Teknologi

Polri: Pelajar Berpotensi Jadi Korban hingga Pelaku Kejahatan Berbasis AI

×

Polri: Pelajar Berpotensi Jadi Korban hingga Pelaku Kejahatan Berbasis AI

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Polri Ingatkan Pelajar Berpotensi Jadi Korban hingga Pelaku Kejahatan AI

jurnalistik.co.id – Polri menegaskan, laju perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) tidak hanya membuka peluang, tetapi juga menghadirkan risiko nyata bagi pelajar.

Menurut kepolisian, AI dapat membuat siswa menjadi sasaran kejahatan, sekaligus berpotensi menjadikan mereka pelaku jika tidak memahami etika serta batasan dalam memanfaatkan teknologi.

Kepala Biro Teknologi Informasi dan Komunikasi (Karo Tekkom) Divisi Teknologi Informasi dan Komunikasi (Divtik) Polri, Brigjen Pol Indarto, menyampaikan peringatan itu dalam keterangan yang disampaikan pada Selasa (21/7/2026).

Indarto menekankan perlunya pencegahan sejak dini. Ia mengatakan, “Adik-adik itu berpotensi untuk menjadi korban kejahatan di bidang AI, berpotensi juga menjadi pelaku. Nah untuk itu kita cegah, kita mitigasi dengan cara seperti ini,”.

Sebagai respons, Polri menggelar Training of Trainers (ToT) Program Paham Artificial Intelligence (AI) Tahun 2026 di Jakarta, pada Selasa (21/7/2026). Kegiatan itu ditujukan untuk menyiapkan para trainer yang akan memberi edukasi literasi AI kepada pelajar di berbagai daerah.

Indarto menilai edukasi AI menjadi penting karena penggunaan teknologi tersebut telah banyak dilakukan secara mandiri oleh mayoritas pelajar. Hal ini, menurutnya, perlu diimbangi pendampingan agar pemanfaatannya tidak menyimpang.

Berdasarkan hasil riset terhadap 11.550 pelajar di Jawa Tengah, sebanyak 94 persen siswa mengaku sudah mampu menggunakan AI. Namun, Indarto menyebut sebagian besar mempelajari teknologi itu secara otodidak tanpa pendampingan yang memadai.

Pelajar perlu paham manfaat dan batasan

Dalam pandangan Polri, edukasi sejak dini diperlukan supaya pelajar memahami manfaat AI sekaligus mampu mengenali potensi penyalahgunaan. Langkah tersebut diharapkan dapat membentuk kebiasaan yang lebih bertanggung jawab saat menggunakan teknologi.

Indarto menyebutkan bentuk penyalahgunaan yang perlu diwaspadai meliputi penipuan digital dan penyebaran konten palsu, termasuk berbagai ragam kejahatan siber lainnya. Dengan literasi yang tepat, pelajar diharapkan lebih cepat mengidentifikasi modus yang merugikan.

ToT yang berlangsung kali ini diikuti 65 peserta. Rinciannya, 55 personel calon trainer berasal dari 11 Polda pilot project, sementara 10 peserta lainnya merupakan master trainer dari Polda Jawa Tengah.

Usai mengikuti pelatihan, peserta ditargetkan menjadi pengajar yang menyebarluaskan Program Paham AI di level Polda hingga Polres. Polri memandang alur pelatihan berjenjang itu sebagai cara paling efektif untuk mempercepat pemerataan edukasi.

Indarto menambahkan bahwa Polri menargetkan program tersebut dapat menjangkau sedikitnya 10 juta pelajar secara bertahap. Ia juga menyampaikan penekanan kuantitatif, “Target kita sebetulnya fantastik ya, kita ingin sebanyak mungkin, bahkan kita targetkan secara kuantitatif itu setidaknya 10 juta siswa,”.

Untuk mencapai target tersebut, Polri menggandeng Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Menurut Indarto, upaya edukasi AI tidak bisa menjadi tugas kepolisian semata, melainkan membutuhkan peran sekolah, guru, orang tua, dinas pendidikan, dan pihak lain.

Dengan keterlibatan banyak unsur, Polri berharap tercipta ekosistem digital yang sehat. Di dalam ekosistem tersebut, penggunaan AI diharapkan selaras dengan etika, aman dari penyalahgunaan, sekaligus membantu pelajar memanfaatkan teknologi secara lebih cerdas.

Polri juga melihat bahwa pemahaman yang benar tidak berhenti pada kemampuan teknis menggunakan aplikasi, melainkan mencakup pengetahuan tentang etika digital dan konsekuensi dari tindakan yang merugikan orang lain.

Dalam kerangka itu, pelajar perlu dibiasakan untuk lebih kritis ketika berhadapan dengan tawaran otomatisasi atau informasi yang tampak meyakinkan, agar tidak mudah terjebak penipuan maupun konten yang tidak sesuai fakta.

Melalui skema pelatihan berjenjang, materi literasi AI diharapkan dapat terus diperbarui dan disampaikan secara konsisten dari tingkat polda hingga polres, sehingga edukasi tidak hanya menjangkau banyak pihak, tetapi juga berjalan terarah dan berkelanjutan.