Teknologi

China Menuding Anthropic Telah Keluar Jalur

×

China Menuding Anthropic Telah Keluar Jalur

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: China Kecam Anthropic yang Dianggap Telah Menyimpang - Teknologi

jurnalistik.co.id – Menjelang dialog kecerdasan buatan (AI) antara China dan Amerika Serikat, otoritas dan akun media pemerintah China menyampaikan nada yang tegas. Dalam unggahan yang dipublikasikan pada hari Minggu, China menetapkan sejumlah syarat yang harus dipenuhi sebelum pembicaraan AI dinilai “substansial” dapat berlangsung.

Unggahan tersebut berasal dari Yuyuantantian, sebuah akun media sosial yang berafiliasi dengan stasiun penyiaran negara China CCTV. Dalam pesannya, akun itu menilai perusahaan AI asal AS, yakni Anthropic PBC, telah melakukan perilaku yang tidak pantas, sehingga perlu ada penegasan dan pembuktian terlebih dahulu terkait kepatuhan.

China menegaskan bahwa AS harus membuktikan perusahaan AI-nya tunduk pada aturan keselamatan, pengungkapan, serta audit yang sama, sebelum diskusi dengan China dapat dimulai. Pernyataan ini disampaikan sebagai bagian dari kerangka syarat untuk melanjutkan pembicaraan secara serius, bukan sekadar pertemuan teknis.

“Harus ada perbedaan yang jelas antara ancaman keamanan yang sebenarnya dan sekadar persaingan teknologi,” kata postingan tersebut, yang diterbitkan oleh akun tersebut.

Dalam lanjutan pesannya, akun Yuyuantantian menambahkan bahwa pemisahan tersebut tidak bisa ditetapkan sepihak. “Garis pemisah ini harus ditetapkan bersama oleh semua pihak yang terlibat,” tambahnya.

Dialog yang dimaksud diperkirakan akan digelar sebelum kunjungan kenegaraan Xi Jinping ke AS pada 24 September. Xi dijadwalkan menghadiri KTT bersama Donald Trump, sehingga pembicaraan seputar AI disebut sebagai bagian dari agenda diplomasi yang lebih luas pada periode tersebut.

Sampai saat ini, belum ada tanggal pasti untuk dialog AI China–AS. Selain itu, pejabat China bulan lalu masih mencari kejelasan terkait agenda pertemuan, termasuk untuk menentukan siapa saja yang akan dikirim, demikian disebut dalam laporan Bloomberg sebelumnya.

Dengan latar itu, ketegangan seputar persaingan AI antara negara dengan ekonomi terbesar di dunia terus menguat. China memposisikan diskusi AI sebagai isu yang terkait langsung dengan keselamatan dan tata kelola, bukan semata perlombaan teknologi.

Untuk mempertegas posisi tersebut, Yuyuantantian secara spesifik mengkritik model Claude milik Anthropic. Dalam unggahan itu, akun tersebut menuduh model tersebut telah melampaui batas-batas data pengguna, melakukan pemantauan terselubung, serta mengirimkan domain situs web tanpa izin.

Serangkaian tuduhan itu disampaikan sebagai dasar alasan mengapa China menginginkan adanya kesamaan standar keselamatan, pengungkapan, dan audit sebelum pembicaraan berlangsung. Dengan cara ini, isu kepatuhan dan tata kelola ditempatkan sebagai prasyarat yang harus dapat diverifikasi, bukan hanya pernyataan umum dari pihak terkait.

Di sisi lain, ancaman yang dimaksud juga dipilah dalam narasi unggahan: China ingin ada “perbedaan yang jelas” antara ancaman keamanan yang benar-benar nyata dan yang semata berasal dari persaingan teknologi. Pemisahan itu, menurut postingan, harus disepakati bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam proses diskusi.

Apabila syarat-syarat itu tidak dipenuhi, China pada praktiknya menahan ruang untuk melangkah lebih jauh dalam percakapan AI yang bersifat substansial. Penundaan atau ketidakpastian agenda—termasuk belum adanya tanggal pasti dan masih dicari-nya rincian pengiriman delegasi—semakin memperlihatkan bahwa dialog masih berada dalam tahap persiapan.

Seiring mendekatnya kunjungan kenegaraan Xi Jinping pada 24 September, pembicaraan seputar AI diperkirakan akan menjadi sorotan utama. Bagi kedua pihak, pertemuan yang direncanakan sebelum KTT dengan Donald Trump itu tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga arena untuk menguji sejauh mana standar keselamatan dan pengawasan dapat disepakati.

Dengan memasukkan tuduhan mengenai Claude—mulai dari pelampauan batas data pengguna, dugaan pemantauan terselubung, hingga klaim pengiriman domain tanpa izin—China mengirim sinyal bahwa diskusi AI akan dibingkai dengan pertanyaan keamanan dan akuntabilitas yang ketat. Pada saat yang sama, langkah ini menunjukkan bahwa persaingan teknologi akan terus diimbangi dengan tuntutan tata kelola yang terukur, sesuai batas yang ingin “ditetapkan bersama oleh semua pihak yang terlibat.”