jurnalistik.co.id – Otoritas penerbangan sipil Afrika Selatan, SACAA, menyatakan maskapai Airlink tidak akan mengulang atraksi udara serupa di akhir pekan ini setelah insiden pameran udara pekan lalu yang melibatkan dua pesawat terbang rendah di dekat stadion.
Keputusan pembatalan itu diumumkan SACAA menyusul pemeriksaan lanjutan yang masih berlangsung, setelah otoritas menyebut adanya pembahasan di media terkait keselamatan dan pelaksanaan flyby.
Dalam keterangannya, SACAA menjelaskan bahwa pihaknya sebelumnya telah menyetujui pengajuan serta langkah-langkah keselamatan untuk manuver terbang tersebut. Namun, regulator tetap melakukan evaluasi tambahan karena hasilnya kini sedang dikaji lebih jauh.
SACAA juga menegaskan bahwa Airlink sejatinya sudah mematuhi prosedur yang benar ketika menjalankan operasi pada Sabtu lalu, meski pengkajian tetap dilanjutkan untuk memastikan aspek keselamatan dan kepatuhan berjalan sesuai ketentuan.
Menurut regulator, Airlink kini telah memperoleh rekaman unduhan data pencatatan penerbangan serta memenuhi persyaratan tambahan lainnya yang dibutuhkan untuk analisis lanjutan. SACAA menilai langkah tersebut penting sebelum penerbangan berikutnya dipertimbangkan.
Regulator juga menekankan sikapnya soal keselamatan penerbangan. SACAA menyatakan, “SACAA, as the safety net of the South African skies, gives the public the assurance that aviation safety and security compliance will always remain paramount and is not negotiable,” dalam pernyataan yang menyoroti bahwa kepatuhan keselamatan tidak bisa ditawar.
Airlink sebelumnya disebut menjalankan penerbangan dengan batas ketinggian dan kecepatan yang “approved and rehearsed safety altitude and speed limits for the flypast”, serta dilakukan oleh “highly experienced crew”. Pernyataan maskapai ini muncul sebagai respons atas pelaksanaan flyby saat akhir pekan lalu.
Berita Terkait
Namun, SACAA menyatakan perusahaan tidak akan mengulang penerbangan di stadion Soweto, Johannesburg, yang menjadi lokasi uji coba ketiga dan menentukan bagi tim Springboks melawan All Blacks.
Flyby pada Sabtu lalu sempat menjadi sorotan luas karena dilakukan dengan formasi dekat dan terbang pada ketinggian sangat rendah melintasi area stadion. Situs pelacak penerbangan Flightradar24, berdasarkan analisisnya, menyebut bahwa pesawat utama melewati titik dengan ketinggian kurang dari 50 feet (15 meter) di atas bagian teratas stadion.
Dari sejumlah sudut pandang, dua jet itu tampak sangat dekat dengan atap DHL Stadium saat melintas sambil mengeluarkan asap flare berwarna. Rekaman aksi tersebut kemudian menyebar dan ditonton secara luas, termasuk setelah dibagikan di konteks acara olahraga.
Dalam laporan tersebut disebutkan pula bahwa rekaman air show pekan lalu muncul di berbagai platform setelah acara berlangsung sebelum pertandingan rugby yang mempertemukan South Africa dan New Zealand, yang juga mendapat perhatian global saat momen-momen pentingnya dibagikan.
Terkait pembatalan untuk akhir pekan ini, Airlink belum memberikan komentar langsung terhadap laporan bahwa atraksi Sabtu yang direncanakan tampil di atas stadion Soweto tidak akan dilanjutkan sebagaimana rencana.
SACAA menambahkan bahwa walaupun penerbangan pada prinsipnya telah mendapatkan persetujuan melalui proses aplikasi dan pemeriksaan keselamatan, regulator tetap memerlukan analisis lanjutan setelah “discussions in the media”. Dengan demikian, keputusan pengulangan flyby tidak semata didasarkan pada persetujuan awal, melainkan juga pada evaluasi data dan kebutuhan tambahan yang dipandang perlu.
Flyby low-flying seperti ini telah berulang kali menjadi bagian dari berbagai acara olahraga dan momen kenegaraan di Afrika Selatan dalam sejumlah tahun terakhir. Praktiknya dapat melibatkan jet militer maupun pesawat dari maskapai komersial.
Meski Airlink menegaskan penerbangan Sabtu lalu dilakukan sesuai batas keselamatan yang telah disetujui dan dipraktikkan, SACAA memilih menahan rencana pengulangan hingga proses verifikasi lanjutan selesai—sebagai bagian dari prinsip kepatuhan keselamatan yang disebut regulator sebagai prioritas utama yang tidak dapat di-negosiasikan.












