jurnalistik.co.id – Di Southampton, skuter listrik terlihat hampir sama wajarnya dengan sepeda motor listrik jenis lain di ruang publik. Namun, di balik kebiasaan yang sudah terbentuk sejak uji coba, aturan yang mengatur skuter listrik justru belum kunjung mencapai titik akhir.
Keith Reed mengatakan skuter sewaan menjadi pilihan paling praktis untuk perjalanannya. “It’s just the most convenient way to commute from home to the station and back,” katanya saat tiba di Southampton Central untuk mengejar kereta ke London. Ia menggunakan skuter sewaan dua kali seminggu, sementara opsi lain baginya adalah bersepeda, meski ia juga harus memikirkan tempat meninggalkan sepeda.
Di sekitar kota, area parkir untuk skuter sewaan berwarna oranye terang tersedia di banyak titik, meski tidak selalu menjadi fitur permanen. Selain skuter uji coba, ada pula skuter milik pribadi yang beredar di luar skema tersebut.
Menurut informasi yang disampaikan, skuter listrik milik pribadi tidak boleh digunakan di jalan umum di seluruh Inggris Raya. Meski begitu, perangkat tersebut tetap bermunculan. Seorang ahli menggambarkan situasinya sebagai “Wild West”, sementara kekhawatian warga yang ditemui berulang kali mengarah pada persoalan keselamatan.
Fred, seorang pejalan kaki yang sudah berusia lanjut, menyebut skuter sebagai “a blinking nuisance”. Sementara Martin menyatakan ia “very concerned” setiap kali melihat skuter melaju kencang di area pejalan kaki, karena “An accident’s almost inevitable.”
Ujung dari uji coba pemerintah adalah menentukan apakah skuter listrik sewaan seperti yang dipakai Keith akan diberlakukan lebih permanen, sekaligus memutuskan apakah undang-undang perlu memberi jalan agar skuter milik pribadi dapat dilegalkan dan diregulasi. Akan tetapi, enam tahun setelah uji coba dimulai, belum ada kesimpulan. Karena Inggris memegang tanggung jawab legislasi lalu lintas jalan untuk Great Britain, pejabat di Skotlandia dan Wales disebut menunggu keputusan dari Westminster.
Untuk memahami perdebatan itu, perlu melihat definisi teknis skuter listrik. Departemen Transportasi (DfT) menyebut skuter listrik sebagai kendaraan tanpa pedal, dengan dua roda, serta memiliki batas daya kontinu maksimum 500W.
Di kawasan uji coba, perangkat tersebut disebut cukup diminati. DfT melaporkan bahwa dari Januari 2022 hingga Mei 2024, tercatat 36,9 juta perjalanan di 30 area uji coba di luar London. Rata-rata, hampir 19.500 skuter tersedia untuk disewa setiap hari.
Dr Yasir Ali, dosen Transport Modelling di Loughborough University, menilai skuter listrik bersifat “complementary” terhadap moda transportasi lain, bukan pengganti. Ia menjelaskan, karena faktor seperti jangkauan dan paparan cuaca, skuter cenderung kurang cocok untuk perjalanan lebih jauh, wilayah pedesaan dengan infrastruktur terbatas, atau kondisi cuaca buruk. Skuter disebut paling efektif sebagai solusi “a first- and last-mile” di kawasan perkotaan untuk mengurangi ketergantungan pada mobil untuk perjalanan singkat.
CoMoUK melalui laporan 2025 juga mengaitkan penggunaan skuter sewaan dengan kebutuhan mobilitas harian. Laporan itu menyebut lebih dari separuh pengguna sewaan memakai skuter untuk pergi bekerja atau sekolah, serta analisis data DfT menunjukkan mayoritas pengguna berjenis kelamin laki-laki dan berusia di bawah 35 tahun. Yan Zhang, yang bekerja di universitas Southampton dan tidak mengemudi, menggambarkan alasannya: “Sometimes it’s a bit difficult to take the bus from dot to dot”, sehingga untuk jarak yang lebih pendek ia memilih skuter.
Laporan CoMoUK menyebut sekitar setengah responden menggunakan skuter bersama moda lain, seperti perjalanan menuju stasiun kereta. Evaluasi nasional terhadap uji coba yang terbit pada 2022 menemukan bahwa meski sebagian pengguna mungkin akan mengemudi jika tidak ada skuter, “modal shift” terbesar—peralihan cara bepergian—terjadi dari berjalan kaki. Temuan ini kemudian memunculkan pertanyaan tentang seberapa besar dampak kesehatan publik dari penggunaan skuter.
Sementara itu, penggunaan skuter milik pribadi tidak tercermin dalam riset uji coba. DfT menyebut antara 760.000 hingga 1,2 juta orang di Inggris berusia 16 tahun ke atas memiliki skuter, meski penggunaannya di jalan umum tetap ilegal. Dalam perspektif hukum, skuter listrik diperlakukan sebagai kendaraan bermotor; di luar uji coba, skuter tidak bisa diasuransikan, sehingga hanya boleh digunakan secara legal di lahan privat dengan izin pemilik.
Berita Terkait
Uji coba sendiri berjalan dengan aturan ketat. Kecepatan maksimum dibatasi, operator wajib mengasuransikan perangkat, dan pengguna harus memiliki SIM penuh atau sementara. Pengguna juga tidak boleh mengendarai di trotoar, sementara helm direkomendasikan namun tidak diwajibkan.
Richard Dilks, CEO CoMoUK, mengatakan penggunaan massal sesuatu yang “inherently low-carbon, low-impact, low-cost” adalah “good thing”. Namun ia menambahkan masalahnya bukan pada niat, melainkan ketiadaan aturan “of engagement” mengenai bagaimana perangkat tersebut seharusnya ditunggangi. Yasir Ali kemudian menekankan disparitas: “we are increasingly in a situation where the law and reality have diverged”, sehingga muncul “the disadvantages of e-scooter use without securing the full benefits of regulation”.
Kembali ke Southampton, kisah pelanggaran aturan juga muncul di lapangan. Seorang perempuan mendorong skuter listrik berwarna hitam, dan ia menyatakan tidak ada yang memberitahunya bahwa perangkat itu ilegal untuk digunakan di jalan. DVSA disebut memiliki unit pengawasan untuk memeriksa apakah pengecer mematuhi aturan hukum, tetapi investigasi oleh Press Association pada bulan ini menemukan ada pengecer yang memasarkan skuter untuk tujuan komuter.
Polisi juga menyebut mereka sering melihat anak-anak mengendarai skuter milik pribadi secara ilegal. Margaret Winchcomb, wakil direktur eksekutif di Parliamentary Advisory Council for Transport Safety (PACTS), menyatakan sebagian perangkat itu dipasarkan khusus untuk anak-anak. Menurut polisi, mereka akan menyita skuter yang digunakan secara ilegal dan sering kali menghancurkannya.
Meski kerap ada operasi penertiban, tantangan penegakan tetap besar. Insp Matt Boiles dari tim patroli jalan Avon dan Somerset menjelaskan persoalan muncul bahkan pada perangkat uji coba yang legal, misalnya ketika orang mengendarai setelah minum alkohol yang dihitung sebagai drink-driving, atau ketika ada penumpang lain di bagian belakang.
Boiles menambahkan bahwa skuter milik pribadi yang dikendarai ilegal di ruang publik terlihat “all the time, every single day”. Ia juga menekankan bahwa perangkat tersebut sulit ditangkap, dan pengejaran dari kendaraan polisi tidak selalu aman. Soal dampaknya, ia menyampaikan banyak orang tua harus datang ke kantor polisi dan “getting very, very upset” saat skuter anak mereka seharga £500 disita, namun “the legislation is really, really clear that you can’t have it back”.
Isu keselamatan menjadi alasan utama kekhawatiran publik. Ada risiko kebakaran bila perangkat yang baterainya berbasis lithium dibiarkan mengisi daya tanpa pengawasan, dan sejumlah operator kereta melarang skuter listrik di dalam rangkaian. Selain itu, pengendara tidak terlindungi ketika terjatuh atau tertabrak kendaraan bermotor, dan bersama e-bikes, skuter dapat terlibat tabrakan yang melukai pejalan kaki.
Kecepatan juga membentuk perbedaan. Banyak skuter uji coba dibatasi hingga 12,5 mph, sementara skuter milik pribadi tidak memiliki pembatasan kecepatan seperti itu. Bahkan, sejumlah koroner pernah mengangkat perhatian terhadap persoalan ini, termasuk seorang koroner di London yang pada 2022 menyerukan tindakan setelah kematian Fatima Abukah, anak berusia 14 tahun, akibat insiden dengan skuter milik pribadi.
DfT mencatat pada 2024—tahun terbaru yang tersedia—tercatat 1.390 korban dalam tabrakan yang melibatkan skuter listrik di Inggris, Skotlandia, dan Wales. Angka itu bertambah tiga dibanding 12 bulan sebelumnya. Mayoritas korban, 1.096 orang, adalah pengguna skuter. Dari keseluruhan korban, 302—terbanyak untuk kategori umur dan jenis kelamin—adalah laki-laki usia 10 hingga 19 tahun. Pada 2024 tercatat enam kematian, tidak berubah dibanding tahun sebelumnya; lima di antaranya pengendara dan satu lainnya pejalan kaki.
Winchcomb mengatakan statistik polisi “aren’t reflective of the number of injuries”, sehingga ia memandang gambaran cedera bisa tidak sepenuhnya terukur. Meski demikian, para kampanye menyatakan cukup bukti untuk segera memberlakukan regulasi. Carly Calland menyampaikan kesaksian melalui keluarganya: putranya Jacob berusia 14 tahun meninggal pada Maret 2025 akibat cedera kepala yang sangat serius. Ia adalah penumpang dalam insiden yang melibatkan skuter listrik dan sebuah mobil.
Carly, yang berasal dari Wythenshawe di Greater Manchester, mengatakan ia tidak menolak skuter listrik. Perangkat itu “are really good for people to get to work, and they are eco-friendly”, tetapi menurutnya “they just need to be used in the correct way”. Ia berpendapat bila skuter milik pribadi dilegalkan untuk digunakan di jalan publik, harus ada helm wajib, larangan mengangkut penumpang, serta sanksi untuk orang tua yang membiarkan anak mengendarai skuter secara ilegal.
Ia menegaskan dampak yang ia rasakan, “If Jacob was wearing a helmet that day, he would still be here”. Dalam konteks penundaan aturan, seluruh potret di lapangan—mulai dari pelanggaran yang terus terjadi hingga risiko kecelakaan—mendorong semakin kuat desakan agar regulasi segera diselesaikan, bukan dibiarkan terus tertinggal dari realitas penggunaan.
Jika situasi semacam ini berlanjut, perbedaan antara “the law” dan “reality” yang disebut Yasir Ali akan makin nyata, sementara bukti yang dihimpun DfT dan kesaksian warga tetap menuntut jawaban yang tegas mengenai keselamatan serta tata cara penggunaan skuter listrik.












