jurnalistik.co.id – Inggris melanjutkan tren positifnya di Piala Dunia T20 Wanita dengan pesta kemenangan saat laga grup terakhir di The Oval. Tim asuhan mereka meraih kemenangan sembilan wicket atas Selandia Baru, sekaligus memastikan tempat di semifinal pekan depan.
Di Grup 2, Inggris sudah lebih dulu mengunci status sebagai pemuncak klasemen, sehingga duel pamungkas menjadi kesempatan untuk mempertajam ritme sebelum fase gugur. Mereka mengejar target 164 dengan menyisakan 16 bola, menutup pertandingan pada 164-1 di 17,2 overs.
Catatan paling mencolok datang dari Danni Wyatt-Hodge. Bintang Inggris itu tampil luar biasa dengan 89 not out dari 53 bola, menjaga laju skornya tetap stabil sampai akhir. Ketenangannya makin lengkap karena ia mendapatkan dukungan besar dari Sophia Dunkley yang juga tak terkalahkan dengan 49 not out dari 38 bola.
Keduanya membangun kemitraan 128 run, sebuah angka yang mengunci arah pertandingan sejak fase awal chase. Saat kemitraan itu berjalan, Selandia Baru kesulitan untuk memutus ritme, dan Inggris terus bergerak menuju target tanpa kehilangan kendali.
Wyatt-Hodge jadi mesin utama kemenangan Inggris
Wyatt-Hodge kini menjadi pencetak run terbanyak turnamen ini. Ia bahkan memperbarui rekor dengan catatan runs terbanyak yang pernah dicapai seorang pemain pada satu Piala Dunia T20 putri. Dalam laga ini, ia terus menemukan celah ketika Selandia Baru memberi ruang di luar garis yang nyaman untuknya.
Sejumlah momen membantu Inggris memperlebar jarak. Wyatt-Hodge berhasil memanfaatkan lebar lapangan saat Selandia Baru mengirim bola yang terlalu longgar, sekaligus mengubah peluang menjadi run ketika ada insiden di lapangan—termasuk dua momen yang berujung pada kegagalan tangkapan dan stumping.
Dengan Dunkley di sisi satunya, Inggris tidak hanya menumpuk angka, tetapi juga merawat kecepatan perolehan run. Hasilnya, kemenangan sembilan wicket terasa seperti kelanjutan dari empat kemenangan sebelumnya—bukan kebetulan yang datang sesaat.
Tekanan sejak awal membuat Selandia Baru tertekan
Di babak pertama, Inggris memulai pertahanan dengan intensitas tinggi. Mereka sempat mengambil tiga wicket dalam rentang empat bola tanpa memberikan satu run pun. Dinamika itu efektif meredam Selandia Baru, yang akhirnya hanya mampu mengumpulkan 163-6 dari 20 overs.
Meski Selandia Baru tampil sebagai juara bertahan, performa mereka pada turnamen kali ini tidak sekuat tim yang pernah meraih gelar pada 2024. Dalam pertandingan tersebut, salah satu kontribusi yang menonjol datang dari M Kerr dengan 42 dari 34 bola, sementara Gibson mencatat 2-30 untuk Inggris.
Berikutnya, Sophie Devine memberi kilasan perlawanan dengan memukul tiga kali enam dalam 14 bola untuk menghasilkan 30. Namun setelah fase itu, Inggris tetap memegang kendali, tidak memberi ruang yang cukup bagi Selandia Baru untuk membalik keadaan.
Menjelang akhir laga, Inggris juga terlihat memiliki kedalaman yang membuat mereka nyaman mengatur strategi. Mereka tidak hanya fokus merampungkan bowling, tetapi juga memastikan ritme fielding berjalan rapi sehingga setiap kesempatan menjadi run atau minimal memutus peluang pemulihan.
Kepastian semifinal dan peluang menghadapi India atau Afrika Selatan
Dengan kemenangan ini, Inggris menyelesaikan Grup 2 dan menunggu lawan mereka di semifinal. Pertandingan melawan calon semifinalis akan ditentukan pada hari Minggu, dengan India atau Afrika Selatan sebagai pilihan yang paling mungkin berdasarkan peta turnamen.
Laga semifinal itu rencananya berlangsung Selasa sore atau Kamis malam, masih di The Oval. Inggris memiliki catatan yang sangat baik di arena tersebut untuk tim putri mereka: mereka tidak pernah kalah dalam 11 pertandingan terakhir di sana.
Jika berhasil melangkah, Inggris akan kembali ke Lord’s untuk partai final pada hari Minggu. Targetnya jelas: kesempatan meraih gelar Piala Dunia pertama sejak 2017.
Menariknya, perjalanan Inggris di turnamen ini terasa seperti momentum menuju peluang besar. Mereka memang telah menunjukkan kemampuan mencapai semifinal—tercatat lima kali sejak menjuarai turnamen 50-overs pada 2017—tetapi laga ini menghadirkan sensasi berbeda karena dominasi mereka di Grup 2 kali ini tampil sangat meyakinkan.
Secara konteks, Inggris juga menjalani jalur grup yang relatif lebih “mudah” dibanding kolam lainnya. Di sisi lain undian, Australia, India, dan Afrika Selatan saling bersaing memperebutkan dua tiket untuk maju dari fase tersebut. Kendati begitu, Inggris tidak seolah hanya beruntung: dalam dua pekan terakhir, mereka terus menjaga performa hingga akhirnya memastikan tiket ke babak berikutnya.
Saat turnamen berjalan, kapten Nat Sciver-Brunt menjadi perhatian tersendiri karena ia direncanakan bisa kembali. Namun Dunkley menunjukkan bahwa tim tetap memiliki daya saing tinggi meskipun perubahan komposisi terjadi, termasuk ketika Pemain berusia 33 tahun itu bergantung pada pemulihan dari cedera betis.
Dengan Wyatt-Hodge dalam bentuk terbaiknya—dan rekam jejak yang terus bertambah—Inggris kini berada pada posisi yang menimbulkan keyakinan besar di ruang ganti. Setelah menghabisi Selandia Baru dengan kemenangan yang nyaris tanpa perlawanan, semifinal bukan lagi sekadar tahap berikutnya, melainkan momen yang membuka kemungkinan lebih jauh untuk membawa Inggris menuju final di Lord’s.











