Peristiwa

CEO RNLI: Pelecehan relawan “sepenuhnya tidak dapat diterima”

×

CEO RNLI: Pelecehan relawan “sepenuhnya tidak dapat diterima”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Abuse of RNLI volunteers 'wholly unacceptable', chief says

jurnalistik.co.id – Chief executive RNLI, Peter Sparkes, menyatakan pelecehan terhadap relawan dan stafnya telah terjadi sejak akhir pekan, setelah rangkaian aksi protes terkait migrasi. Menurutnya, bentuk perlakuan tersebut “wholly unacceptable in a civilised society” dalam masyarakat modern.

Sparkes mengatakan relawan RNLI menghadapi serangan baik di ruang daring maupun secara langsung. Ia juga menyinggung adanya “deliberate misinformation and a misunderstanding” mengenai RNLI, termasuk tujuan dan tugas organisasi, “particularly our lifesaving work in the Channel”.

Ia mengecam ancaman yang ditujukan kepada pihak RNLI, termasuk pernyataan “those who would hide behind a balaclava or a keyboard”. Sparkes menekankan bahwa relawan tidak layak diperlakukan demikian hanya karena keterlibatan mereka dalam upaya penyelamatan di laut.

Aksi protes di Portsmouth terjadi pada hari Minggu. Polisi berhadap-hadapan dengan demonstran yang memblokir jalan di kota tersebut untuk menghentikan sekitar 140 orang yang tiba di area pelabuhan feri Eastney Landing, dengan bantuan RNLI.

Menurut pemberitaan, demonstrasi tersebut muncul setelah aksi terpisah pada hari sebelumnya. Dalam aksi sebelumnya, ratusan demonstran bermasker yang menyerukan “stop the boats” membuat Pelabuhan Dover berhenti total.

Sparkes menyebut bahwa situasi protes kemudian diikuti unggahan video di media sosial. Dalam unggahan itu, relawan dari organisasi yang berbasis di Poole diberi label “traitors”.

Dalam pernyataan yang dirilis pada hari Selasa, Sparkes menyatakan, “Recent events have generated deliberate misinformation and a misunderstanding about the RNLI – our purpose, our tasking, and particularly our lifesaving work in the Channel.” Ia menambahkan, “Sadly, as a result, some of our volunteers and staff have been the subject of online and, in the worst cases, physical abuse.”

Ia juga menegaskan bahwa orang-orang RNLI merepresentasikan nilai terbaik di masyarakat. Ia menuturkan, “The RNLI’s people represent the very best in our society, they selflessly give up their time to keep others safe.”

Selain itu, Sparkes menyampaikan bahwa RNLI akan mengambil langkah-langkah perlindungan. Pernyataannya berbunyi, “We will take whatever steps we can, to care for and protect our people and their families.”

Sementara itu, Digital Secretary Lisa Nandy mengatakan ia telah berdiskusi dengan perusahaan teknologi terkait penyebaran informasi. Ia merespons Vikki Slade, anggota parlemen Liberal Demokrat untuk Mid Dorset and North Poole, yang menyoroti adanya postingan yang “put children and adults’ safety at risk through doxxing”.

Slade disebut menanggapi “some very disturbing posts” di media sosial yang mengidentifikasi “brave RNLI rescuers”. Dalam konteks itu, Nandy menyampaikan bahwa ia berbicara dengan pihak-pihak teknologi tentang pembagian nama, alamat, serta foto relawan dan staf RNLI yang dilaporkan beredar secara daring.

Ketika ditanya di Commons mengenai apa yang dapat dilakukan pemerintah untuk menghapus postingan yang membahayakan keselamatan, Nandy menyatakan, “It is something that the government is concerned about [and] I’m personally concerned about.”

Dalam perkembangan lain, BBC melaporkan bahwa permintaan untuk mengizinkan pendaratan perahu RNLI yang membawa para migran ditolak oleh Portsmouth harbour dan Southampton Port. Penolakan tersebut menjadi bagian dari rangkaian keputusan yang ikut memicu ketegangan di lokasi-lokasi pelabuhan.

Sparkes juga menggambarkan isu migrasi ilegal sebagai persoalan yang “polarising subject”. Ia meminta masyarakat agar “be mindful of misinformation” karena “the impact it has upon others”.

Ia menegaskan bahwa RNLI menjalankan misinya dengan tujuan mencegah orang tenggelam. “Be reassured that the RNLI and our crews strive only to prevent people like you and me from drowning at sea,” katanya, seraya menambahkan, “Stand by them, not against them and their families.”

Sparkes mengaitkan penegasan tersebut dengan data operasional. Ia menyatakan rasa bangga dan terima kasih atas pekerjaan penyelamatan yang, menurutnya, membuat “389 families welcomed their loved one homes safely last year.”

Ia juga memaparkan proporsi peluncuran kapal penyelamat. Dari total 9,058 peluncuran kapal RNLI pada 2025, sebanyak 109 dilakukan untuk kasus “in distress in the Channel”, yang berarti 1.2% dari keseluruhan pekerjaan penyelamatan organisasi.

Selain itu, Sparkes menyebut hampir 95% perahu kecil dicegat oleh UK Border Force. Ia menambahkan bahwa fokus misi RNLI berada pada penyelamatan ketika ada bahaya tenggelam.

Penegasan penutup dari Sparkes adalah: “Our mission, and our tasking is to rescue those women, children and men in danger of drowning,” tambahnya. Di tengah ketegangan aksi-aksi protes, pernyataan itu menjadi kerangka yang ia gunakan untuk menjelaskan tujuan RNLI dan menolak narasi yang ia nilai keliru.