jurnalistik.co.id – Presiden Donald Trump kembali tampil di panggung Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa, membawa sejumlah kebijakan ke hadapan pemimpin dunia sekaligus melontarkan ancaman yang tajam. Pidatonya panjang dan menyentuh isu perang di Iran, kecerdasan buatan (AI), Kuba, serta peran militer Amerika Serikat.
Juru bicara BBC yang meliput pidato tersebut menyoroti lima momen yang paling menonjol. Di antara semuanya, benang merahnya adalah gaya diplomasi yang tetap membuka negosiasi, namun dibayangi penggunaan kekuatan.
Pesan “kekuatan Amerika” dan sinyal siap memakai daya militer
Menurut rangkuman koresponden BBC Sarah Smith dari wilayah Amerika Utara, Trump menampilkan pendekatan yang menempatkan Amerika Serikat sebagai aktor yang harus terus menunjukkan daya. Ia memang mengaku tidak memiliki penghormatan besar terhadap PBB, yang menurutnya memaksakan agenda “far-left”, tetapi ia tetap memanfaatkan forum global itu.
Dalam pidato Selasa, Trump memamerkan capaian pemerintahannya sekaligus mengklaim perannya sebagai pihak yang mampu menjadi penyeimbang perdamaian. Pada saat yang sama, ia melontarkan sejumlah ancaman terukur terkait Iran, serangan mematikan terhadap kapal kecil yang diduga terlibat penyelundupan narkoba, serta kemungkinan rezim Kuba jatuh.
Gagasan yang ingin disampaikannya jelas: Amerika masih bersedia menggunakan kekuatan militernya apabila Trump menilai itu diperlukan untuk mengamankan kepentingan nasional. Trump mengatakan ia sedang “reasserting American power” dan menonjolkan apa yang disebutnya “unmatched military might”.
Ia juga menegaskan, “The United States will no longer permit threats to America to gain a foothold anywhere in the Western Hemisphere.” Dengan kalimat itu, ia kembali memusatkan pesan pada prinsip “America First”.
Kuba walkout saat Trump menyebutnya “failed state”
Momen kedua datang dari kritik Trump kepada Kuba. Koresponden BBC Bernd Debusmann Jr melaporkan bahwa Trump menyasar salah satu tetangga terdekat AS dengan menyebut Kuba sebagai “an absolutely failed state”. Ia mengatakan pemerintahan AS sedang mengejar “a fundamental change in the situation in Cuba”.
Trump menyatakan, “It will fall,” dan saat ia melanjutkan pidatonya, delegasi Kuba meninggalkan ruang sidang. Debusmann Jr juga menulis bahwa dalam setahun terakhir, Trump makin lantang mengkritik pemerintah komunis Kuba.
Pada Selasa, Trump menggambarkan Kuba berada dalam “enormous pressure” dan “failing like never before”. Namun, ia tidak memberikan gambaran rinci tentang bentuk perubahan yang ia yakini bakal terjadi di Kuba.
Reaksi menolak pun muncul dari menteri luar negeri Kuba. Bruno Rodriguez menyampaikan kemarahan atas komentar Trump dan menuduh Trump menyebarkan “falsehoods”, serta mengatakan pemerintah AS tidak mampu menerima bahwa Kuba “is and has the right to be a full sovereign and independent country,” sebagaimana ia tulis di X.
Ancaman langsung “annihilate” terhadap Iran
Koresponden BBC Persia, Khashayar Joneidi, menempatkan ancaman terhadap Iran sebagai sorotan utama berikutnya. Trump memberi Iran pilihan tegas di Sidang Umum PBB: mencapai kesepakatan dengan AS untuk membangun kembali negara, atau menghadapi “rapid ‘annihilation’ of the Islamic Republic”.
Ia juga kembali memprediksi bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang kemungkinan akan menyusul setelah pemilihan paruh waktu (midterm elections) di bulan November. Retorika ini, menurut narasi liputan BBC, menunjukkan strategi diplomasi koersif: negosiasi tetap dibuka, tetapi ancaman kekuatan berlebihan terus dibiarkan menggantung.
Berita Terkait
Namun, Joneidi menyoroti bahwa pilihan kata Trump mengaburkan batas antara menghancurkan tatanan politik dan mengancam Iran sebagai entitas. Dalam pidato, pengulangan penekanan seperti “obliterate” yang sebelumnya diposting Trump terkait fasilitas pembangkit daya milik Iran, menambah perhatian pada gaya retorika tersebut.
Menurut analisis BBC, rujukan pada kalimat soal “leaving ‘no chance of survival’” dan “no hope” bagi generasi mendatang berpotensi memperkuat kekhawatiran serupa. Ada pula ironi bahwa ancaman itu disampaikan di institusi yang didirikan untuk menyelamatkan generasi mendatang dari perang.
Meski demikian, Joneidi menilai pidato Trump tidak serta-merta menjadi pengakuan diplomasi gagal. Pidato itu lebih dibaca sebagai upaya mendefinisikan syarat negosiasi yang mungkin, yakni AS tetap membuka peluang kesepakatan, tetapi hanya di bawah bayang-bayang ancaman eksistensial.
Trump memuji kesepakatan keamanan baru dengan Greenland
Momen berikutnya berkaitan dengan Greenland. Koresponden BBC Bernd Debusmann Jr melaporkan bahwa Trump memuji kesepakatan baru yang, menurutnya, akan membuat AS membangun dua pangkalan militer di wilayah Arktik tersebut.
Trump menyatakan, “We will have the complete ability to do what is necessary to defend the American continent and also Europe.” Ia merujuk pada kesepakatan yang pertama kali diumumkannya pada Jumat lalu, dan menambahkan bahwa perjanjian itu “very much enhances” aliansi pertahanan NATO.
Debusmann Jr juga mencatat adanya upacara penandatanganan bersama di PBB tak lama setelah pidato Trump. Ia menjelaskan bahwa meski Greenland merupakan wilayah semi-otonom, wilayah itu berada di dalam Kerajaan Denmark, yang terutama menangani kebijakan luar negerinya.
Pejabat pemerintahan AS menggambarkan perjanjian ini sebagai penguatan keamanan AS dengan biaya minimal, sekaligus tetap menjaga hubungan. Namun, pemerintah Denmark dan Greenland disebut berharap kesepakatan itu mengakhiri perselisihan berkepanjangan yang bermula saat Trump mengancam mengambil Greenland dengan paksa.
Beberapa detail mengenai bentuk kesepakatan yang dimaksud tidak dikonfirmasi secara luas. Karena sebelumnya Trump sempat mencoba membeli atau menguasai wilayah semi-otonom itu, sebagian analis memandang langkah ini sebagai kemenangan yang lebih “sunyi” untuk diplomasi.
Upaya mengubah label AI menjadi “Super Intelligence”
Sorotan terakhir adalah cara Trump membingkai ulang teknologi AI. Koresponden BBC dari New York, Nada Tawfik, menulis bahwa Trump memberi nama baru pada AI dalam pidatonya: “Super Intelligence”.
Tawfik mencatat Trump berkata, “The use of the word artificial makes it sound fake,” lalu melanjutkan, “It’s not fake, it’s actually amazing. But we have to be careful.” Ia juga menutupnya dengan, “Welcome to the new world of Super Intelligence – SI,”.
Tawfik menambahkan bahwa Trump sebelumnya kerap mendorong posisi AS untuk menang dalam perlombaan pengembangan AI. Ia dikutip pernah mengatakan, “Whoever wins AI, wins.”
Dalam pidatonya, Trump juga disebut menolak pengaturan pemerintah dan tidak ingin memperkenalkan pagar pengaman baru. Tawfik menilai sikap itu menempatkannya berbeda dengan banyak pihak yang hadir di PBB dan menyerukan regulasi.
Bagi pihak yang meminta aturan, pertanyaan besarnya adalah apakah proses diplomasi yang berjalan lambat mampu mengimbangi perkembangan AI yang bergerak cepat. Dengan cara itulah kelima momen dalam pidato Trump—mulai dari retorika kekuatan, walkout Kuba, ancaman terhadap Iran, kesepakatan Greenland, hingga permainan istilah untuk AI—menghasilkan satu gambaran utuh tentang cara AS menekan dan sekaligus memaksa arah perundingan internasional.












