jurnalistik.co.id – Andy Burnham mengatakan ia akan menyampaikan kekhawatiran kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Selasa, di sela pertemuan di KTT PBB di New York.
Burnham menyebut kebijakan Uni Eropa terkait aturan “Made in Europe” berpotensi menimbulkan “collateral damage” bagi kepentingan Inggris.
Pernyataan itu disampaikan menjelang pertemuan dengan von der Leyen, saat Burnham berada dalam perjalanan menuju Amerika Serikat.
Menurut rencana, skema tersebut ditujukan untuk membatasi peran perusahaan-perusahaan asal Tiongkok di Uni Eropa. Caranya, pabrikan yang berbasis di dalam blok akan diberi prioritas saat pengadaan kontrak publik dan menerima subsidi.
Meski tujuan yang dipaparkan berkaitan dengan pengaturan rantai pasokan dan dukungan industri, pemerintah Inggris menilai ada risiko dampak yang tidak diinginkan.
Skema yang secara resmi bernama Industrial Accelerator Act (IAA) memang masih belum final, tetapi Burnham mengatakan Inggris khawatir rancangan yang memberi keuntungan pada perusahaan di wilayah Uni Eropa justru bisa merugikan manufaktur Inggris.
Ia menegaskan kekhawatirannya dapat “affect British industry and supply chains”.
Burnham menyatakan ia akan mengangkat persoalan tersebut langsung dalam pertemuan yang diharapkan berlangsung pada Selasa di forum KTT tahunan PBB.
Dalam penjelasannya, Burnham mengatakan terdapat dukungan yang cukup luas dari negara-negara anggota Uni Eropa atas posisi yang diambil Inggris.
Ia menggambarkan bahwa “Europe’s argument is not with us”, seraya menambahkan bahwa keduanya “We both suffer the same effects as other countries, particularly steel and the issue it raises for the steel industry in Europe and in Britain.”
Burnham juga menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan dalam pertemuan tersebut.
Ia menyebut: “We are making the argument ‘we are not your enemies here… we are not the problem’. Made in Europe is dealing with a different problem.”
Selain itu, ia menekankan pendekatan yang menurutnya perlu dipilih adalah menghindari efek merugikan yang melebar.
Burnham mengatakan pihaknya menyampaikan narasi: “let’s avoid collateral damage”.
Persoalan seputar kebijakan Made in Europe, menurut laporan, turut memperlambat rencana KTT Uni Eropa–Inggris tahun ini.
Adapun rencana pertemuan itu sebelumnya juga ditunda setelah Sir Keir Starmer mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada Juli.
Di luar agenda Uni Eropa, Burnham juga menyinggung pertemuan pertamanya dengan Donald Trump.
Ia mengatakan memperkirakan bisa menemukan “common ground” dalam pertemuan tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Burnham juga menolak untuk menjawab secara tegas kemungkinan ikut dalam rencana komitmen bergabung kembali dengan Uni Eropa pada manifesto Partai Buruh berikutnya.
Ia menyampaikan bahwa hal itu adalah isu yang “for another day”.
Burnham menyebut prioritas utamanya saat ini adalah membangun ulang hubungan dengan Uni Eropa dan mencapai kesepakatan yang bersifat praktis.
Ia mengatakan tujuan itu diharapkan “practical agreement that will further boost the British economy”.
Berita Terkait
Di depan publik, Burnham juga menyatakan pidatonya pada Sidang Majelis Umum PBB nanti akan menyinggung refleksi sepuluh tahun setelah hasil referendum Brexit.
Ia menyoroti dinamika politik yang menurutnya muncul ketika pihak eksternal mencoba memengaruhi proses demokrasi Inggris.
Burnham menyebut: “turbulence comes when outside actors seek to manipulate, to distort facts, influence the British democratic process”.
Ia melanjutkan bahwa memasuki dekade berikutnya, Inggris perlu bersikap jelas terhadap tantangan tersebut.
Burnham mengatakan: “Going into the next decade, we need to be clear-eyed about that and become stronger and more on the front foot about challenging that”.
Ketika ditanya apakah ia akan menutup peluang dengan membuat komitmen untuk bergabung kembali dengan Uni Eropa pada pemilihan umum berikutnya, Burnham kembali menekankan fokusnya yang lebih mendesak.
Ia menyatakan: “Our focus at the moment is on a UK-EU summit which we hope will take place later this year”.
Ia menegaskan “My immediate priority is to build on the good work that Keir [Starmer] did in rebuilding bridges, because those bridges were broken in the early part of this decade.”
Menurutnya, langkah berikutnya adalah menaikkan level kerja sama menuju kesepakatan yang konkret.
Burnham menambahkan: “What we have got to do is now go to the next level in terms of reaching practical agreement that will further boost the British economy, and those issues are the substance of the summit alongside EU requests around youth mobility.”
Ia kemudian menegaskan bahwa pertanyaan mengenai bergabung kembali dengan Uni Eropa masih akan dibahas di waktu lain, dengan menyebutnya sebagai “another day”.
Respons terkait peluang bergabung kembali dan keanggotaan asosiasi
Selain berbicara soal hubungan Inggris–Uni Eropa, Burnham juga merujuk diskusi yang muncul dalam konferensi Partai Demokrat Liberal di Brighton.
Pada acara tersebut, Duta Besar baru Uni Eropa untuk Inggris, Jukka Salovaara, ditanya apakah Inggris dapat bergabung kembali dengan Uni Eropa, atau memperoleh status keanggotaan asosiasi.
Salovaara menyatakan: “The doors are open but it’s very much up to the UK public to identify and decide on its level of ambition when it comes to deepening cooperation with the EU.”
Burnham, dalam konteks yang berbeda, menyebut posisi yang telah ia sampaikan sebelumnya.
Ia mengatakan pada bulan September tahun lalu ia menyatakan ingin melihat Inggris kembali menjadi bagian dari Uni Eropa selama masa hidupnya.
Namun, pada awal tahun ini, Burnham juga mengatakan bahwa Brexit adalah “damaging” sekaligus menegaskan bahwa “the last thing we should do right now is re-run those arguments”.
Baru-baru ini, Uni Eropa juga mengisyaratkan bahwa Kanada dapat menjadi “associate member” pertama dalam skema yang lebih luas.
Ketika ditanya apakah opsi semacam itu bisa menjadi jalan bagi Inggris, Burnham menjawab bahwa Uni Eropa sudah memperjelas posisi tersebut.
Ia menyatakan: “The European Union made it clear that that wasn’t open to us.”
Dengan latar itu, pembicaraan pada Selasa di KTT PBB di New York diharapkan menjadi titik penting bagi Burnham untuk menyampaikan gagasannya kepada von der Leyen—khususnya terkait kekhawatiran mengenai dampak kebijakan Made in Europe terhadap industri dan rantai pasok Inggris.












