Bisnis & Ekonomi

Bisa atasan mengatur pakaian musim panas? Panduan menata shorts, atasan bertali, dan sandal

×

Bisa atasan mengatur pakaian musim panas? Panduan menata shorts, atasan bertali, dan sandal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Shorts, strappy tops, sandals: Can my boss tell me what to wear in summer?

jurnalistik.co.id – Saat musim panas makin menyengat, pertanyaan soal pakaian kerja sering muncul dengan cara yang cukup mendesak: tetap terlihat profesional, tapi tetap bisa nyaman menjalani aktivitas. Bahkan potongan yang tampak “wajar” di luar kantor bisa dipandang terlalu santai ketika berada di tempat kerja.

Di Inggris dan beberapa tempat lain, perdebatan ini makin terasa karena perubahan iklim diperkirakan membawa gelombang panas yang lebih parah, lebih sering, dan berlangsung lebih lama pada musim panas ke depan. Dalam kondisi seperti itu, pilihan seperti shorts, atasan bertali, hingga sandal menjadi titik tanya: apakah boleh, sampai sejauh mana, dan siapa yang berhak menentukan batasnya.

Bagian berikut merangkum apa yang dinilai dapat diterima—serta batas yang sebaiknya diwaspadai—berdasarkan pandangan perancang dan stylist, survei opini publik, dan juga prinsip yang dijelaskan oleh penasihat hukum ketenagakerjaan.

Shorts: boleh, tapi panjang dan padannya menentukan

Shorts, terutama yang tidak terlalu pendek dan jatuh dengan rapi, sering diposisikan sebagai solusi agar tubuh tidak terlalu kepanasan saat bekerja. Namun, masalahnya bukan semata ada-tidaknya shorts, melainkan apakah ukurannya “nyaman secara profesional” atau justru terkesan terlalu pendek.

Di Tokyo, misalnya, muncul reaksi balik ketika pejabat mendorong pria mengganti setelan resmi dengan shorts untuk bekerja. Kebijakan itu memicu keluhan, termasuk soal penampilan kaki yang dipandang terlalu terbuka di kantor.

Dalam jajak pendapat Ipsos, 62% orang dewasa menilai pria boleh memakai shorts untuk bekerja saat cuaca panas, dan 63% menyatakan hal yang sama berlaku untuk perempuan. Meski demikian, penilaian publik tidak selalu menyelesaikan persoalan gaya, karena detail model dapat membuat satu pilihan terlihat berbeda ketika dinilai dari standar kantor.

Perancang busana Amanda Wakeley menekankan bahwa pertanyaan “terlalu pendek atau tidak” biasanya sudah punya jawabannya sendiri: “If you’re asking yourself whether they’re too short, they probably are”. Ia juga menyebut shorts sebagai item yang paling sulit “dipaku” agar cocok dalam lingkungan kerja profesional.

Agar lebih aman, Wakeley menyarankan shorts yang lebih panjang dan dibuat model yang rapi, lalu dipadukan dengan kemeja yang terlihat tegas atau blazer yang ringan. Ia menilai cara memadankan atasan memberi dampak besar pada kesan keseluruhan.

Stylist Clare Chambers sejalan soal panjang: ia berpendapat shorts sebaiknya berhenti sekitar pertengahan tempurung lutut (kneecap) untuk pria maupun perempuan. Untuk pria, Chambers merekomendasikan shorts model chino yang dipotong sesuai ukuran, dengan kaus-T atau kemeja yang tidak masuk (untucked), sehingga proporsinya tetap terkendali dan tidak tampak “asal pakai”.

Sandal: hindari yang terkesan santai, utamakan kualitas tampilan

Soal alas kaki, sandal sering menjadi perdebatan yang tidak kalah sensitif. Di banyak kantor, jenis sandal yang terlalu kasual bisa memunculkan kesan bahwa seseorang sedang tidak berpakaian seperti bekerja—meski kenyataannya ia hanya berusaha tetap nyaman karena panas.

Wakeley menyebut flip-flops sebagai salah satu dari “no” item yang paling jelas di kebanyakan kantor. Menurutnya, pilihan itu langsung memberi sinyal waktu santai ketimbang profesional: “They instantly signal leisure rather than professionalism and can make even the most polished outfit feel underdressed,” ujarnya.

Chambers menambahkan bahwa, bahkan ketika cuaca paling panas, sandal atau alas kaki dengan bahan rajutan (woven flats) dinilai lebih baik karena lebih bernapas, namun tetap menutup kaki dengan cara yang tidak terlalu terbuka. Di survei Ipsos, hampir dua pertiga responden menilai sandal tidak dapat diterima untuk pria di tempat kerja, dan 58% menyatakan hal serupa untuk perempuan.

Namun, sandal tidak selalu sepenuhnya tertutup ruang. Wakeley menilai sandal kulit yang terlihat lebih rapi dapat diterima di banyak kantor, asalkan bersih dan terawat. Bedanya, menurut Wakeley, terletak pada apakah sandal itu tampak sebagai bagian dari setelan yang dipikirkan matang, atau malah menyerupai gaya yang biasanya dipakai di sekitar kolam renang.

Terkait tren yang sempat viral, yakni kaus kaki dan sandal sekaligus, Chambers mengingatkan agar orang mempertimbangkan keselarasan tren itu dengan citra profesional yang ingin dibangun. Ia menyebut kombinasi tersebut bisa terbaca sangat santai dan “muda”: “This combination can read as highly casual and youthful, which may unintentionally detract from giving you a credible and authoritative presence.”

Atasan bertali: terbuka boleh, tapi harus dipilih dengan struktur yang tepat

Perdebatan paling terlihat biasanya muncul pada atasan bertali dan bagian bahu. Dalam survei Ipsos, sekitar 40% orang dewasa menilai tank top atau vest top dapat diterima untuk perempuan di tempat kerja, tetapi hanya 24% yang mengatakan hal serupa untuk pria.

Natasia, seorang guru di London, menceritakan pengalaman yang menunjukkan bagaimana standar kantor kadang diterapkan dengan cara yang tegas. Ia mengatakan di sekolah sebelumnya, dirinya dan staf lain “regularly in the summer months” dipanggil hanya untuk menerima teguran soal pakaian mereka. Ia juga mengaku pernah diminta menutup tato.

Meski demikian, Natasia tetap menegaskan prinsip kenyamanan tubuh saat cuaca panas. Ia mengatakan: “It should be OK to have your arms out at work especially when it’s hot,”

Wakeley memandang atasan berpotongan rapi, seperti camisole atau strappy top yang jatuh dengan baik, bisa bekerja untuk situasi kantor jika dikenakan di bawah lapisan tambahan. Ia menyarankan memadukannya dengan overshirt linen, jaket ringan, atau setelan yang dibuat tailor. Menurut Wakeley, jika dipakai tanpa lapisan pendukung, pakaian semacam itu bisa terasa terlalu informal.

Chambers menambahkan detail yang sering terlewat: jika memakai atasan bertali, ia menilai perlu mengenakan bra model strapless karena “utterly kills an outfit when you can see bra straps”. Menurutnya, ketika aturan dress code tidak jelas, pilihan dengan tali yang lebih tebal cenderung lebih aman.

Untuk alternatif yang lebih “polished”, Chambers merekomendasikan camisole satin sebagai opsi yang lebih matang dibanding vest berbahan katun yang cenderung lebih sederhana. Ia juga mengingatkan soal bandeau top: meski sedang tren, ia menyebutnya tidak cocok untuk kerja. Ia mengatakan, meski terlihat “such an on-trend look this summer”, bandeau top adalah “no-go for work”. Alasannya, menurut Chambers, kebutuhan terus-menerus menarik dan menyesuaikan pakaian itu menampilkan sikap yang tidak nyaman dan kurang yakin: “The constant need to keep fiddling to pull them up displays an uncomfortable and unconfident demeanour,”

Cara menyikapi aturan: gaya tetap bisa hadir tanpa mengabaikan standar

Baik Wakeley maupun Chambers menegaskan bahwa seseorang tidak perlu kehilangan ciri khas gaya pribadi hanya karena berada di lingkungan kerja. Kuncinya ada pada pemilihan potongan yang tepat dan cara memadankan item agar tetap selaras dengan dress code.

Yang bisa dipahami dari pandangan mereka adalah bahwa “lebih sedikit” belum tentu berarti “lebih baik”. Saat panas datang, pendekatan yang lebih aman biasanya adalah memilih pakaian dengan potongan yang lebih tepat, lapisan yang sesuai, serta alas kaki yang bersih dan tampak bagian dari keseluruhan penampilan yang dipikirkan.

Bisakah atasan mengatur pakaian?

Secara prinsip, pemberi kerja diperbolehkan menetapkan standar terkait pakaian dan penampilan. Terutama bila ada alasan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan, seperti keselamatan kerja, kebutuhan branding, atau upaya menjaga citra profesional.

Penasihat hukum ketenagakerjaan Sarah Tahamtani menegaskan bahwa aturan dress code seharusnya “reasonable, proportionate and capable of justification”. Ia menambahkan bahwa ketika terjadi panas ekstrem, pemberi kerja perlu menilai apakah aturan yang ada masih praktis dan apakah fleksibilitas yang lebih besar bisa diterapkan.

Selain itu, perusahaan juga perlu mempertimbangkan kebutuhan pekerja yang memiliki disabilitas, kondisi medis, atau kerentanan lain yang bisa diperburuk oleh temperatur tinggi. Jika karyawan menilai permintaan tidak masuk akal atau diterapkan secara tidak konsisten, langkah pertama adalah menyampaikan persoalan itu kepada atasan langsung atau bagian HR, dengan menjelaskan bagaimana aturan tersebut memengaruhi kenyamanan dan kemampuan bekerja secara aman.