jurnalistik.co.id – Inisiatif menutup jalan hunian secara sementara di Leeds membuat anak-anak bisa bermain di ruang yang biasanya dipakai kendaraan. Di Colenso Mount, kawasan Holbeck, sebuah “Play Street” hadir sebagai ruang aman untuk aktivitas santai sekaligus interaksi sosial warga.
Pada sore hari di lingkungan tersebut, tujuh tahun Aydin menikmati kesempatan bermain di tempat baru. Ia menggambarkan suasananya saat jalan ditutup: “Everyone can ride scooters and the boys over there play football which is very fun”.
Ketika Aydin meloncati ramp kecil di tengah jalan, beberapa anak lain menggambar dengan kapur, meniup gelembung sabun, dan menendang bola di area yang sama. Aktivitas itu berlangsung pada ruang yang biasanya dialiri lalu lintas, sehingga permainan luar ruangan menjadi sesuatu yang nyata dan bisa dilakukan bersama.
Warga di sekitar juga menyampaikan bahwa Play Street memberi rasa tenang saat anak-anak bermain. Di mata seorang orang tua bernama Beth, penutupan akses kendaraan membuatnya lebih nyaman karena kondisi jalan terhalang dan tidak ada mobil yang melaju kencang.
Beth menyatakan, “It is a safe environment, the roads are blocked off and there are no cars that can come speeding up.” Ia menambahkan bahwa lingkungan tempat tinggalnya merupakan area yang kurang beruntung, sehingga anak-anak sangat menikmati ruang yang aman tersebut.
Selain Beth, Kate yang tinggal di sudut Colenso Mount menilai keberadaan Play Street tepat di depan rumahnya sebagai hal yang “brilliant”. Menurutnya, jalan yang biasa dilewati kendaraan kini berubah menjadi tempat bertemu yang memudahkan komunikasi antarwarga.
Kate menjelaskan, “It’s so easy just to sit inside, and kids get bored so being able to go outside our front door, play and meet different people, it’s really good.” Bagi Kate, peluang bermain di luar rumah juga membantu anak-anak tidak cepat merasa bosan.
Inisiatif ini tidak hanya dirasakan di tingkat lingkungan. Survei dari kelompok kampanye Play Their Way menyebut hampir setengah orang tua, tepatnya 46%, mengatakan anak mereka tidak memiliki tempat bermain luar yang aman.
Temuan tersebut mendorong seruan agar perdana menteri Andy Burnham membawa kembali strategi nasional bermain untuk anak-anak di Inggris. Burnham disebut didorong kembali karena pernah memimpin inisiatif itu saat menjabat sebagai culture secretary pada 2008.
Dorongan strategi nasional dan kewajiban daerah
Di Inggris, kelompok Play England memperingatkan bahwa banyak anak belum memiliki akses ke taman bermain serta kesempatan bermain berkualitas. Mereka mengajak perdana menteri memberi mandat agar dewan setempat secara berkala menilai apakah anak memiliki waktu, ruang, dan kebebasan untuk bermain di tempat tinggalnya.
Sementara itu, di Wales dan Skotlandia, kewajiban bagi otoritas lokal sudah diberlakukan untuk memastikan ada cukup peluang bermain bagi anak-anak. Perbandingan itu menguatkan argumen bahwa pemerintahan daerah dapat memiliki peran yang lebih terstruktur dalam menyediakan ruang bermain.
Dari sisi kebijakan, seorang juru bicara pemerintah menyampaikan kepada BBC bahwa “every child deserves the space to run around and be a kid”. Pemerintah juga disebut berinvestasi sebesar £18m untuk membuka kembali ruang bermain yang hilang.
Pemerintah mengatakan mereka menyiapkan sesi gratis stay-and-play di pusat komunitas baru yang dikenal sebagai Best Start Family Hubs. Mereka juga menyebut memberikan panduan baru kepada orang tua mengenai screen time serta melindungi taman bermain melalui aturan perencanaan wilayah.
Di tengah dorongan kebijakan, sebuah komisi berdurasi setahun tentang bermain yang disusun Centre for Young Lives menyatakan anak-anak menghabiskan separuh waktu untuk bermain luar ruang tanpa struktur dibanding generasi mana pun sebelumnya. Laporan itu menegaskan permainan sering “quietly squeezed out” oleh berbagai faktor, termasuk meningkatnya lalu lintas, screen time, dan ketidaksukaan terhadap permainan di ruang publik.
Berita Terkait
Di Colenso Mount, rasa aman menjadi alasan yang mudah dipahami orang tua. Bagi Beth, penutupan jalan berarti anak-anak dapat bermain di area yang tidak didominasi kendaraan sehingga kekhawatiran terhadap mobil yang melaju berkurang.
Kate pun mengaitkan dampak Play Street dengan perubahan suasana harian. Jalan yang berstatus “terhenti” membuat anak lebih leluasa keluar dari rumah, bermain, dan mengenal orang lain di lingkungan mereka.
Gagasan menutup jalan hunian secara rutin untuk aktivitas bermain juga memiliki sejarah yang lebih luas. Menurut laporan, ide serupa dimulai pada 2009 oleh kelompok orang tua di Bristol, yang ingin menunjukkan bahwa “playing out near home should be normal, it doesn’t have to be a special event”.
Tokoh awal inisiatif itu, Alice Ferguson, menyebut play penting bagi kesejahteraan anak-anak dan menyatakan Play Streets yang terorganisasi adalah langkah menuju tujuan yang lebih besar. Ia juga mengungkapkan pandangan dasarnya: “If you’ve got a safe space, children will come out and play with whatever they have.”
Kelompok kampanye yang diikuti Ferguson, Playing Out, memperkirakan sekitar 100 dewan di seluruh Inggris Raya telah memiliki kebijakan Play Street. Perkiraan itu menyebut lebih dari 1.600 jalan secara rutin ditutup untuk lalu lintas demi memberi ruang bermain.
Namun, kebijakan di tiap wilayah tidak sama. Ferguson mengatakan adanya kebijakan nasional akan memberi “clarity and confidence” bagi dewan dan warga untuk menutup jalan secara aman.
Ia juga menekankan masih ada hambatan. Ferguson menyebut, “There’s still a long way to go. Some councils have cost barriers or insist on insurance, and a lot of councils don’t have a policy at all.”
Meski berbeda-beda, Ferguson menjelaskan ada kebutuhan bersama untuk menyelenggarakan Play Street. Di antaranya terdapat tanda resmi “road closed”, penghalang fisik di masing-masing ujung jalan, serta relawan yang membantu mengawal warga masuk dan keluar area yang ditutup.
Di Leeds, Catherine Peacock dari charity KidzKlub mengaku telah mengorganisasi sekitar 100 Play Streets di kota itu dalam beberapa tahun terakhir. Ia memulai dari perannya sebagai ibu yang ingin anak-anaknya bisa bermain dengan aman di jalan dekat rumah.
Peacock menuturkan, “Originally I just started as a mum, doing it on my own street because I wanted my own kids to be able to play out safely.” Ia kemudian meluaskan langkah itu karena melihat jalan lain yang menjadi mitra pekerjaannya juga bisa mendapat manfaat yang sama.
Untuk pelaksanaan, Leeds City Council dikatakan menargetkan area yang lebih miskin untuk mengadakan Play Street. Langkah itu muncul setelah staf melihat sebagian besar warga yang mengajukan penutupan jalan tinggal di wilayah yang lebih mampu.
Jen Rutherford, Play Strategy Officer untuk Leeds City Council, bekerja agar akses anak-anak ke ruang bermain dipertimbangkan dalam keputusan dewan yang lebih luas. Ia menyoroti bahwa permainan bukan hanya urusan taman bermain, tetapi terkait banyak aspek kebijakan daerah.
Rutherford mengatakan, “Play is everyone’s business across a local authority because it feeds into your waste management strategy, it feeds into how you design your streets and spaces.” Ia juga menyebut adanya kerja sama dekat dengan perencanaan wilayah di Leeds, agar pengembang saat membangun ruang baru dapat merancang kota dengan lensa permainan bagi anak-anak dan remaja.
Di Colenso Mount, sepuluh tahun Mohamed menantikan kesempatan bermain sepak bola lagi bersama teman-temannya. Ia berharap Play Street dapat terulang dan memberi kegiatan yang terasa berarti selama libur musim panas.
Mohamed menyatakan, “It’s a good idea, because lots of children will come and then [they] will be excited and happy and they’ll have something to do in the summer holidays.” Bagi anak-anak, ruang aman di jalan yang ditutup menjadi bentuk aktivitas yang dinanti.












