Otomotif

Investasi Rp 2,1 Triliun, DFSK: Pabrik Cikande Belum Untung

0
×

Investasi Rp 2,1 Triliun, DFSK: Pabrik Cikande Belum Untung

Sebarkan artikel ini
DFSK Investasi Rp 2,1 Triliun, Pabrik Cikande Belum Untung Otomotif 15 Juni 2026
Ilustrasi: DFSK Investasi Rp 2,1 Triliun, Pabrik Cikande Belum Untung

jurnalistik.co.id – Persaingan industri otomotif nasional yang makin ketat tidak membuat PT Sokonindo Automobile mengendurkan rencana investasinya di Indonesia. Perusahaan menegaskan tetap melihat prospek pasar otomotif dalam jangka panjang, termasuk pengembangan kendaraan elektrifikasi di masa depan.

Direktur Utama PT Sokonindo Automobile, Alexander Barus, menyatakan keyakinan tersebut mendorong perusahaan terus mengembangkan fasilitas produksi di Indonesia sejak pertama kali beroperasi. Ia menekankan bahwa pemasukan perusahaan berasal dari pasar domestik maupun ekspor, meski skala bisnis di awal tidak bisa dibandingkan dengan merek-merek besar lainnya.

Alexander menyampaikan bahwa perusahaan mengalokasikan investasi sebesar 150 juta dollar AS (sekitar Rp 2,1 triliun dengan kurs rupiah pada 2017). Namun, ia juga menegaskan bahwa saat pabrik di Cikande belum menghasilkan pemasukan.

“Dari mana pemasukan kita? Pasar domestik, pasar ekspor. Mungkin beda dengan pabrikan yang lain. Kami investasi itu 150 juta dollar AS (sekitar Rp 2,1 triliun, kurs rupiah pada 2017). Belum ada pemasukan di pabrik Cikande. Tapi dengan keyakinan itu kita bisa lakukan,” kata Alexander di Jakarta, belum lama ini.

Investasi dan pengembangan pabrik Cikande

DFSK menjadi salah satu pabrikan otomotif asal China yang lebih dulu menanamkan investasi di Indonesia sejak tahun 2017. Chief Operating Officer PT Sokonindo Automobile, Franz Wang, menyebut sejak pabrik di Cikande, Banten, mulai beroperasi pada 2017, perusahaan terus melakukan pengembangan serta peningkatan fasilitas produksi.

Franz mengatakan DFSK termasuk yang pertama berinvestasi pada 2017 dan tiap tahun tetap ada investasi serta upgrade. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan operasional tidak berhenti pada tahap awal, tetapi dijalankan sebagai proses berkelanjutan seiring kebutuhan produksi dan arah strategi perusahaan.

Menurut Franz, pada tahap awal perusahaan berfokus memproduksi kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE). Fokus tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus ekspor.

Transformasi ke kendaraan energi baru

Seiring perkembangan industri otomotif global, DFSK kemudian mengubah strategi bisnisnya dengan masuk ke segmen kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV). Franz menjelaskan transformasi itu dijalankan secara bertahap beberapa tahun terakhir.

Ia menyebut, pada fase awal selama lima tahun, perusahaan memproduksi ICE di lokasi tersebut. Setelah memasuki periode 2022 atau 2023, perusahaan memutuskan untuk melakukan transformasi di Indonesia, dengan tahapan yang dikatakan dilakukan secara bertahap.

“Yang pertama lima tahun kami produksi di sini ICE. Setelah 2022 atau 2023, kita putuskan harus transformasi di Indonesia. Dari ICE ke NEV. Tapi kita harus bertahap, step by step,” ujar Franz.

Perubahan strategi itu terlihat dari semakin banyaknya model elektrifikasi yang diperkenalkan DFSK dan Seres di pasar Indonesia. Perusahaan memposisikan langkah ini sebagai bagian dari transisi yang dijalankan secara gradual, bukan perubahan yang dilakukan dalam satu waktu.

Kontribusi pasar masih kecil, tetapi fokus jangka panjang berlanjut

Di tengah transformasi tersebut, DFSK menilai kontribusinya terhadap pasar otomotif nasional masih relatif kecil. Berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), DFSK mencatat distribusi sebanyak 832 unit sepanjang 2025.

Franz dan manajemen perusahaan memandang angka tersebut masih berada pada kisaran pangsa pasar sekitar 0,1 persen dari total wholesales nasional. Untuk periode Januari hingga Mei 2026, DFSK mencatat penjualan sebanyak 471 unit, dengan kontribusi yang juga sekitar 0,1 persen terhadap total penjualan wholesales kendaraan nasional.

Meskipun demikian, perusahaan tetap menilai Indonesia sebagai pasar strategis untuk penjualan domestik sekaligus menjadi basis produksi ekspor. Hal itu tercermin dari komitmen yang disebutkan perusahaan untuk terus melakukan investasi dan pengembangan fasilitas produksi di pabrik Cikande, termasuk untuk mendukung transisi menuju kendaraan elektrifikasi.

Dengan mempertimbangkan skala pasar yang masih terbatas, arah yang ditegaskan perusahaan tetap sama: membangun fondasi produksi melalui pengembangan pabrik, menjalankan transformasi dari ICE ke NEV secara bertahap, serta menjaga optimisme terhadap prospek otomotif Indonesia dalam jangka panjang.