jurnalistik.co.id – Inggris akan menjalani laga 16 besar Piala Dunia melawan Meksiko di Stadion Azteca, Mexico City. Tantangan utamanya bukan hanya lawan, melainkan juga kondisi tempat pertandingan yang memengaruhi ritme fisik sejak menit awal.
Azteca berada sekitar 7.220 kaki di atas permukaan laut. Dengan ketinggian itu, pemain Inggris berpotensi lebih cepat mengalami kelelahan otot karena udara yang lebih tipis serta oksigen yang lebih sulit dihirup.
Dalam konteks tersebut, Thomas Tuchel harus memecahkan “puzzle” gaya Meksiko yang kini ditangani Javier Aguirre. Meksiko, menurut catatan turnamen, sudah memenangkan semua pertandingan yang mereka jalani sejauh ini tanpa kebobolan satu gol pun.
Pertanyaan besarnya: apakah strategi bertahan berbasis low block yang selama ini merepotkan Inggris bisa justru dipakai sebagai senjata. Di sepanjang kompetisi, pola seperti itu kerap membuat “Three Lions” kesulitan menembus pertahanan yang rapat.
Rene Maric, asisten pelatih Bayern Munich, memberi gambaran cara berpikir yang relevan menjelang laga ini. Menurutnya, pertahanan bisa “disetel” sebelum berhadapan dengan lawan, karena rencana bertahan tidak sepenuhnya bergantung pada pola lawan.
Maric mengatakan, “You can choose your defending strategy without regards to your opposition and be somewhat successful; barring huge differences in quality you will not be able to do the same offensively,” dan menambahkan, “Basically, the defending team sets the board and the attacking team plays the game. For me, ‘proactive’ means acting with an intention of creating specific situations. This is harder to do when attacking”.
Artinya, ketika Inggris menata strategi bertahannya, mereka bisa mengarahkan Meksiko untuk dipaksa bermain pada gaya yang lebih bisa dibaca dan ditangani. Dari sinilah ide low block mulai masuk sebagai bagian dari “set the board” Tuchel.
Di turnamen, Inggris memang pernah terbentur ketika berhadapan dengan tim yang menumpuk pemain di area sendiri. Salah satu contoh yang paling menonjol datang saat Inggris ditahan 0-0 oleh Ghana pada fase grup, sebuah hasil yang menunjukkan sulitnya mengurai pertahanan rapat.
Namun, agar low block tidak hanya menjadi reaksi, Inggris perlu membaca kekuatan Meksiko yang sudah terlihat sepanjang turnamen. Meksiko menunjukkan kualitas dalam beberapa aspek krusial, terutama saat membangun serangan dari situasi yang tampak “biasa” di permukaan, seperti bola tendangan gawang.
Misalnya, saat membangun dari goal-kick menghadapi Ekuador, Meksiko dinilai efektif dan memperlihatkan kemiripan pola dengan yang pernah dilakukan DR Congo ketika menghadapi Inggris. DR Congo membangun dengan formasi back four yang melebar, lalu kiper berubah menjadi pemain bertahan kelima di area dalam lapangan.
Di belakang, ada satu gelandang bertahan yang duduk lebih dalam sebagai opsi umpan. Di depan mereka, pemain bergerak cepat, berputar ke posisi tidak lazim, sekaligus menarik pengawalan man-to-man Inggris menjauh dari zona yang lebih nyaman, sebelum akhirnya langsung mencari penyerang berbahaya dengan tempo cepat dan posisi tinggi di lapangan.
Pola itu mirip dengan cetak biru yang digunakan Meksiko ketika melawan Ekuador yang bermain dengan tekanan tinggi. Saat dua tim sama-sama menekan, keduanya memakai bentuk 4-4-2, namun Meksiko mendapat keuntungan karena memiliki dua gelandang bertahan sebagai tumpuan tambahan dalam build-up 4-2-4.
Dalam skenario itu, tekanan yang diterapkan Inggris dan Ekuador membuat pemain pertama lawan kerap unggul jumlah. Dengan lima pemain termasuk kiper berada di garis pertama, tim yang menekan sebenarnya memberi kemudahan kepada lawan untuk memainkan bola menghindari tekanan tersebut.
Berita Terkait
- GP Inggris: Charles Leclerc Menang di Depan George Russell dan Lewis Hamilton, Antonelli serta Verstappen Tanpa Poin
- Piala Dunia 2026: Mexico Kembalikan Arloji Rolex Hadiah Stevewilldoit Senilai $1 Juta (£747.000)
- Puluhan ribu warga sambut pemain Tanjung Verde di Praia seusai perjalanan luar biasa di Piala Dunia
Inggris kemudian mengandalkan upaya Declan Rice dan Marcus Rashford untuk melangkah menekan bersama dua penyerang. Meski upaya itu dilakukan secara bergantian, jarak yang harus ditempuh menjadi masalah, dan kondisi fisik Rice yang mengalami nyeri hamstring (disebut “reported hamstring pain”) membuat rencana ini makin sulit dijalankan, terutama pada awal pertandingan.
Satu faktor lain yang tak bisa dipisahkan dari rencana Tuchel adalah kecepatan start Meksiko. Mereka dianggap berbahaya dalam 15 menit pertama di setiap babak, baik dari aspek penguasaan bola, intensitas, maupun peluang mencetak gol.
Tuchel menegaskan bahwa karakter tersebut sudah terasa sejak periode persiapan. Ia menyebut, “We feel it. I felt a slight headache, didn’t sleep as well, but nothing I can’t handle.” Ia juga menambahkan, “The players felt it in the first minute of the training, the longer it went on they adapted. It is not coincidence that Mexico starts matches here on the front foot, the first 15 minutes will be the toughest for us.”
Jordan Henderson ikut menggemakan penilaian serupa. Henderson mengakui bahwa “10 minutes” pertama latihan menjadi bagian yang menantang, sehingga Inggris perlu menyiapkan cara bertahan yang stabil sebelum tempo pertandingan benar-benar “meledak”.
Dengan demikian, “set the board” lewat pendekatan defensif yang lebih terukur pada fase awal bisa masuk akal. Jika Inggris memilih bentuk yang lebih pasif saat kehilangan bola, mereka berpeluang menghindari tekanan yang mudah dilewati seperti yang pernah dialami saat DR Congo tampil dalam build-up yang lancar.
Formasi bertahan itu tidak harus identik dengan garis lima. Dalam logika yang sama, 4-5-1 disebut cukup masuk akal untuk menekan jarak lari pemain Inggris, sekaligus menjaga cakupan lebar lapangan dan membuat area tengah lebih padat ketika menghadapi gelandang Meksiko yang menyulitkan.
Di sisi lain, filosofi Inggris di bawah Tuchel juga punya elemen penting: memancing tekanan lawan sebelum melancarkan serangan ke atas dengan cepat. Namun, di tengah tuntutan ketinggian Mexico City, tidak selalu mudah untuk melakukan lari ke belakang dan ke depan dengan frekuensi tinggi, sehingga Inggris harus memilih momen yang tepat.
Jika bola dimainkan terlalu cepat dan terlalu dini, Inggris berisiko lebih sering melakukan turnover. Pada kondisi itu, Meksiko bisa memanfaatkan momen untuk melakukan serangan balik mereka sendiri terhadap pertahanan Inggris yang belum sepenuhnya beraturan.
Meski demikian, Inggris tidak perlu sepenuhnya menghilangkan permainan langsung. Dengan mengatur ruang dan kecepatan tempo pertandingan, mereka tetap bisa melepas opsi seperti Noni Madueke, Anthony Gordon, Marcus Rashford, dan Jude Bellingham sesuai ritme yang terbaca.
Tujuan berikutnya adalah mengendalikan ritme agar “euforia” tuan rumah tidak mudah mengalir. Bila Inggris berhasil memperpanjang fase permainan yang lebih sabar, mereka juga berharap periode “boring” itu cukup untuk meredam dukungan stadion.
Keputusan Tuchel untuk memilih skuat dengan profil yang relatif serupa juga disebut sebagai pertimbangan yang cerdas untuk laga ini. Dalam pertandingan seperti ini, ketepatan menukar energi bisa menjadi pembeda karena variasi tempo dan kebutuhan menahan tekanan sering berubah.
Dengan rencana taktis yang sudah dipersiapkan, membuat lima pergantian pemain yang tidak mengubah dinamika secara drastis bisa membantu Inggris tetap berada pada rute yang sama. Pergantian juga diharapkan memberi kesegaran ketika Meksiko mulai terlihat kelelahan, sehingga Inggris bisa memaksimalkan momen-momen kecil yang menentukan.
Tuchel dikenal piawai melakukan penyesuaian di tengah pertandingan. Meski begitu, menghadapi Meksiko di Azteca tetap menjadi salah satu tantangan paling sulit baginya, karena banyak variabel yang menuntut respons cepat dan tepat sepanjang laga.












