jurnalistik.co.id – Chris Mason, political editor BBC, mengajak pembaca membayangkan suasana di dalam ruang ketika Perdana Menteri Andy Burnham menjalani pertemuan perdananya dengan Donald Trump.
Di awal momen itu, suasananya tidak langsung terasa formal seperti pertemuan-pertemuan besar di ruang ikonik Gedung Putih. Burnham, yang baru menjadi figur utama di panggung nasional beberapa bulan sebelumnya, duduk berdampingan dengan tokoh paling berpengaruh di dunia.
Dalam pengamatan Mason, ada kegugupan yang tampak pada Burnham saat rombongan jurnalis memasuki ruang rapat. Namun setelah itu, pujian-pujian dari Trump mengalir—memberi kesan pertemuan berlangsung dengan nada hangat.
Rencana awal sebenarnya sederhana: jurnalis diundang masuk sejak awal rapat, tak lama setelah kedua tokoh baru pertama kali bertemu. Tetapi mereka harus menunggu karena pembicaraan privat sudah lebih dulu berlangsung, sehingga ruang rapat lebih banyak menyisakan percakapan publik setelah dinamika tertutup selesai.
Mason menggambarkan Trump dan para pemimpin yang berdiskusi dengannya sering terlibat dalam pertemuan yang cepat bergulir, kadang terdengar spontan dan hidup di kamera. Bagi Mason, ini adalah “rollercoaster without a harness” yang tak mudah diprediksi, dan justru karena itu ia menyoroti bagaimana Burnham bisa bertahan melewati fase awal.
Momen itu dimulai ketika Mason berhasil berada di garis pandang Trump. Ia kemudian menunggu kalimat penutup Burnham dalam pembukaan, lalu mengisi jeda singkat itu dengan pertanyaan mengenai hubungan kerja.
Ia menanyakan apakah Burnham adalah sosok yang bisa diajak melakukan kesepakatan, meski perbedaan politik keduanya nyata. Trump menjawab dengan nada yakin: “I do, I think he’s a natural business person. We’ve had a lot of discussions even before this meeting. We’ve spoken to each other numerous times on the phone. Yeah, I think so, I think so. He gets it. He understands what he has to do.”
Dalam cara Trump mengutarakan itu, Mason melihat kehangatan yang tidak dibuat-buat. Namun ia juga mengingat bahwa, dalam “teater” versi Trump, durasi penampilan publik sepenuhnya ditentukan presiden—dan kadang bisa melampaui setengah jam.
Letak pertemuannya turut menurunkan intensitas seremoni. Mereka berada di wilayah netral: sebuah ruang rapat tanpa jendela dan bernuansa biasa di lorong yang agak suram, di ruang bawah tanah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pertemuan ini bukan di Oval Office, sehingga nuansa kebesaran tempat tidak begitu dominan.
Berita Terkait
Meski demikian, bagi Mason, pertanyaannya tetap ada: seberapa lama Trump bisa mempertahankan suasana “bonhomie” dan rasa kesepakatan yang terasa di permukaan. Pada titik tertentu, isu yang berpotensi menjadi sumber gesekan justru lewat tanpa insiden.
Contohnya, pertanyaan mengenai imigrasi datang, tetapi tidak memicu ketegangan berarti. Demikian pula pengumuman dari pemerintahan Burnham yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Ed Miliband terkait sanksi untuk permukiman di Tepi Barat—keputusan itu memang membuat Israel marah, tetapi tidak mengubah dinamika rapat secara meledak-ledak di ruang tersebut.
Peralihan mulai terasa ketika pembicaraan menyentuh masa depan Kepulauan Chagos. Di bagian ini, Trump tidak menyembunyikan pandangannya. Ia menyebut keputusan Inggris untuk menyerahkan kedaulatan kepada Mauritius, lalu menyewakan kembali pangkalan militer di Diego Garcia, sebagai “terrible.”
Trump kemudian menambahkan, “I think the prime minister is going to be looking at [the deal]” dan Burnham merespons singkat, “yep”. Bagi Mason, kalimat “yep” itu menjadi semacam pengunci suasana—bukan penolakan keras, melainkan pengakuan bahwa arah pembicaraan memang mengarah ke isu tersebut.
Setelah sesi itu, Mason mendapat giliran mewawancarai Burnham secara singkat mewakili para penyiar. Burnham menekankan bahwa pertemuan itu “very encouraging” dan mengatakan, “we’ve established a good connection.”
Namun ketika Mason menanyakan apakah persoalan Chagos akan mengubah arah hubungan, Burnham menjawab dengan cara yang lebih terukur dan terarah. Ia menggambarkan kesepakatan Chagos sebagai sesuatu yang ia “inherited”.
Burnham lalu menambahkan, “We’ve got to find a resolution, and so work will continue now…to see where that resolution might lead.” Dengan kata lain, bagi Mason, indikasinya adalah bahwa kesepakatan tersebut memang berpotensi bergeser, meski prosesnya masih akan berjalan.
Dalam bacaan Mason, kilas balik konflik dengan Trump di masa depan adalah sesuatu yang nyaris tidak terhindarkan—hampir tidak ada pemimpin yang sepenuhnya lepas dari titik-titik itu bersama pemerintahan seperti sekarang. Dan bila pun Burnham memilih untuk tidak mendorong konfrontasi langsung, isu Chagos tetap mungkin menjadi salah satu ruang tarik-menarik yang muncul.
Tetapi dari sisi luar, Mason menilai Burnham berhasil membangun pijakan setelah percakapan tatap muka pertama. Pertemuan-pertemuan Burnham berikutnya di lingkungan PBB, menurut Mason, cenderung berjalan sebagai diplomasi yang mengikuti kebiasaan—bukan “rollercoaster” liar dengan Trump yang baru saja dilewatinya.












