Otomotif

Kenapa Kaki-Kaki Mobil FWD Lebih Sering Bermasalah? Ini Penyebabnya

×

Kenapa Kaki-Kaki Mobil FWD Lebih Sering Bermasalah? Ini Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kaki-kaki Mobil FWD Lebih Sering Bermasalah, Ini Alasannya

jurnalistik.co.id – Mobil berpenggerak depan atau front wheel drive (FWD) banyak dilirik karena menjanjikan efisiensi ruang, bobot yang lebih ringan, serta konsumsi bahan bakar yang lebih baik. Namun, keunggulan itu datang dengan konsekuensi pada area yang sering jadi perhatian pemilik, yakni kaki-kaki.

Di lapangan, tidak sedikit pengguna FWD mengeluhkan masalah yang muncul lebih cepat dibanding mobil berpenggerak belakang atau rear wheel drive (RWD). Keluhan yang sering terdengar berkisar dari bunyi saat berbelok hingga komponen as roda yang mengalami keausan lebih cepat.

Menurut Nurdin Supriyadi, Kepala Bengkel YPS Tanah Baru di Depok yang menjadi spesialis kaki-kaki, anggapan tersebut memang punya dasar. Ia menyampaikan, “Mobil dengan penggerak depan memang cenderung lebih sering mengalami masalah pada kaki-kakinya dibandingkan dengan mobil dengan penggerak belakang,” ujar Nurdin kepada Kompas.com belum lama ini.

Penjelasan Nurdin berangkat dari cara kerja as roda pada sistem FWD. Pada mobil FWD, as roda memiliki tugas ganda: selain menyalurkan tenaga mesin ke roda, komponen tersebut juga harus mengikuti arah putaran roda ketika kendaraan berbelok.

Kondisi itu membuat as roda bekerja lebih aktif dan menerima beban yang lebih besar daripada pada konfigurasi yang tidak mengharuskan komponen penggerak ikut berubah arah saat bermanuver. Ketika beban meningkat dalam kondisi tertentu, tingkat keausan komponen pun cenderung terjadi lebih cepat.

Salah satu gejala yang paling sering diperhatikan adalah munculnya bunyi “tek-tek-tek” ketika mobil dibelokkan tajam. Bunyi tersebut biasanya terasa di momen setir digerakkan dan berkaitan dengan respons mekanis saat roda berubah arah.

Nurdin menggambarkan pola kemunculannya sebagai petunjuk awal: “Suara ini biasanya muncul saat setir dibelokkan tajam, namun akan hilang saat posisi roda kembali lurus. Suara tersebut terdengar seperti logam berbenturan,” kata Nurdin.

Menurutnya, bunyi seperti itu umumnya menjadi indikasi adanya masalah pada CV joint (constant velocity joint) atau pada karet pelindungnya yang sudah robek. Jika pelumas ikut keluar karena pelindung rusak, komponen menjadi lebih cepat aus.

Jika dibandingkan dengan FWD, sistem penggerak pada mobil RWD memiliki karakter yang lebih sederhana pada bagian as roda. Pada RWD, as roda belakang tidak diharuskan ikut bergerak mengikuti arah kemudi, sehingga tugasnya lebih fokus pada penyaluran tenaga ke roda tanpa kebutuhan mengikuti putaran belok.

Wakil Kepala Bengkel Jayanti Depok, Kurniawan, menyebut desain tersebut membuat beban kerja komponen penggerak belakang terasa lebih ringan. Ia menegaskan, “As roda pada mobil RWD berbentuk lurus dan tetap, sehingga kerjanya lebih ringan dan umur pakainya pun lebih panjang,” ujar Kurniawan kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Meskipun demikian, Kurniawan juga mengingatkan bahwa mobil RWD tetap tidak sepenuhnya terbebas dari masalah kaki-kaki. Komponen lain seperti bushing, ball joint, tie rod, maupun shockbreaker tetap dapat mengalami keausan seiring usia dan pemakaian kendaraan.

Karena itu, baik pemilik FWD maupun RWD tetap perlu melakukan pemeriksaan kaki-kaki secara berkala. Perawatan rutin membantu mendeteksi kerusakan sejak dini agar tidak merembet ke komponen lain, sekaligus menjaga kenyamanan dan keselamatan saat berkendara.

Dalam praktiknya, keluhan semacam ini kerap muncul sebagai petunjuk yang “konsisten” ketika mobil dipaksa bekerja di sudut setir besar. Bunyi dapat terdengar saat kendaraan melakukan manuver, lalu mereda kembali ketika posisi roda kembali lurus. Bagi pemilik kendaraan, pola kemunculan yang berulang pada kondisi tertentu itu penting untuk dicatat sebelum perawatan dilakukan.

Karena berkaitan dengan kerja komponen saat roda berubah arah, pemeriksaan biasanya diarahkan pada titik yang paling mungkin mengalami gangguan, yakni CV joint serta kondisi pelindung karet (boot). Jika pelindung sudah robek sehingga pelumas ikut keluar, kerja komponen menjadi lebih cepat mengalami keausan. Pemeriksaan berkala membantu memastikan tidak ada kerusakan lanjutan yang bisa menyebar ke bagian lain di sistem penggerak.

Setelah memahami perbedaan karakter FWD dan RWD, langkah berikutnya tetap sama: lakukan kontrol kaki-kaki secara rutin. Pada RWD misalnya, meski as roda tidak dipaksa ikut bergerak mengikuti arah kemudi seperti pada FWD, komponen pendukung tetap dapat mengalami keausan seiring penggunaan, termasuk bushing, ball joint, tie rod, dan shockbreaker. Dengan begitu, masalah bisa terdeteksi lebih awal sehingga kenyamanan serta keselamatan berkendara tetap terjaga.