Internasional

Luka terbuka dan mata sulit tertutup: wanita mengingatkan risiko operasi kelopak mata blepharoplasty murah di luar negeri

×

Luka terbuka dan mata sulit tertutup: wanita mengingatkan risiko operasi kelopak mata blepharoplasty murah di luar negeri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Open wounds and eyes that can't close - women warn about cheap bleph eyelid surgery

jurnalistik.co.id – Sejumlah perempuan mengaku mengalami masalah serius setelah menjalani operasi kelopak mata blepharoplasty yang ditawarkan lebih murah di luar negeri. Mereka menilai, biaya yang lebih rendah tidak diiringi pendampingan setelah tindakan yang memadai.

Kisah Nikita Morgan menjadi salah satu yang paling mendapat perhatian. Ia mengatakan, “Everyone made it out to be so easy, but my face felt like it was on fire and there was a horrible smell of burning skin,” saat menjalani operasi kelopak mata yang dirasakannya jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.

Nikita memutuskan tindakan itu setelah melihat video prosedur di media sosial. Ia menjalani pengangkatan kulit di area tepat di atas mata, dengan anestesi lokal, namun tetap merasakan nyeri ekstrem. Ia menggambarkan momen saat dokter mulai memotong kulit kelopak yang tipis: “I went into shell shock, it was horrible,” dan menambahkan, “When she was stitching me I could feel the needle going through my skin.”

Menurut dokter spesialis bedah di sekitar mata (oculoplastic surgeons), jumlah pasien yang melaporkan problem setelah bleph murah yang dikerjakan di luar negeri menjadi perhatian. Mereka menyebut komplikasi sering kali berkaitan dengan klinik-klinik di Eropa daratan, Afrika, dan Asia, sementara kekurangan layanan lanjutan membuat beban tindak lanjut jatuh pada sistem kesehatan setempat.

Nikita berasal dari Dublin dan awalnya mencari operasi kelopak atas di Irlandia yang dikatakan menelan biaya lebih dari €4,000 (£3,400). Namun ia tidak mampu membiayainya. Dari TikTok, Nikita menemukan opsi bleph dari perusahaan Belanda, Faceland, dengan harga €750 (£650).

Dalam keterangannya, Nikita menyebut klinik Faceland di Düsseldorf seperti “like a conveyor belt, just one in, one out constantly”. Perusahaan menyatakan telah melakukan lebih dari 2,950 prosedur bleph untuk pasien Inggris di klinik mereka di Belanda, Jerman, dan Swiss sejak Oktober 2024, serta mengklaim “less than 1% of procedures have led to a complaint”, meskipun angka itu tidak mencakup semua pasien yang membutuhkan operasi revisi.

Nikita menjalani tindakan pada November 2025. Ia mengatakan ia tidak menyadari seberapa invasif prosedurnya, karena membandingkannya dengan pengalaman seperti “getting your lips or Botox done”. Ia juga menceritakan kondisi setelah tindakan: “Within hours, a ‘traumatised’ Nikita was boarding a plane home.” Ia menyatakan penerbangan pada hari yang sama setelah operasi tidak disarankan oleh pakar medis maupun Faceland, tetapi ia melihat banyak orang melakukan hal serupa di media sosial.

Ia menuturkan rasa sulit melihat dan perubahan pada area jahitan, “I was struggling to see,” serta mengaitkannya dengan risiko perdarahan pada bekas jahitan saat menatap ke atas. Ia merangkum penyesalan itu dengan kalimat, “I was crying blood.”

Masalah luka yang terbuka setelah jahitan dilepas

Laura—nama yang tidak disebutkan sepenuhnya—mengalami kekambuhan luka. Delapan hari setelah bleph Faceland, ia melakukan kunjungan pertama dari total empat kali ke unit gawat darurat (A&E) karena luka kelopak matanya kembali terbuka. Ia menjalani prosedur di klinik Amsterdam pada Juni, yang semula tampak berjalan lancar, tetapi gangguan muncul ketika ia melepas jahitan di rumah di Inggris.

Laura menjelaskan luka berbentuk melengkung di atas matanya sempat disatukan oleh jahitan, namun terpisah sehingga memperlihatkan luka kemerahan. Ia menyebut jaringan yang terbuka kemudian mengalami infeksi. Ia juga mengatakan bahwa kejadian itu “should hardly ever happen” bila tindakan dikerjakan dengan pelatihan yang memadai, menurut sejumlah dokter bedah dari Inggris.

Laura menyatakan upayanya untuk menghubungi saluran bantuan darurat Faceland tidak berhasil. “When I closed my eyes for too long the tension would cause my wounds to open up again,” ujarnya, dengan ketakutan yang membuatnya sulit beristirahat: “I was scared to go to sleep and was in constant agony.”

Dalam hari-hari berikutnya, ia berkomunikasi dengan dokter dari Faceland dan beberapa kali menawarkan untuk terbang kembali guna penilaian. Ia mengaku sampai pada titik putus asa: “I was crying, literally begging: ‘You can’t leave me like this’.” Namun menurut Faceland, langkah terbaik adalah mencari perawatan lokal. Laura kemudian dirujuk ke spesialis mata NHS, yang menyebut ia mengalami “excessive skin” yang diangkat.

Laura mengaku merasa bersalah karena perbaikan yang dilakukan NHS dibayarkan dari layanan publik. “I feel guilty… People will think ‘it’s your own fault’, but I would never have gone had I known what could happen.”

Faceland menyatakan tidak bisa mengomentari detail kasus Laura karena ia menempuh proses hukum. Sebagai langkah “goodwill”, komite keluhan independen yang bekerja dengan Faceland menawarkan €175 (£150), namun tawaran itu ditolak Laura.

Ketidakmampuan menutup mata dan risiko perawatan setelah tindakan

Dari pengalaman sejumlah dokter bedah di Inggris, komplikasi yang muncul paling sering pada kasus bleph di luar negeri mencakup ketidakmampuan menutup mata dengan semestinya. Temuan ini sejalan dengan survei BBC yang melibatkan 63 anggota British Oculoplastic Surgery Society (Bopss) di Inggris dan Irlandia.

Konsultan oculoplastic surgeon Colin Vize, yang tergabung dalam eksekutif Bopss, menegaskan bahaya pemotongan kulit kelopak yang berlebihan. Ia menjelaskan, “Removing too much skin from the eyelid is dangerous because it leaves the eye exposed to the elements,” serta menambahkan, “Correction can be difficult and expensive.”

Untuk menggambarkan fungsi kelopak, Vize menyebutnya seperti “a pair of curtains”. Ia menambahkan, “When you open them there needs to be a pleat, so when you close them there is enough skin to cover the eyeball.”

Selain itu, anggota Bopss melaporkan masalah lain seperti jaringan parut, bentuk mata yang tidak simetris, serta luka yang kembali terbuka. Mereka juga menyebut pernah melihat komplikasi akibat prosedur yang dilakukan oleh praktisi yang tidak terdaftar, termasuk bleph yang dikerjakan di ruang tempat tinggal (“carried out in living rooms”).

Kisah Caryn Harte memperlihatkan dampak yang dapat muncul setelah beberapa hari. Pada Hari Natal 2024, Caryn mengaku terbangun dengan kondisi sulit melihat. Ia menyebut mata kiri membengkak dan mengeluarkan darah, sementara luka di atas kedua mata mulai terbuka. “I was terrified I was going to lose my sight over a bit of excess skin,” katanya, lalu ia segera ke A&E tanpa menghubungi Faceland karena jarak.

Dokter kemudian meyakinkan bahwa penglihatannya akan tetap aman, namun wajahnya mengalami infeksi serius. Caryn diberi antibiotik dan harus menjalani pemeriksaan rumah sakit. BBC juga menyebut menerima email yang menunjukkan Caryn menghubungi Faceland dua kali untuk melaporkan kejadian, dengan balasan singkat muncul 12 hari kemudian, sebelum beberapa email lanjutan berikutnya. Faceland menyatakan, “it ‘did not leave her without support or follow-up during the aftercare process’,” dan meminta maaf bila pasien merasa kurang didukung serta mengalami komplikasi.

Menurut Vize, masalah terbesar yang dikeluhkan pasien adalah terbatasnya perawatan lanjutan. Ia menilai, “Aftercare for the typical bleph should be available to a patient 24/7,” karena jika dokter berada ratusan mil jauhnya, layanan dengan respons cepat menjadi “impossible”. Ia juga memperingatkan bahwa biaya lebih murah dalam beberapa kasus bisa berarti standar yang lebih rendah.

Di sisi lain, Nikita menggambarkan bahwa ia bahkan melepas jahitan sendiri setelah satu minggu. Ia mengaku belajar dari video TikTok dan menyatakan, “It makes you feel weak, like you’re pulling something out of your skin.” Faceland menyatakan pasien dianjurkan berkonsultasi dengan dokter mengenai kapan jahitan harus dilepas, serta diberikan informasi tentang cara melakukannya.

Sementara itu, permintaan bleph disebut meningkat seiring tren estetika yang menargetkan pengencangan, penghalusan, dan pengangkatan wajah. Dalam analisis BBC, video bleph di akun media sosial Inggris selama tiga tahun terakhir telah ditonton hampir 150 juta kali, jumlah itu lima kali lebih besar dibanding periode tiga tahun sebelumnya. Nikita dan beberapa pasien lain menggambarkan bahwa ekspektasi mereka tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan, terutama ketika biaya dipilih sebagai pertimbangan utama.

Faceland juga menekankan model bisnisnya yang berfokus pada prosedur bervolume tinggi. Perusahaan mengklaim bekerja dengan dokter medis terakreditasi yang menjalani pelatihan internal, serta menyatakan situs mereka mengusung “affordable, accessible and high quality care”. Sejumlah dokter bedah di Inggris menyebut operasi kelopak atas biasanya memakan waktu sekitar tiga jam termasuk persiapan, prosedur, dan perawatan pascatindakan, tetapi pasien yang ditemui menyebut waktu di klinik Faceland kurang dari satu jam.

Dalam narasi para pasien, perbedaan waktu, pengalaman nyeri, serta akses lanjutan menjadi titik yang paling sering disorot—dan itulah yang mendorong mereka mengingatkan calon penerima bleph agar tidak menganggap prosedur murah sebagai pilihan yang sama amannya dengan perawatan yang dikerjakan dan diawasi dekat dengan rumah.