Olahraga

Puluhan ribu warga sambut pemain Tanjung Verde di Praia seusai perjalanan luar biasa di Piala Dunia

×

Puluhan ribu warga sambut pemain Tanjung Verde di Praia seusai perjalanan luar biasa di Piala Dunia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Thousand welcome home Cape Verde footballers after stunning World Cup run

jurnalistik.co.id – Puluhan ribu pendukung membentuk lautan biru di luar bandara ibu kota Praia, menyambut kepulangan tim sepak bola Kepulauan Tanjung Verde (Cape Verde) setelah perjalanan yang mereka sebut bersejarah di Piala Dunia.

Pesawat yang membawa “Blue Sharks” mendarat pada hari Minggu, setelah langkah mereka di Piala Dunia berakhir usai bertanding melawan juara bertahan Argentina dalam laga yang berakhir dramatis.

Suasana di area bandara berubah menjadi semacam karnaval. Para pendukung menabuh drum, menari, bernyanyi, dan mengibarkan bendera nasional sepanjang penyambutan.

Pemain penjaga gawang Vozinha menjadi salah satu figur yang paling sering diseru. Ia menyampaikan kepada BBC, “It is a very great moment for us to be here with our people.”

Vozinha, yang memiliki nama lengkap Josimar José Évora Dias, hadir mengenakan kaos putih bertuliskan nama negaranya, saat menjelaskan bahwa harapan mereka sebenarnya lebih jauh.

Ia melanjutkan, “We wanted something bigger but we didn’t go to the next stage. Now we just enjoy the moment and celebrate with our people,”.

Di tengah kegembiraan, satu pendukung menyebut ia datang untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada Blue Sharks. Tim tersebut mewakili negara dengan ukuran terkecil kedua di turnamen, dan sebelumnya belum pernah tampil di Piala Dunia.

Namun, mereka dianggap mampu bertahan dan memberi perlawanan serius terhadap tim-tim besar, termasuk saat menghadapi Spanyol dan Uruguay.

Nama Vozinha terus menggema di bandara bersama sejumlah bintang lain. Salah satunya adalah bek tengah Pico Lopes, yang turut menjadi pusat perhatian selama perayaan.

Suporter berkerumun, menjeritkan nama-nama pemain, sementara para anggota tim bergantian memberikan tanda tangan pada kaus sepak bola para pendukung yang mereka bawa.

Penyambutan tersebut juga beririsan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Cape Verde. Pada hari itu, pulau-pulau di wilayah mereka merayakan 51 tahun sejak berakhirnya kekuasaan kolonial Portugis.

Secara perjalanan turnamen, Cape Verde berangkat dengan peringkat 67 dunia. Meski begitu, tiga hasil imbang fase grup—termasuk mampu menahan juara Eropa Spanyol dengan skor 0-0 pada laga pembuka—membuka jalan bagi tugas besar yang jarang diperkirakan.

Mereka kemudian menempuh rangkaian laga yang memaksa turnamen menulis ulang batas-batas kejutan. Ketika berhadapan dengan Argentina, Cape Verde sempat tertinggal lebih dulu setelah gol Lionel Messi.

Alih-alih menyerah, mereka mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Tim itu juga membuat laga berlanjut hingga waktu tambahan.

Di fase berikutnya, Cape Verde kembali harus menghadapi momen ketika mereka tertinggal lagi. Meski begitu, “tendangan mematikan” dari Sidny Lopes Cabral membuat skor kembali imbang.

Gol yang datang pada momen krusial membawa pertandingan ke tahap yang terasa dekat dengan kejutan lebih besar, sampai akhirnya hasil akhir tidak berpihak kepada mereka.

Argentina memastikan tiket mereka setelah ada defleksi yang dinilai “kejam” dari Diney Borges, yang berawal dari sundulan Cristian Romero. Akhirnya, Argentina tetap melangkah.

Meski kalah, pelatih Cape Verde, Pedro LeitĂŁo Brito yang juga dikenal sebagai Bubista, menegaskan rasa bangganya kepada tim.

Ia menyatakan bahwa mereka hanya berselisih sekitar 10 menit dari peluang memaksa Argentina sampai ke adu penalti. Pernyataan ini menjadi salah satu penekanan utama dalam cara tim dan pendukung memaknai perjalanan mereka.

Bubista mengatakan, “We showed that we may be a small country but we can play against the best teams in the world,”.

Ia menambahkan, “That’s a reason for pride. “We made history for our country. They can be proud for representing our country.””

Di bandara Praia, semangat tersebut terasa nyata. Di antara euforia, momen penandatanganan kaus juga dilakukan oleh kapten Ryan Mendes, yang menorehkan respons langsung atas dukungan yang memadati lokasi kedatangan.

Para pendukung tidak hanya merayakan hasil akhir, melainkan juga perjalanan yang memperlihatkan bahwa sebuah tim dari negara yang lebih kecil tetap mampu menguji raksasa-raksasa turnamen.

Saat Blue Sharks akhirnya pulang, perayaan yang dipusatkan di bandara menjadi penanda bahwa perjalanan mereka tidak berhenti pada kekalahan, tetapi berlanjut sebagai cerita kebanggaan bersama.

Dengan warna biru yang menyelimuti area bandara dan sorakan yang terdengar berulang-ulang, penyambutan itu menegaskan satu hal: Cape Verde datang sebagai underdog, namun meninggalkan jejak yang sulit dilupakan di panggung Piala Dunia.