Pendidikan

Gloria Steinem: Ikon Pergerakan Feminisme Amerika

×

Gloria Steinem: Ikon Pergerakan Feminisme Amerika

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gloria Steinem: An icon of American feminism

jurnalistik.co.id – Gloria Steinem dikenal sebagai ikon yang menandai perjalanan feminisme di Amerika Serikat. Sepanjang kariernya, ia hadir sebagai aktivis yang menggerakkan perubahan dan membawa beragam peran yang ikut mengubah hidup banyak perempuan.

Ia sering dikenali lewat kacamata hitam bergaya aviator dan rambut pirang panjang dengan helaian yang terurai. Pada era 1970-an, tampilan tersebut bahkan ia anggap sebagai sikap yang menantang tatanan yang berlaku.

Steinem dikenal lantang menyuarakan legalisasi aborsi, dukungan terhadap pernikahan sesama jenis, serta penegasan hak dan upah yang setara bagi perempuan. Ia juga memprotes hukuman mati dan praktik sunat perempuan.

Perjuangannya tidak berjalan tanpa ganjalan. Ia menghadapi reaksi balik dari berbagai pihak, termasuk pelecehan yang bisa bersifat vulgar sekaligus mengintimidasi.

Masa kecil dan jalan masuk ke akar pergerakan

Gloria Steinem lahir pada 25 Maret 1934 di Toledo, Ohio. Masa kecilnya tidak mudah, karena ayahnya, Leo Steinem, bekerja sebagai salesman keliling, sementara ia bersama ibu, Ruth, dan kakak Susanne hidup berpindah-pindah di sebuah karavan.

Ketika Steinem berusia 10 tahun, Leo meninggalkan keluarga dan pindah ke California. Sejak saat itu, Steinem membantu merawat Ruth yang telah lama mengalami gangguan mental dan halusinasi yang menakutkan.

Akibat kondisi tersebut, Steinem baru bisa bersekolah penuh waktu pada usia 12 tahun. Ia kelak menuturkan bahwa ia tidak pernah benar-benar ingin memiliki anak, karena ia sudah memiliki “seorang anak”—ibunya sendiri.

Di akhir 1950-an, ia berangkat ke India lewat beasiswa riset. Selama dua tahun, ia menjalani beragam peran, termasuk membantu perempuan-perempuan desa menyusun protes non-kekerasan terhadap kebijakan pemerintah, yang kemudian membangkitkan ketertarikannya pada aktivisme akar rumput.

Setelah meninggalkan India, ia pindah ke New York City pada awal 1960-an untuk memulai karier sebagai penulis lepas. Pada masa itu, ruang redaksi yang didominasi laki-laki membuat perempuan lebih sulit mendapatkan laporan yang tajam dan berdampak.

Momen terobosan dalam liputan: menyamar sebagai Playboy Bunny

Langkah besar Steinem terjadi pada 1963. Ia menyamar sebagai pelayan koktail “Playboy Bunny” dan menulis A Bunny’s Tale untuk Show magazine, yang memaparkan kenyataan berlapis seksisme dan kemelaratan di bawah kerajaan Hugh Hefner.

Ketika ia tiba untuk wawancara, seorang penjaga keamanan berseru, “Here bunny, bunny, bunny.” Ia memakai nama samaran Marie, dan berbohong soal usia: kepada Playboy, ia mengaku berusia 24 tahun, padahal sebenarnya empat tahun lebih tua.

Dari laporan tersebut, Steinem mengangkat kondisi kehidupan seorang Bunny yang dibayar rendah. Ia juga menuliskan rasa sakit fisik yang harus ditanggung saat mengenakan sepatu hak tinggi dan korset ketat selama berjam-jam.

Meski ketenaran—sekaligus kontroversi—datang setelahnya, Steinem tetap kesulitan agar dapat dipandang serius oleh para editor. Ekspos Playboy membantunya mendapatkan penugasan di New York Times dan New York Magazine, tetapi kerap kali topiknya masih berkisar pada urusan stokinger dan gaya rambut.

Tahun 2016, ia menyampaikan kepada New York Times, “To this day when people don’t like me they introduce me as a former Bunny, as a put-down,” lalu menambahkan, “On the other hand, I did improve the working conditions for those women.” Dengan kalimat itu, ia menegaskan bahwa liputan tersebut tetap memberi dampak pada kondisi kerja perempuan.

Pada 1968, Steinem menjadi kolumnis untuk New York Magazine dengan fokus pada isu sosial progresif dan hak-hak perempuan. Namanya kian melejit secara nasional lewat artikel After Black Power, Women’s Liberation, yang membuatnya menjadi wajah gerakan feminisme Amerika Serikat pada dekade 1970-an.

Ia juga pernah mengatakan kepada Rachel Cooke untuk The Guardian pada 2011, “I was the only woman, and after I wrote an abortion article, my [male] friends there said to me: ‘Don’t get involved with these crazy women. You’ve worked hard to be taken seriously,’.”

Pendirian Ms. dan gagasan kebebasan bereproduksi

Melihat ruang yang ada, Steinem memilih mengambil kendali. Pada 1972, ia meluncurkan Ms. magazine bersama sekelompok aktivis feminis, yang menjadi terbitan pertama yang didirikan dan dikelola sepenuhnya oleh perempuan.

Majalah itu dirancang sebagai alternatif bagi majalah perempuan lain yang umumnya menyoroti urusan rumah tangga dan mode. Kritik datang cepat, terutama dari kalangan pria, yang memandang Ms. tidak akan bertahan lama.

News presenter Harry Reasoner menyebut ia memberi waktu enam bulan “before they run out of things to say.” Namun, edisi pertama justru habis terjual dalam satu pekan dan menghasilkan 26,000 pelanggan, serta tetap terbit hingga kemudian.

Pada 1978, Steinem menulis salah satu esai Ms. yang paling terkenal dan banyak dibaca: If Men Could Menstruate. Esai satir itu terus diingat dalam pembahasan peran gender, karena menyoroti bagaimana struktur kekuasaan, politik, dan ekonomi bisa berbeda jika laki-laki memiliki siklus menstruasi.

Di ujung kariernya, Steinem menjadi penulis produktif dan kerap meraih penghargaan. Ia menulis banyak buku, termasuk memoarnya sendiri, biografi tentang Marilyn Monroe, serta kumpulan kutipan berjudul bernada sinis: ‪The Truth Will Set You Free, But First It Will Piss You Off.

Walau sudah dikenal luas sebagai salah satu aktivis feminisme paling terkenal di dunia, Steinem datang ke advokasi pada usia yang relatif belakangan, yakni ketika ia berada di usia tiga puluhan. Pada sebuah rally kesadaran aborsi pada 1969, ketika perempuan saling berbagi pengalaman tentang aborsi, ia didorong untuk menceritakan kisahnya sendiri tentang mengakhiri kehamilan.

Kisah itu terjadi bertahun-tahun sebelumnya di London saat ia berusia 22 tahun, tepat sebelum ia berangkat ke India. Pada waktu itu, aborsi di Inggris tidak legal kecuali kesehatan mental atau fisik perempuan berada dalam bahaya.

Menurut ceritanya, dokter yang menangani mengambil risiko besar dan berpesan, “You must promise me two things. First, you will not tell anyone my name. Second, you will do what you want to do with your life.” Hampir 60 tahun kemudian, Steinem melanggar janji tersebut dengan mendedikasikan memoarnya, My Life On The Road, kepada Dr John Sharpe.

Ia menggambarkan peristiwa “berbicara terbuka” itu sebagai “light bulb moment”—ketika ia menyadari Amerika Serikat membutuhkan gerakan hak-hak perempuan yang lebih besar. Hampir seketika, ia menjadi penggerak kampanye hak aborsi dan menyebutnya “reproductive freedom.”

Istilah yang ia ciptakan tersebut dikreditkan karena membuat topik itu lebih mudah didekati dalam pembahasan politik, dan hingga kini tetap dipakai dalam perdebatan seputar aborsi.

Demonstrasi, respons publik, dan serangan balik

Steinem ikut mengorganisasi mars dan cepat menjadi daya tarik di sejumlah demonstrasi. Meski begitu, ia kemudian mengakui bahwa berbicara di hadapan kerumunan besar terasa “utterly terrifying.”

Setelah Kongres gagal mengesahkan Equal Rights Amendment (ERA) pada 1970, Steinem ikut mendirikan National Women’s Political Caucus bersama pemimpin feminis lain dan lebih dari 300 perempuan di seluruh Amerika Serikat. Kelompok ini bekerja untuk memastikan perempuan terlibat dalam seluruh aspek kehidupan politik dan ruang publik.

Pada tahun yang sama, ia memberikan kesaksian dalam sidang Senat untuk ERA dan menyampaikan kepada audiens yang mayoritas laki-laki, “I have been refused service in public restaurants, ordered out of public gathering places and turned away from apartment rentals all for the clearly stated, sole reason that I am a woman.”

Gelombang feminisme second-wave terus mendapatkan momentum, dan Steinem menjadi salah satu figur paling terkenal. Namun, kritik juga datang dari berbagai arah, baik dari kelompok kiri maupun kanan.

Sejumlah pihak menilai ia terlalu glamor untuk disebut feminis yang sejati, sementara yang lain berpendapat ia sukses hanya karena penampilannya. Betty Friedan, penulis The Feminine Mystique, mengungkapkan ketidaksenangannya ketika Steinem menjadi wajah gerakan, dengan menuduh Steinem “ripping off the movement for private profit” saat meluncurkan Ms.

Friedan juga mengeluhkan bagaimana media mencoba “to make her a celebrity,” tetapi menegaskan, “but no one should mistake her for a leader.”

Presiden AS Richard Nixon tercatat dalam sebuah percakapan rahasia yang mengamuk tentang Steinem, dan Steinem merespons, “There is some opinion that Richard Nixon is the most sexually insecure chief of state since Napoleon”.

Al Goldstein, pornografer dan penerbit Screw magazine, melancarkan serangan yang termasuk mempublikasikan nomor telepon Steinem di sebelah iklan palsu untuk layanan seks oral. Ia juga mencetak gambar centrefold yang memperlihatkan Steinem versi miripannya, lalu memajangnya secara terbuka di kios koran di luar gedung kantor Ms., sehingga Steinem harus melihatnya setiap hari.

Seiring bertambahnya usia, pelecehan pada tingkat seperti itu menjadi lebih jarang. Akan tetapi, karena ia merupakan figur yang mudah dikenali di New York City, tidak jarang Steinem dihentikan di jalan oleh orang-orang asing yang ingin berdebat, kadang dengan nada yang mengarah pada permusuhan.

Meski demikian, ia menyambut perdebatan yang terus berlangsung. Pada 2020, Steinem menandatangani surat terbuka bersama tokoh publik lain yang mengecam cancel culture, dengan menyatakan bahwa praktik itu melemahkan debat terbuka dengan cara “shutting people down.”

“If you care about having the conversation, surely you want to try in a humane way to convince the other person, not do away with them,” katanya kepada The New York Times.

Romansa, pernikahan, dan warisan terakhir

Steinem pernah melontarkan sindiran, “I can’t mate in captivity,” sebuah rujukan tentang ketidaktertarikannya pada pernikahan. Namun ia tetap menikmati kehidupan kencan yang sehat dengan sejumlah pria lajang kaya dan terkenal, sehingga para kritikus memiliki lebih banyak bahan.

Di antara nama yang disebut adalah Frank Thomas yang memimpin Ford Foundation, sutradara film Mike Nichols, serta atlet decathlon Olimpiade Rafer Johnson. Rafer Johnson disebut sebagai figur yang membantu menangani pria yang membunuh Robert F Kennedy pada 1968.

Steinem menuliskan, “I was the one always accused of using men, of being too sexual. Someone once sent me a cartoon of a tombstone that said ‘at last she sleeps alone’,”

Namun pada tahun 2000, saat berusia 66 tahun, Steinem menikah dengan David Bale, seorang wirausahawan dan aktivis lingkungan kelahiran Afrika Selatan, yang merupakan ayah dari aktor Christian Bale. Banyak pihak bereaksi kaget, bahkan sejumlah feminis kecewa, karena selama bertahun-tahun mereka mengikuti perdebatan Steinem yang tajam mengenai hukum pernikahan.

Steinem menyatakan bahwa hukum tersebut akhirnya berubah. Ia menjelaskan, “If I had married when I was supposed to get married, I would have lost my name, my legal residence, my credit rating, many of my civil rights. That’s not true anymore. It’s possible to make an equal marriage,”

Ia juga mengaku pernikahan itu sempat disebut sebagai “green card marriage,” karena visa AS Bale akan berakhir. Tetapi ia menegaskan bahwa mereka saling mencintai dan tetap ingin bersama.

David Bale meninggal dunia tiga tahun kemudian karena lymphoma otak.