jurnalistik.co.id – Andy Burnham memuji kesepakatan Denmark–Amerika Serikat terkait keamanan di Arktik, di tengah kritik Ed Davey yang menyebut langkah itu sekadar “kemenangan pura-pura” menjelang pertemuan perdana Donald Trump di AS.
Burnham menyampaikan apresiasi setelah kedua negara menyelesaikan sengketa yang berlangsung berbulan-bulan soal Greenland. Menurut pernyataan Downing Street, Burnham dan Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen “menyambut komitmen Amerika Serikat” terhadap kawasan tersebut dalam sebuah panggilan telepon pada Minggu pagi.
Kesepakatan itu dipandang NATO akan membantu menstabilkan wilayah. Dalam konteks yang sama, Trump menyatakan Denmark akan memberikan kontrol “permanen” atas urusan keamanan serta kebutuhan lainnya kepada AS di wilayah Artik Denmark yang bersifat semi-otonom.
Komentar Burnham muncul ketika ia dijadwalkan bertemu Trump untuk pertama kalinya pada pekan ini, tepatnya di sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) di New York. Pertemuan itu menjadi panggung lanjutan bagi agenda yang juga akan menyinggung isu yang menurut Burnham berpengaruh langsung pada warga di dalam negeri.
Ancaman dan rincian kesepakatan yang belum dipublikasikan
Kesepakatan ini mengikuti serangkaian ancaman Trump untuk “mengambil” Greenland, dengan alasan kekhawatiran keamanan nasional. Trump mengaitkannya dengan posisi strategis Greenland untuk kepentingan pertahanan, sekaligus kekayaan sumber daya mineral di wilayah tersebut.
Sampai saat ini, teks kesepakatan tidak dirilis. Namun, Trump menyampaikan melalui unggahan di Truth Social bahwa perjanjian tersebut “tanpa biaya” bagi Amerika Serikat, dan memungkinkan AS “melakukan apa yang diperlukan” untuk mengamankan serta mempertahankan keamanan Greenland.
Trump juga menyebut adanya ketentuan bahwa tidak ada pihak lawan AS yang dapat mempertahankan kehadiran militer di Greenland, atau melakukan investasi sensitif di sana tanpa persetujuan tertulis dari AS. Rincian perjanjian itu, meski belum dipublikasikan, menjadi bagian dari narasi pemerintah AS soal pengamanan kawasan.
Respons Gedung Putih dan kritik oposisi Inggris
Berita Terkait
Dalam rangkuman panggilan telepon pada Minggu, juru bicara No. 10 menyatakan Burnham dan Frederiksen “menyambut komitmen Amerika Serikat” serta menegaskan pentingnya wilayah High North bagi keamanan Euro-Atlantik. Juru bicara tersebut menambahkan bahwa Burnham menyampaikan ucapan selamat kepada Frederiksen dan Kerajaan Denmark atas proses perundingan yang dinilai memberi manfaat bagi AS, Greenland, dan Denmark, sekaligus menyatakan ia akan meneruskan ucapan tersebut kepada Presiden Trump.
Meski demikian, pemimpin Partai Liberal Demokrat, Ed Davey, tidak sependapat. Ia menyebut kesepakatan itu sebagai kemenangan “pretend” (pura-pura) untuk Trump, dan menggambarkannya sebagai salinan dekat dari perjanjian yang sudah bertahan sejak era 1950-an.
Davey mengatakan Trump tengah berusaha mengklaim keberhasilan di Greenland, tetapi menurutnya Eropa, NATO, serta negara seperti Kanada justru “berdiri tegak” menghadapi tekanan Trump dan keluar sebagai pihak yang menang. Pernyataan itu disampaikan Davey saat sesi tanya jawab pada konferensi partai.
Perundingan ini juga tidak lepas dari upaya Trump selama berbulan-bulan untuk membeli atau mengakuisisi wilayah semi-otonom tersebut. Alasan yang ia sampaikan menekankan kerentanan Greenland terhadap ancaman dari aktor lain, termasuk Rusia dan China.
Pengakuan kedaulatan dan langkah prosedural sebelum berlaku
Dalam keterangan yang menyusul kesepakatan, Frederiksen menyatakan rasa puas karena ada prospek perjanjian yang baik bagi ketiga pihak. Ia menyampaikan bahwa kesepakatan tersebut diperkirakan akan ditandatangani pada pekan depan di sela UNGA.
Frederiksen menilai perjanjian itu akan “memperkuat keamanan bersama” di Arktik dan wilayah Atlantik Utara. Pada saat yang sama, ia menekankan bahwa kesepakatan tersebut mengakui kedaulatan dan integritas teritorial Kerajaan, serta hak rakyat Greenland untuk menentukan nasib sendiri.
Keterangan bersama itu disampaikan Frederiksen dalam kerja sama dengan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen. Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa setelah penandatanganan, kesepakatan masih perlu melalui prosedur parlementer yang diperlukan agar dapat mulai berlaku.
Di sisi lain, Burnham disebut telah berbicara dengan Trump setidaknya dua kali sejak ia masuk ke Downing Street. Downing Street menyatakan Burnham berencana menggunakan UNGA untuk mendorong pekerjaan atas isu-isu yang dianggap penting bagi masyarakat Inggris, termasuk biaya hidup serta perang di Ukraina.












