jurnalistik.co.id – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pesan yang tegas kepada Donald Trump dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia menegaskan bahwa Teheran tidak akan “bend the knee” meski perang telah berlangsung hampir tujuh bulan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian saat berbicara di Sidang Umum Majelis Umum PBB, menyusul ancaman Trump untuk “annihilate” Iran apabila kesepakatan tidak segera tercapai. Menurut Pezeshkian, tekanan dan sanksi tidak akan melemahkan sikap Iran, melainkan justru meningkatkan perlawanan.
Dalam pidatonya, Pezeshkian mengatakan, “He must know that the resistance of the Iranian people will only increase in the face of sanctions, increased pressure, increased bullying.” Kalimat tersebut menjadi inti respon Iran terhadap retorika keras dari Washington.
Ia juga menyatakan bahwa setiap kesepakatan yang mungkin dicapai harus memuat elemen yang spesifik. Salah satu syarat yang ia tekankan adalah penghentian blokade AS terhadap kapal serta pelabuhan Iran.
Pezeshkian menyebutkan, “It cannot be the case that everyone benefits from the Strait of Hormuz while we are denied access,” dan menyampaikan penolakan terhadap skenario yang memungkinkan pihak lain menikmati manfaat jalur tersebut tetapi Iran tetap dibatasi.
Persoalan Selat Hormuz dan dampaknya pada perdagangan energi
Selat Hormuz menjadi fokus utama dalam ketegangan terbaru karena jalur ini biasanya dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas global. Sejak awal perang pada akhir Februari, selat itu dinilai efektif “tertutup” akibat kombinasi serangan Iran terhadap kapal komersial dan blokade yang dilakukan AS.
Serangan tersebut melibatkan rudal dan drone Iran ke kapal-kapal komersial. Di saat yang sama, langkah pemblokiran dari AS memperketat akses di kawasan yang strategis tersebut.
Awal musim panas sempat membawa secercah harapan. AS dan Iran pernah mencapai kesepakatan pendahuluan untuk mengakhiri perang serta membuka kembali Selat Hormuz pada Juni.
Niat tersebut tidak bertahan lama. Kesepakatan itu runtuh dalam hitungan minggu setelah serangan Iran terhadap pengiriman laut komersial kembali terjadi dan AS kemudian memberlakukan kembali blokade.
Upaya komunikasi tidak langsung di sela Sidang Umum PBB
Berita Terkait
Dalam perkembangan lanjutan, pada Selasa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan AS Steve Witkoff melakukan pembicaraan tidak langsung. Pertemuan itu berlangsung di sela Sidang Umum Majelis Umum PBB di New York dan difasilitasi mediator dari Qatar.
Witkoff menyatakan harapannya agar diskusi yang berlangsung menjadi langkah yang berarti. Ia menyebut, “I hope the discussions – the first since June – would ‘prove constructive and promising’,” sembari menegaskan mediator akan terus melanjutkan perannya.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqai menyampaikan pandangan berbeda. Ia mengatakan pembicaraan tersebut “not anything new” dan menegaskan Araghchi tetap mempertahankan syarat-syarat yang diajukan Iran.
Menurut Baqai, kondisi Iran mencakup penghentian blokade AS terhadap kapal dan pelabuhan Iran. Selain itu, Iran juga menuntut pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Respons terhadap ancaman dan sinyal keberlanjutan konflik
Langkah-langkah saling mengikat itu menunjukkan bahwa negosiasi tidak bisa dilepaskan dari dinamika perang yang telah memakan waktu hampir tujuh bulan. Di saat AS mengaitkan urgensi kesepakatan dengan ancaman konsekuensi besar, Pezeshkian justru menekankan ketahanan publik dan daya tahan strategi Iran.
Pidato Pezeshkian juga memperlihatkan bahwa persoalan akses dan kontrol di Selat Hormuz dipandang oleh Iran sebagai titik yang tidak bisa ditawar. Baginya, manfaat jalur energi global tidak boleh berjalan sepihak sementara akses Iran tetap ditutup.
Dari sisi Amerika Serikat, pembicaraan yang pertama kali sejak Juni itu menjadi indikator bahwa saluran diplomasi masih dibuka. Pernyataan Witkoff yang menggambarkan diskusi sebagai “constructive and promising” menunjukkan keinginan AS untuk menguji kemungkinan kemajuan.
Meski begitu, penolakan Iran terhadap narasi “hal-hal yang baru” mengisyaratkan bahwa setiap kemajuan akan sangat bergantung pada pemenuhan syarat yang dianggap mendasar. Dengan mempertahankan tuntutan terkait blokade dan pelepasan aset, Teheran tampak ingin memastikan negosiasi tidak berhenti pada pembahasan umum.
Dalam situasi seperti ini, ancaman dan peringatan menjadi bagian dari komunikasi yang sejajar dengan upaya mediasi. Namun, apakah Selat Hormuz dapat kembali terbuka sepenuhnya akan tetap ditentukan oleh kesediaan kedua pihak untuk mengubah struktur yang selama ini membuat perdagangan laut menjadi sangat berisiko.
Di tengah jalan yang belum menemukan titik temu, pesan Pezeshkian terdengar sebagai penegasan posisi. Ia menyatakan Iran tidak akan tunduk, seraya menyodorkan jalur diplomasi hanya jika syarat yang dituntutnya dipenuhi.












