jurnalistik.co.id – Kamis (23/7/2026) menjadi hari yang relatif positif bagi bursa. Pada penutupan sesi I, indeks ditulis menguat seiring banyaknya saham yang bergerak naik.
Dalam catatan pergerakan, IHSG Sesi I disebut naik sebesar 95 poin. Di bagian lain data yang dirujuk, IHSG juga dicatat naik 95,67 poin atau 1,51% ke level 6.430,15.
Berdasarkan informasi tersebut, penguatan juga tercermin pada komposisi pergerakan harian. Total saham yang naik lebih dominan dibanding yang terkoreksi, sementara sebagian sisanya berada di posisi stagnan.
IHSG Sesi I ditutup dengan kenaikan yang membuat seluruh indeks sektoral bergerak menguat. Di antara sektor yang ikut menguat, properti menjadi salah satu yang mencatat kenaikan terbesar.
Adapun sektor properti naik 4,46%. Diikuti sektor energi yang naik 4,32%, serta sektor teknologi yang naik 2,83% pada penutupan sesi I hari ini.
Pergerakan yang merata antar sektor ini memperlihatkan adanya minat yang lebih luas pada beberapa lapis industri. Pola seperti ini biasanya terlihat ketika sentimen positif tidak hanya terkonsentrasi pada satu segmen.
Dari sisi aktivitas perdagangan, jumlah saham yang berpindah tangan pada sesi I tercatat mencapai 34,80 miliar saham. Nilai transaksi selama sesi I juga disebut sebesar Rp 11,89 triliun.
Rincian pergerakan saham menunjukkan 450 saham mengalami kenaikan, sementara 166 saham turun. Sementara itu, 177 saham lainnya stagnan di level yang relatif sama dibanding penutupan sebelumnya.
Di papan LQ45, Bumi Resources Tbk (BUMI) tercatat sebagai pemuncak top gainers. Saham BUMI disebut melonjak 15,48% dan menjadi salah satu penopang utama penguatan pada daftar saham unggulan tersebut.
Berita Terkait
Selain BUMI, terdapat beberapa saham lain yang juga menguat dengan persentase dua digit. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) naik 13,19%, sedangkan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mencatat kenaikan 10,45%.
Komposisi penguatan di LQ45 ini menunjukkan bahwa pergerakan sesi I tidak hanya ditopang oleh satu emiten. Kenaikan yang berurutan pada beberapa saham berkapitalisasi besar memperkuat sinyal positif yang terlihat pada indeks.
Namun, tidak semua saham bergerak searah. Pada sisi lain, PT Astra International Tbk (ASII) muncul sebagai pemuncak top losers di LQ45 dengan penurunan 0,97%.
Diikuti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang turun 0,78%. Ada pula PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang tercatat terkoreksi 0,77% pada penutupan sesi I.
Perbedaan arah pergerakan di LQ45 ini menegaskan bahwa pasar tetap melakukan penyesuaian pada saham-saham tertentu. Meskipun indeks secara umum menguat, sejumlah emiten masih mengalami tekanan jual.
Secara keseluruhan, IHSG Sesi I pada 23 Juli 2026 ditutup lebih tinggi dengan kenaikan 1,51%. Penguatan tersebut dibarengi naiknya seluruh indeks sektoral, aktivitas perdagangan yang mencatatkan volume besar, serta daftar top gainers dan top losers yang memperlihatkan dinamika selektif pada saham-saham unggulan.
Meski sesi I ditutup menguat, komposisi pergerakannya tetap memperlihatkan karakter yang selektif. Dari total saham yang tercatat bergerak, jumlah yang naik tercatat lebih banyak dibanding yang turun, sedangkan sisanya berada pada kondisi stagnan di level yang relatif sama. Pola ini biasanya memberi gambaran bahwa pelaku pasar tidak hanya mengejar satu arah, tetapi menimbang kesehatan pergerakan masing-masing emiten.
Aktivitas perdagangan yang tinggi juga selaras dengan dinamika tersebut. Dengan volume perpindahan saham yang mencapai 34,80 miliar lembar dan nilai transaksi sebesar Rp 11,89 triliun, sesi I menunjukkan adanya perputaran yang cukup intens, sekaligus mendukung terlihatnya respons yang lebih merata pada sejumlah sektor. Pergerakan yang konsisten antar-segmen menjadi salah satu indikator bahwa minat beli tidak hanya berhenti pada satu kelompok industri saja.
Di LQ45, gambaran selektivitas itu tampak dari kontras pergerakan top gainers dan top losers. BUMI menjadi pengungkit utama penguatan dengan kenaikan 15,48%, sementara CUAN dan DEWA juga ikut memperkuat laju saham-saham berkapitalisasi besar. Namun, adanya ASII, ADRO, dan BBCA yang terkoreksi menegaskan bahwa penguatan indeks tetap disertai penyesuaian pada beberapa saham tertentu.












