juga dipandang dapat membantu menekan biaya energi. Jika biaya energi terkendali, margin perusahaan berpeluang membaik meski investasi pada awal tahun masih menunjukkan perlambatan.
Upaya peningkatan serapan anggaran pemerintah dan pelaksanaan proyek strategis nasional (PSN) juga disebut dapat turut mengerek konsumsi baja di dalam negeri. Dalam kerangka ini, pergeseran dari penundaan ekspansi menuju akselerasi proyek menjadi hal yang patut dicermati untuk arah permintaan.
Wafi menambahkan bahwa pemerintah perlu memperkuat perlindungan industri melalui kebijakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD). Tujuannya adalah menahan laju baja impor yang berharga murah agar daya saing produsen domestik tidak makin tertekan.
Dalam kondisi tersebut, perusahaan yang mampu menjaga efisiensi biaya diharapkan memiliki keunggulan. Wafi menilai optimalisasi bauran energi serta pengembangan produk baja bernilai tambah menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing emiten.
Bagi pilihan investasi, Wafi menjagokan saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Rekomendasi itu khususnya relevan apabila reli harga HRC terus berlanjut dan harga gas mengalami penurunan.
Adapun saham PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) dinilai lebih defensif. Penilaiannya didasarkan pada fokus bisnis perusahaan yang berorientasi pada pipa baja untuk kebutuhan konstruksi, sehingga profil pendapatannya cenderung lebih tahan terhadap fluktuasi siklus harga dan permintaan dibanding emiten yang lebih bergantung pada komoditas yang sama.
Dengan demikian, meski investasi sektor besi dan baja pada kuartal II 2026 turun hingga 22,35% ke Rp 13,2 triliun, peta peluang semester II masih bergantung pada kombinasi harga jual baja, biaya energi, akselerasi proyek, serta kebijakan perlindungan impor. Tekanan jangka pendek diperkirakan akan diuji oleh dinamika pesanan, sementara ruang pemulihan menunggu tercapainya faktor-faktor pendukung tersebut.












