jurnalistik.co.id – Pembatasan jadwal media di Wimbledon 2026 kembali memunculkan ketegangan terkait pembagian uang hadiah. Sejumlah pemain memilih memotong keterlibatan media, mengaitkannya dengan protes atas besaran prize money di ajang Grand Slam.
Empat kali juara Grand Slam, Aryna Sabalenka, mengatakan ia berharap aksi pembatasan media tidak perlu berulang lagi. Ia berada di kelompok pemain yang minggu ini membatasi penampilan media mereka di All England Club menjadi 15 menit sebagai bentuk protes terhadap uang hadiah yang dinilai kurang memadai.
Sabalenka menegaskan agar “boycott” kewajiban media tidak menjadi pola yang berulang. “I hope we’re not going to get to this boycotting again,” kata Sabalenka.
Ia juga menjelaskan alasan di balik pembatasan tersebut. “We do it for the tour, we don’t do it for ourselves. We do it for the rest of the players who are suffering to even hire [a] coach.”
Menurut Sabalenka, kondisi pemain dengan peringkat lebih rendah tidak mudah. “It’s not an easy life for players who are lower in the rankings.”
Dalam pemberitaan menjelang turnamen, terlihat bahwa tidak semua pemain mengikuti batas waktu yang sama. Saat konferensi pers pra-turnamen mulai berlangsung pada Sabtu, ada indikasi sebagian pemain tidak sepenuhnya mempertahankan limit durasi, dan beberapa memilih mengambil langkah berbeda karena merasa puas dengan penawaran Wimbledon.
Kelompok yang menyusun protes ini juga disebut mencakup Jannik Sinner dan Coco Gauff. Mereka meminta agar turnamen-tur utama memberi porsi pendapatan yang lebih besar untuk uang hadiah, sekaligus meningkatkan kontribusi pada program kesejahteraan yang mencakup pensiun dan cuti melahirkan.
Wimbledon sendiri menyatakan telah menaikkan total hadiah tahun ini. Ajang ini meningkatkan prize money keseluruhan sebesar 20% dengan total dana hadiah mencapai ÂŁ64.2 juta, yang disebut sebagai kenaikan tahunan terbesar dalam sejarah Wimbledon.
Di sisi lain, pada sesi media, Sinner disebut menutup pertanyaan terkait protes. Ia memilih fokus pada tenis dengan menjawab dalam bagian berbahasa Inggris singkat sebelum beralih ke bahasa Italia.
Protes ini juga disebut sebagai kelanjutan dari pola yang muncul pada French Open bulan lalu. Ini menjadi Slam kedua berturut-turut yang menampilkan protes serupa atas langkah yang dinilai belum cukup setelah gerakan sebelumnya.
Sebagai pembanding, Novak Djokovic—yang tidak mengambil bagian dalam protes—justru menjalani konferensi pers 15 menit dan berbicara kepada 18 outlet televisi selama sekitar satu jam. Daniil Medvedev, yang turut membatasi komitmen media, menyampaikan pandangannya bahwa diskusi ini pada dasarnya bukan bentuk kemarahan.
“Maybe what we did at Roland Garros partly helped us to push Wimbledon,” ujar Medvedev. Ia menambahkan, “We’re not accountants but we’re processing the information we are given. We’re seeing the percentage of the revenue is lower than 10 years ago, so we’re kind of getting less money.”
Medvedev menilai tuntutan mereka soal keadilan pembagian. “We’re pushing for something more which we think is fair. Nobody is angry – it is just a discussion.”
Ketika sesi konferensi berlangsung pada Sabtu, terlihat beberapa agen meminta moderator mengakhiri pembicaraan lebih cepat. Sementara itu, Sally Bolton, chief executive All England Club, menyatakan keterkejutannya dan kekecewaannya terhadap langkah protes tersebut. Ia mengatakan kepada BBC Sport bahwa ia merasa “surprised and disappointed.”
Berbeda dengan sebagian pemain yang memilih membatasi media, Alex de Minaur justru tidak ikut protes Wimbledon. Ia sebelumnya terlibat dalam aksi serupa pada French Open, tetapi kali ini menilai Wimbledon sudah bergerak ke arah yang benar.
“I think the sense that we had at Roland Garros was everyone was on board, even though we didn’t, as a collective, achieve the numbers that we were looking for,” kata de Minaur. “I thought that Wimbledon made a big step in the right direction, and something that should be noted. So this is for me to acknowledge their big step.”
Langkah untuk memotong durasi media menjadi simbol 15% pendapatan yang—secara garis besar—dialokasikan Grand Slam untuk uang hadiah. Perwakilan pemain menyebut keputusan ini diambil setelah konsultasi detail dengan pemain dari kedua tur.
Pihak pemain meminta agar masing-masing Grand Slam menyediakan porsi 16% pendapatan untuk prize money, dengan target angka itu meningkat menjadi 22% pada tahun 2030. Wimbledon, sebaliknya, meyakini kenaikan kontribusinya lebih dari sekadar sepadan, dan menunjuk pada belanja untuk meningkatkan fasilitas pemain di All England Club.
Wimbledon mengungkapkan besaran yang diterima juara tunggal pada edisi tahun ini. Masing-masing juara memperoleh ÂŁ3.6 juta, naik dari ÂŁ3 juta pada tahun sebelumnya, sedangkan yang kalah di babak putaran pertama mendapatkan ÂŁ80.000.
Di antara pemain yang turut menyatakan sikap berbeda, Alexander Zverev membeberkan pandangannya tentang batasan yang ia ambil. Ia mengatakan ingin tetap bagian dari gerakan pemain, tetapi menyadari media tidak memiliki kemampuan mengubah kebijakan secara langsung.
“I still want to be part of the players’ movement, but also I realised the media can’t really do anything about it, or can’t really change it,” ujar Zverev, yang tahun lalu berbicara atas nama pemain dalam pembahasan dengan Grand Slams di Wimbledon. Ia menambahkan, “It’s not good to take it [out] on someone that doesn’t have the power of control, so I’m doing half an hour [of media]. But I still hope for some change in tennis, for sure.”










