jurnalistik.co.id – Jalan berlubang sering dipandang sebatas gangguan kenyamanan, padahal dampaknya bisa merembet ke sistem kaki-kaki mobil. Benturan berulang membuat kerja suspensi jadi lebih berat, sementara stabilitas kendaraan turut menurun.
JAKARTA menjadi salah satu konteks yang sering dikaitkan dengan masalah jalan rusak, termasuk kejadian yang diduga dipicu lubang di area flyover Pesing, Daan Mogot, Jakarta Barat. Peristiwa tersebut pernah dikaitkan dengan pecah ban dan kebocoran sejumlah kendaraan pada Jumat, 9 Januari 2026.
Dalam kondisi seperti itu, pengemudi tidak hanya menghadapi getaran ketika mobil melewati permukaan tidak rata. Lebih dari itu, benturan yang terus terjadi dapat mempercepat keausan pada komponen suspensi dan membuat kendaraan terasa lebih “berat” saat dikendalikan.
Suspensi punya batas, tapi benturan membuatnya cepat habis
Suspensi memang dirancang untuk meredam guncangan saat mobil melintasi jalan yang tidak rata. Namun, setiap komponen memiliki batas kemampuan, sehingga benturan yang datang berulang dapat mempercepat penurunan performa dan usia pakai.
Akibatnya, pengaruh jalan berlubang tidak berhenti pada rasa tidak nyaman sesaat. Mobil dapat mengalami perubahan pada geometri roda yang membuat handling terasa kurang meyakinkan saat melaju, terutama ketika kondisi jalan tidak terprediksi.
Karena itu, disarankan agar pengemudi menghindari area rusak atau mengurangi kecepatan ketika tidak memungkinkan untuk menghindar. Langkah ini menjadi cara paling sederhana untuk menekan efek benturan terhadap sistem kendaraan.
Sudut roda berubah, mobil terasa kurang stabil
Mekanisme kerusakan dapat bermula dari perubahan sudut roda, yang dikenal juga sebagai wheel alignment. Andi, mekanik spesialis kaki-kaki Wahyu Motor di MGK Kemayoran, menjelaskan bahwa mobil yang sering dihantam lubang atau permukaan bergelombang berisiko mengalami perubahan sudut roda.
“Mobil yang sering menghantam jalan berlubang atau benjolan tidak hanya berpotensi merusak kaki-kaki, tetapi juga bisa mengubah sudut roda. Kalau dibiarkan, komponen suspensi akan bekerja lebih berat,” ujar Andi kepada Kompas.com , belum lama ini.
Ketika sudut roda berubah, laju mobil dapat terasa kurang stabil. Kenyamanan berkendara pun ikut menurun, sejalan dengan meningkatnya beban kerja suspensi setiap kali roda menerima benturan.
Andi menambahkan bahwa perubahan kondisi tersebut juga berujung pada usia pakai komponen yang menjadi lebih pendek. Beban yang lebih besar membuat suspensi tidak lagi bekerja sesuai desain peredam, tetapi justru terus didorong pada kondisi ekstrem.
Berita Terkait
Untuk meminimalkan efeknya, pemilik kendaraan disarankan melakukan spooring dan balancing secara berkala. Hal itu terutama dianjurkan bagi mobil yang sering digunakan melewati jalan dengan kondisi kurang baik.
Komponen suspensi yang bisa ikut aus lebih cepat
Benturan berulang tidak hanya menyasar geometri roda, tetapi juga mempercepat keausan sejumlah komponen suspensi. Menurut Andi, komponen yang dapat terdampak meliputi shockbreaker, bushing, hingga link stabilizer.
“Semakin sering suspensi menerima benturan keras, semakin besar pula beban kerja setiap komponennya. Seal shockbreaker bisa bocor, bushing karet lebih cepat retak atau pecah, begitu juga komponen kaki-kaki lainnya,” kata Andi.
Jika shockbreaker mengalami masalah seperti kebocoran, redaman guncangan bisa menurun. Kondisi ini kemudian membuat getaran terasa lebih dominan saat mobil melewati permukaan yang rusak, bahkan jika lubang tidak terlalu besar.
Sementara itu, bushing karet yang retak atau pecah dapat mengganggu kestabilan gerak komponen suspensi. Link stabilizer yang turut mengalami keausan juga dapat mempengaruhi respons kendaraan saat bermanuver atau melintas permukaan bergelombang.
Tanda bunyi tak wajar sebaiknya tak diabaikan
Selain perubahan handling, ada indikator lain yang kerap muncul ketika sistem suspensi mulai mengalami penurunan. Bunyi tidak wajar saat mobil melintasi jalan rusak dapat menjadi pertanda komponen yang mulai aus, longgar, atau mengalami kerusakan.
“Kalau muncul bunyi setiap melewati jalan berlubang, sebaiknya segera diperiksa. Jangan menunggu sampai kerusakannya semakin parah karena biaya perbaikannya bisa lebih besar,” kata Andi.
Pesan itu menekankan pentingnya respons cepat, bukan menunggu gejala memburuk. Pemeriksaan lebih awal biasanya membantu mencegah kerusakan yang merambat ke komponen lain karena kondisi yang dibiarkan terus berjalan.
Dengan pemeriksaan yang tepat, pemilik kendaraan dapat mengidentifikasi penyebab bunyi dan menilai kondisi komponen suspensi yang terkait. Langkah ini sekaligus menjaga kenyamanan berkendara agar tidak terus turun seiring akumulasi benturan.
Pada akhirnya, jalan berlubang bukan hanya masalah permukaan yang mengganggu rasa berkendara. Dampaknya bisa mengubah cara mobil merespons permukaan jalan, membuat suspensi bekerja lebih keras, dan mempercepat proses keausan—sehingga penanganan melalui pengurangan kecepatan, penghindaran bila memungkinkan, serta perawatan rutin menjadi hal yang penting.












