jurnalistik.co.id – Ribuan petani di Inggris kehilangan kesempatan mengakses dana skema hijau senilai £233 juta setelah pendaftaran daring untuk Sustainable Farming Incentive (SFI) ditutup jauh lebih cepat daripada perkiraan. Aplikasi yang dibuka pada 10:00 BST Selasa berakhir pada 15:48 BST, dengan pemerintah menyebut respons petani “in force”.
Dalam rentang waktu kurang dari enam jam itu, banyak petani disebut gagal memperoleh pendanaan yang dinilai penting untuk membantu pengelolaan lahan yang lebih ramah lingkungan. Laporan menyebut kelompok pertanian dan lingkungan menyoroti bagaimana proses tersebut memicu “race” atau perlombaan mengejar kepastian.
Ditutup sebelum permintaan reda
Skema post-Brexit ini menggantikan subsidi Uni Eropa, dengan skema pembayaran agar petani merawat alam serta menyediakan “public goods”. SFI dirancang agar petani dapat menjalankan praktik tertentu sambil menjaga fungsi ekologi di lahannya.
Namun, anggaran yang tersedia habis pada 15:48 BST. Pemerintah kemudian menyatakan akan ada peluang pendanaan lanjutan untuk tahun 2027, meski penutupan yang berlangsung sangat singkat membuat banyak pihak mempertanyakan kesiapan dan kecukupan pembiayaan.
Sejumlah kelompok menilai respons yang muncul justru memperlihatkan betapa besarnya kebutuhan petani terhadap dana tersebut. Dalam perbandingan yang beredar, skema ini disamakan dengan “frantic” online scramble seperti ketika orang berebut tiket konser, sebagaimana disebut sebagai padanan “scramble for Oasis tickets”.
NFU minta “clarity and urgency”
National Farmers’ Union (NFU) meminta pemerintah menjelaskan alasan skema dibuka dan ditutup begitu cepat, karena banyak petani “left out of pocket” atau tertinggal secara finansial. NFU juga menegaskan pihaknya telah memberikan peringatan berulang soal kurangnya anggaran yang mencukupi.
Pihak NFU bahkan mengungkap kritik tersebut melalui pernyataan Wakil Presiden NFU, Robyn Munt. Ia mengatakan: “The rapid uptake of the scheme comes as no surprise. Its closure in less than six hours shows the scale of demand there is from farmers to deliver for the environment and to invest in farm resilience. “The current cashflow pressures facing farmers and growers only exacerbates that demand as they look for certainty and clarity for the year ahead.”
Dengan kata lain, kritik bukan hanya pada kecepatan penutupan, tetapi juga pada kondisi arus kas petani dan dampaknya terhadap kebutuhan kepastian rencana ke depan. Bagi NFU, adanya ketidakjelasan timing menambah tekanan saat petani dan pengelola lahan harus mengambil keputusan.
Wildlife Trusts: lebih buruk dari “dash” tiket
Vicki Hird, agriculture lead di Wildlife Trusts, membandingkan situasi tersebut dengan perebutan tiket hiburan. Ia menyatakan: “the scramble for green farming schemes was worse than the dash for Oasis tickets”.
Berita Terkait
Hird menambahkan bahwa anggaran dinilai tidak memadai dalam waktu terlalu lama, dan ia meminta Treasury mengakui persoalan itu serta mengalokasikan dana jauh lebih besar agar ketahanan iklim di bidang pertanian bisa dijaga pada anggaran berikutnya. Pernyataan itu muncul seiring penilaian bahwa permintaan terhadap skema hijau terus tinggi.
Alasan skema tetap dinilai krusial
SFI disebut vital bagi banyak petani yang mengalihfungsikan sebagian lahan untuk mendukung skema ramah lingkungan. Di antaranya praktik seperti menanam pagar tanaman, membuat margin lahan berbunga liar, dan melindungi tanah agar lebih tahan terhadap gangguan.
Pada tahun lalu, skema juga sempat ditutup secara mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran bahwa sebagian petani bisa meninggalkan pekerjaan lingkungan bila pembayaran tidak mudah diakses.
Untuk skema yang dibuka kali ini, permintaan diperkirakan tinggi. Nature Friendly Farming Network (NFFN), yang membantu petani mengelola lahan dengan cara yang lebih ramah lingkungan, kemudian mengkritik “frantic scramble” tersebut dan menyebut petani menghadapi “a desperate race against time” untuk mengamankan perjanjian pendanaan.
Martin Lines, petani arable di Cambridgeshire yang memimpin NFFN, menyampaikan kritik dengan nada serupa. Ia mengatakan: “This entire SFI system, with windows opening and closing within a few hours, isn’t fit for purpose. “We need to find a better way based on continuous, whole-farm agreements, not doors that slam shut on day one because the money has already gone.”
Ia juga menekankan bahwa setelah bertahun-tahun cuaca ekstrem, banyak petani bergantung pada pendanaan ini untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim dan menjadi lebih tangguh. Bagi kelompok pendukung petani, desain jendela waktu yang singkat dianggap mengganggu kemampuan mereka menyusun rencana.
Jawaban Defra dan alokasi tambahan dana
Departement for Environment, Food and Rural Affairs (Defra) menyebut akan memberikan informasi lebih lanjut terkait peluang pendanaan untuk permohonan tahun 2027 “soon”. Seorang juru bicara Defra mengatakan: “This year we ensured small farms and those new to SFI were prioritised – with an exclusive first window in the summer. “In anticipation of high demand in the second window, ministers decided to allocate an additional £20m to the fund, on top the £50m announced by the prime minister in August, so that we could fund as many agreements as possible.”
Dalam penjelasan yang diberikan, fokusnya adalah prioritas untuk petani skala kecil serta mereka yang baru mengenal SFI, termasuk adanya jendela pertama khusus pada musim panas. Defra juga mengaitkan keputusan alokasi tambahan £20m dengan tingginya permintaan pada jendela kedua.
Menteri Pertanian Stephen Morgan turut menyampaikan bahwa SFI didesain lebih sederhana untuk diterapkan, dan ia menyatakan petani telah “responded in force”. Ia berkata: “This is a scheme that works for farmers, backs food production, and delivers practical, sustainable land management, supporting the aims of our farming roadmap, our long-term plan for English farming,”
Meski demikian, berbagai pihak tetap menilai penutupan yang berlangsung singkat membuat banyak petani tertinggal. Perbandingan “scramble” dengan perebutan tiket konser menggambarkan bagaimana akses dana lingkungan bisa berubah menjadi perlombaan cepat, sekaligus memunculkan tuntutan akan kejelasan jadwal dan kecukupan anggaran.












