Internasional

Buku telepon yang menuntun ke Hussam Luka, “The Spider” yang bersembunyi

×

Buku telepon yang menuntun ke Hussam Luka, “The Spider” yang bersembunyi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: The phone book that led us to Assad's spy chief in hiding

jurnalistik.co.id – BBC menelusuri jejak “The Spider”, Hussam Luka—kepala intelijen sipil yang selama ini bekerja di balik bayang-bayang—hingga ditemukan berada dalam persembunyian di sebuah apartemen mewah yang ditinggalkan di Damaskus.

Diasramparkan di lantai ruang tamu, puluhan foto memperlihatkan sosok yang sama di berbagai situasi: duduk di meja kerjanya, hingga berada di tengah salju. Di antara tumpukan barang, ada pula medali dan sertifikat berlapis emas yang memuat nama Hussam Luka, sebuah identitas yang kemudian menjadi titik awal penelusuran.

Dalam laporan itu, Luka digambarkan sebagai salah satu orang paling ditakuti di Suriah. Ia memimpin badan intelijen sipil paling berpengaruh, sekaligus kerap disebut terlibat dalam serangkaian kekejaman dan penyiksaan sistematis, serta masuk daftar sanksi dari Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Jejak di apartemen: buku catatan dan nama-nama

Beberapa hari setelah jatuhnya Assad, tim BBC menyaksikan para pemberontak mencari petunjuk tentang keberadaan penguasa yang digulingkan. Di sudut ruang tamu, pada sebuah meja konsol, mereka menemukan sebuah buku catatan tanpa ciri menonjol.

Di dalamnya terdapat puluhan nama yang ditulis dalam tulisan tangan biru. Nama-nama itu mencakup beragam profesi, mulai dari pedagang hingga dokter, juga pejabat militer, termasuk orang-orang yang memiliki nama keluarga terkait Luka.

Temuan ini mendorong pertanyaan: apakah daftar kontak tersebut bisa menyingkap jaringan Luka dan kejahatannya, atau bahkan membantu melacak keberadaannya? Namun, upaya awal tidak langsung membuahkan hasil.

Nomor telepon yang pernah “menonjol”

Di masa awal konflik sipil Suriah, nomor telepon Luka diketahui sulit dihindari karena pernah disemprotkan di dinding sekitar kota pusat Homs. Pada periode itu, perang pecah setelah pemerintahan Assad menindas pemberontakan pro-demokrasi pada 2011—sebuah konflik yang menewaskan ratusan ribu orang.

BBC menuliskan bahwa Luka kala itu menjadi pimpinan lokal Direktorat Keamanan Politik, salah satu badan intelijen utama di bawah pemerintahan Assad. Ia disebut memegang mandat untuk merebut Homs dari pihak pemberontak. Ketika wilayah yang dikuasai pemberontak berada dalam pengepungan, warga kesulitan mengakses makanan dan obat-obatan.

Beberapa orang, termasuk mantan pejuang pemberontak Motaz al-Zaydi, mengatakan mereka melihat nama dan nomor Luka muncul di dinding lingkungan mereka. Menurut al-Zaydi, penyebaran informasi dimulai dari pesan bahwa mereka yang ingin melarikan diri dari pertempuran bisa menelepon nomor tersebut untuk “jalur aman”.

BBC melaporkan bahwa sejumlah orang diyakini memperoleh izin transit aman keluar dari kota berkat peran Luka. Namun, ada juga pihak yang menghubungi nomor itu namun tak pernah terlihat atau terdengar lagi, menurut sejumlah orang yang diwawancarai, termasuk al-Zaydi.

Warga Homs menyebut Luka sebagai “The Spider”, karena jaringan sekutu dan informannya sangat luas, bahkan dikatakan ada yang berakar di kelompok pemberontak. “He was everywhere,” demikian kata warga. Al-Zaydi menggambarkannya sebagai “evil genius” dan “a fox of a man”.

Dari Homs hingga tuduhan penargetan di “Eid Massacre”

Dalam laporan tersebut, tindakan paling berat yang banyak diperdebatkan warga adalah keterlibatan Luka yang diduga dalam apa yang disebut “Eid Massacre”, yang oleh sebagian pihak juga dikenal sebagai “Children’s Massacre”. Peristiwa itu dikaitkan dengan sanksi AS terhadap Luka.

BBC menulis bahwa peristiwa terjadi pada hari raya Idul Adha pada September 2015. Mohammed Towakatli, yang putranya berusia tujuh tahun, Wael, sedang berkebun di playground yang disiapkan di lingkungan al-Waer. Sekitar pukul 17:10, setelah pengaturan jatah listrik mulai berjalan, Mohammed mengingat serangan menghantam.

BBC menuturkan bahwa Mohammed kemudian mengingat nama-nama anak-anak yang tewas dan permainan yang mereka lakukan saat kejadian. Ia juga menunjuk tempat di mana jenazah mereka ditemukan, termasuk milik Wael.

“They were tiny children,” kata Mohammed dengan mata berkaca-kaca. “The ground here was painted red with blood.”

Menurut Syrian Network for Human Rights, sebanyak 28 orang tewas, termasuk 17 anak dan empat perempuan. Luka disebut bertanggung jawab atas penetapan sasaran di area tersebut menurut sejumlah kelompok aktivis Suriah dan sebuah surat kabar yang beroposisi pada waktu itu.

BBC juga memuat bahwa tindakan Luka di Homs berujung pada promosi, dan ketika rezim runtuh, ia disebut menjalankan badan intelijen General Security Directorate (GSD). Dengan demikian, ia berada di antara tokoh paling berkuasa di negara tersebut.

Kendali terhadap penahanan dan seruan agar dimintai pertanggungjawaban

Dalam periode itu, layanan keamanan pemerintah disebut mampu menarget siapa pun—mulai dari pejuang oposisi, jurnalis, dokter, hingga aktivis hak asasi—termasuk orang-orang yang diduga bersikap menentang pemerintahan Assad dalam berbagai bentuk.

BBC menuliskan bahwa mereka yang ditangkap menjalani penahanan di penjara politik Suriah, termasuk Sednaya di Damaskus, yang begitu terkenal sampai dijuluki “human slaughterhouse”. Banyak yang dipenjara di tempat itu, menurut laporan itu, tidak pernah terlihat kembali.

BBC menyebut bahwa sebagai kepala GSD, Luka memiliki kontrol strategis atas kebijakan penahanan, dan stafnya disebut memantau komunikasi dari dan ke Sednaya. Setelah kejatuhan rezim, muncul seruan luas di media sosial agar pejabat senior yang pernah berada di level tinggi dimintai pertanggungjawaban.

Di sisi lain, ada pula yang mengatakan pemerintahan Suriah baru belum melakukan cukup upaya untuk membawa para pelaku ke jalur keadilan. Jaksa Agung Suriah, Hassan al-Turba, mengatakan kepada BBC bahwa pemerintah telah mengajukan gugatan terhadap Luka, dengan tuduhan “premeditated murder, torture, and death resulting from torture”.

“A warrant has been circulated domestically and we are working on circulating it internationally as well,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa pihaknya berupaya melacak lokasi Luka dan mengupayakan ekstradisi bagi Luka serta pejabat senior rezim lain yang juga hilang.

Mencoba melacak lewat telepon: panggilan yang selalu berakhir putus

BBC menyatakan bahwa mereka memotret setiap halaman dari buku yang ditemukan di apartemen Luka. Setelah itu, dari London, mereka mencoba menguji 155 nomor yang tercatat, dengan kesadaran bahwa banyak orang dekat rezim mungkin sudah melarikan diri atau menghilang.

Hanya 51 nomor yang terlihat masih berfungsi. Tim kemudian menghubungi lagi nomor-nomor itu sesuai tingkat “kepentingan” yang dianggap terkait Luka, dimulai dari komandan militer dan kerabat.

Menurut laporan, setiap panggilan berakhir tanpa hasil. Ketika penelepon menjelaskan siapa diri mereka dan tujuan penelepon menelepon, pihak yang menjawab hanya menutup sambungan atau menyangkal mengenal Luka maupun keluarganya—bahkan menyangkal bahwa orang-orang yang tercantum pada buku itu adalah mereka.

Upaya tatap muka dan pintu yang makin tertutup

Karena panggilan telepon tidak menghasilkan akses, seorang reporter BBC yang secara pribadi pernah tercatat dalam daftar target GSD pada masa Luka menjalankan badan tersebut berangkat ke Suriah untuk mencoba bertemu secara langsung.

Banyak kontak dalam buku itu adalah dokter, sehingga reporter memulai dengan membuat janji medis kepada sebagian dari mereka. Seorang dokter di Aleppo, meski akhirnya mengakui pernah merawat Luka, kemudian memerintahkan jurnalis tersebut untuk pergi dan mengembalikan konsultan—seraya menutup akses lebih lanjut.

Reporter kemudian menjadwalkan pertemuan dengan dokter lain yang tercantum pada buku, kali ini di Damaskus. Dokter itu mengatakan pernah menemani ibu Luka saat perjalanan medis ke Rusia, tetapi enggan memberikan informasi lebih jauh. Ia hanya menunjuk secara samar ke sebuah apotek yang dikatakan terkait salah satu putri Luka.

Menurut kabar dari warga, putri tersebut juga tidak terlihat sejak Desember 2024. Selama berbulan-bulan, penelusuran Luka seperti menemui jalan buntu.

Terobosan pertama: “Mahmoud” dan cerita tentang malam Luka menghilang

Hingga akhirnya BBC menemukan titik balik. Salah satu nama dalam buku yang sebelumnya mereka hubungi tetap tidak tersambung, pada akhirnya menjawab telepon. Orang itu, sebagaimana disampaikan, pernah menjadi penjaga blok apartemen Luka.

Ia kemudian setuju memberikan nomor untuk seseorang yang disebutnya sebagai pengawal tubuh personal Luka—seorang pria yang oleh BBC dirujuk sebagai “Mahmoud”. Namun untuk mendapatkan wawancara, BBC butuh waktu berminggu-minggu.

Pertemuan berkali-kali dijadwalkan, tetapi Mahmoud sering tidak datang, atau justru meminta pertemuan di ruang privat seperti mobil atau apartemen, yang dinilai reporter terlalu berisiko. Pada suatu malam, menjelang tengah malam, akhirnya mereka bertemu di sebuah hotel.

Menurut BBC, Mahmoud terlihat berbahu lebar dan kuat secara fisik. Ia tampak menimbang setiap jawaban sebelum berbicara. Mahmoud menyampaikan bahwa ia marah kepada Luka karena ditinggalkan saat rezim jatuh.

Mahmoud mengaku bahwa ketika kabar Desember 2024 menyebut aturan Assad berada di ambang keruntuhan—pemberontak mendekat ke ibu kota—Luka mengatakan akan tetap tinggal untuk mempertahankan Damaskus. Akan tetapi, pada dini hari berikutnya, menurut Mahmoud, Luka menghilang sambil membawa uang dalam jumlah besar yang sempat berada di brankas kantor.

Mahmoud menolak memberikan detail kontak Luka atau keluarga Luka. Namun, ia memberi nomor untuk sopir Luka, yang diyakininya mengantar mantan kepala intelijen keluar dari ibu kota pada malam itu.

BBC menuliskan bahwa upaya menghubungi sopir tersebut bahkan lebih sulit. Saat telepon diangkat, suaranya terdengar gugup dan tidak stabil. Ia berulang kali menegaskan bahwa dirinya hanya seorang sopir dan tidak mengetahui aktivitas Luka. Pertemuan yang dijadwalkan tidak pernah benar-benar terlaksana, hingga akhirnya ia berhenti menjawab pesan.

Jalur kemungkinan menuju Lebanon dan rujukan Rusia

BBC kemudian mengalihkan perhatian ke kemungkinan rute pelarian, termasuk Lebanon. Di negara itu, kelompok Hezbollah—yang didukung Iran—disebut memiliki hubungan dekat dengan rezim Assad.

Sumber senior dari pemerintah Lebanon mengatakan bahwa ia memahami Luka melewati Lebanon dengan “good Russian passport but with a different name”, sebelum terbang ke Rusia. BBC juga menemukan seorang pria yang kini berbasis di Lebanon yang namanya ada dalam buku kontak Luka, tetapi di bawah nomor yang tidak lagi berfungsi.

BBC menyebut bahwa pria tersebut termasuk dalam daftar pihak yang dicari oleh pemerintahan Suriah baru, karena kedekatan historisnya dengan rezim Assad. Pria itu, yang tidak bisa diidentifikasi oleh BBC, mengatakan ia memiliki nomor untuk Luka. Ketika nomor itu dilihat, tim menyadari bahwa nomor tersebut menggunakan kode negara Rusia.

Rusia disebut menjadi pendukung kunci rezim Assad. Dalam hari-hari setelah kejatuhan Assad, BBC menulis bahwa Assad merilis pernyataan yang menyebut ia telah pergi ke sana.

Di akhir penelusuran, kisah dari “The Spider” tidak berhenti pada satu apartemen atau satu buku catatan. Namun, rangkaian jejak telepon, pertemuan yang tertahan, serta petunjuk lintasnegara memperlihatkan bagaimana upaya pelacakan membutuhkan waktu, ketelitian, dan kesaksian dari orang-orang yang berada dekat dengan jaringan yang selama ini beroperasi.

BBC menutup laporan dengan menempatkan Luka sebagai sosok yang dicari terkait tuduhan kejahatan, sementara pihak berwenang menyebut sedang menyusun upaya hukum dan pencarian lintas wilayah untuk membawa proses keadilan berjalan.