jurnalistik.co.id – Regulator periklanan Inggris, Advertising Standards Authority (ASA), melarang sejumlah iklan aplikasi AI yang dinilai mendorong seksualisasi perempuan lewat konten eksplisit berbasis gambar pengguna. Langkah ini diambil setelah ASA menilai iklan-iklan tersebut berpotensi menimbulkan dampak berbahaya di dunia nyata.
Dalam putusannya, ASA menyebut sikap “zero-tolerance” terhadap iklan yang mempromosikan alat AI untuk menciptakan konten yang menseksualisasi atau “objectification of women”. ASA juga menyatakan Meta sudah lebih dulu menghapus iklan yang bermasalah sebelum tindakan regulator dilakukan.
ASA menilai kelima iklan yang diblokir di Meta menampilkan perempuan secara tidak bertanggung jawab, serta berpotensi menimbulkan “serious or widespread offence”. Salah satu peringatan utama datang dari pernyataan Nicky Baker, yang menegaskan: “We take a firm line on ads that are likely to cause serious or widespread offence and these ads are a clear example of why that matters.” Ia menambahkan, “Encouraging and condoning the objectification of women and the creation of explicit content from people’s images has the potential to cause real-world harm.”
Zero tolerance
Baker juga menyebut banyak iklan yang dihentikan mendorong pembuatan konten seksual eksplisit menggunakan gambar perempuan nyata tanpa persetujuan. Menurut ASA, perubahan situasi hukum terjadi selama proses investigasi mereka, sehingga penilaian iklan di masa depan akan mempertimbangkan aturan yang berlaku sekaligus pedoman internal ASA.
Selain memerintahkan larangan iklan, ASA juga menyatakan bila ditemukan pelanggaran yang bersifat ilegal, regulator dapat memberi tahu platform maupun aparat penegak hukum. Dalam konteks Inggris, aturan ini muncul tak lama setelah negara tersebut melarang aplikasi untuk membuat deepfake nude yang tidak mendapat persetujuan—sebuah kebijakan yang dipicu kemarahan publik setelah permintaan “nudify” terhadap perempuan pada chatbot milik X.
ASA mengungkapkan iklan-iklan tersebut teridentifikasi melalui sistem pemantauan berbasis AI bernama “Active Ad Monitoring System”. Sistem ini secara proaktif mencari iklan yang berpotensi melanggar aturan di Inggris, lalu menilai apakah iklan menampilkan konten yang bersifat ofensif secara serius maupun luas.
Berita Terkait
Salah satu contoh yang disebut ASA berasal dari iklan untuk aplikasi pendamping AI. Iklan tersebut, yang dikembangkan oleh Animcha Ltd, dinilai memuat unsur seksual pada karakter yang melibatkan anak di bawah 18 tahun. ASA menyebut iklan itu memperlihatkan figur perempuan sintetis sebagai sosok yang bisa “customise” dan diajak “instruct”, dengan memadukan citra yang diseksualisasi serta pakaian bergaya anak-anak.
ASA juga menyinggung iklan lain untuk alat pembuatan potret AI bernama Nexaipic. Dalam iklan tersebut, pengguna diajak “upload your crush and let AI create what you imagine”, dengan demonstrasi video yang dinilai mengandung konten seksual eksplisit.
Lebih lanjut, ASA menyasar iklan aplikasi pengubahan gambar menjadi video yang hanya diidentifikasi sebagai KH31 DD22. Iklan itu menggambarkan seorang perempuan yang berpakaian lengkap berubah menjadi video yang menunjukkan bagian dada tanpa busana, sehingga menurut ASA ada indikasi aplikasi tersebut dapat dipakai untuk membuat konten yang mengekspos tubuh perempuan.
Untuk kategori lain, iklan Rusto AI disebut mendorong pengguna membuat video yang disisipi unsur seksual dari foto. ASA menyebut iklan-iklan tersebut condong “condoned the digital manipulation of women’s images to create sexually explicit content”. Sementara itu, iklan untuk PictoPop juga dinilai menggunakan citra bermuatan seksual untuk memperagakan fitur aplikasi, termasuk dengan menampilkan perempuan dalam posisi yang bersifat menunduk atau submissive.
Regulator menambahkan bahwa tidak ada pembuat aplikasi yang merespons permintaan keterangan dari ASA. Baker menyatakan ASA telah mengambil “proactive action” melalui putusan-putusan tersebut sebagai bagian dari pendekatan “zero-tolerance approach” terhadap iklan semacam ini.
Meskipun Meta sudah menghapus iklan tersebut karena pelanggaran aturan platform sebelum aksi ASA, perusahaan raksasa media sosial itu tetap menghadapi sorotan atas kemunculan iklan serupa di platformnya. Pada awal September, peneliti Alexios Mantzarlis melaporkan sebuah investigasi yang menemukan 11,336 iklan di Meta yang mengklaim dapat digunakan untuk mengubah gambar orang berpakaian menjadi video berisi konten seksual eksplisit. Mayoritas iklan yang ditemukan dihapus otomatis oleh Meta, tetapi Mantzarlis menyebut banyak iklan yang ia identifikasi mengarah pada domain atau penerbit yang sebelumnya diberi tanda oleh situsnya, Indicator.
Meta menolak berkomentar, namun merujuk pada tindakan yang telah diambil untuk menindak aplikasi “nudification”. Perusahaan menyebut penggunaan teknologi baru untuk mendeteksi iklan serta langkah hukum. Meta juga dilaporkan telah menghapus lebih dari 344,000 iklan untuk aplikasi “nudifying” di Facebook dan Instagram pada periode antara November 2025 dan Januari 2026.












