Teknologi

Jangan Sepelekan: Kebiasaan Buruk yang Memperpendek Umur Baterai Motor Listrik

×

Jangan Sepelekan: Kebiasaan Buruk yang Memperpendek Umur Baterai Motor Listrik

Sebarkan artikel ini
Kebiasaan Buruk yang Memperpendek Umur Baterai Motor Listrik Otomotif 20 Juni 2026
Ilustrasi: Kebiasaan Buruk yang Memperpendek Umur Baterai Motor Listrik

jurnalistik.co.id – Baterai menjadi komponen paling vital pada motor listrik karena berhubungan langsung dengan jarak tempuh dan performa kendaraan secara keseluruhan. Karena itu, kebiasaan pengguna sehari-hari dapat menentukan seberapa cepat kapasitas baterai menurun.

Menurut Alfian, pemilik bengkel spesialis motor listrik AD Service di Solo, ada beberapa kebiasaan yang sering dilakukan dan ternyata mempercepat penurunan kondisi baterai. Ia menilai masalah utama biasanya muncul dari cara pengguna mengisi daya dan memperlakukan baterai saat kendaraan digunakan maupun disimpan.

“Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan pengguna adalah membiarkan kapasitas baterai terkuras hingga hampir habis sebelum dicas,” kata Alfian saat ditemui Kompas.com belum lama ini. Ia mencontohkan pola yang umum terjadi di lapangan, yaitu pengguna baru mengisi saat indikator sudah sangat rendah.

Alfian menjelaskan bahwa kebanyakan orang menunggu sampai baterai benar-benar mendekati posisi paling rendah. “Rata-rata user kalau belum sampai merah belum di-charge. Yang kesalahannya di situ,” ujarnya. Menurutnya, ketika baterai tinggal “satu bar”, pengguna seharusnya sudah melakukan pengisian.

“Sebenarnya kalau kurang satu bar itu paling tidak sudah di-charge, soalnya baterainya sudah kurang 50 persen,” kata Alfian. Ia menekankan bahwa membiarkan baterai terlalu sering berada dalam kondisi hampir kosong dapat mempercepat penurunan performa baterai.

Selain kebiasaan menunggu hingga kondisi baterai hampir habis, Alfian juga mengingatkan soal penggunaan fast charging yang terlalu sering. Ia menyebut bahwa meski beberapa motor listrik modern mendukung fitur tersebut, intensitas pemakaiannya tetap berpengaruh terhadap kesehatan baterai.

“Kalau keseringan dipakai fast charging juga kesehatan baterai pasti berkurang. Masa pakai pasti juga akan menurun,” kata Alfian. Ia menambahkan bahwa masa pakai yang seharusnya lebih panjang bisa menjadi lebih cepat berakhir.

“Yang seharusnya sampai tiga tahun, mungkin dua tahun sudah cepat habis,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa batasan pemakaian fast charging menjadi salah satu faktor yang menentukan umur baterai motor listrik.

Lebih lanjut, Alfian menyoroti kebiasaan lain yang perlu dihindari, yaitu mengisi daya terlalu lama atau membiarkan motor tetap terhubung ke charger setelah baterai penuh. Ia menegaskan bahwa hal ini menjadi perhatian khusus pada motor yang masih menggunakan baterai jenis SLA.

“Kalau yang masih pakai SLA itu tidak ada auto cut off-nya. Jadi kalau penuh kadang masih ngisi terus,” kata Alfian. Menurutnya, kondisi tersebut membuat baterai tetap panas saat proses pengisian berlanjut.

Alfian menambahkan dampak yang muncul dari pengisian yang tidak berhenti otomatis saat baterai sudah penuh. “Baterainya tetap panas dan cepat gelembung,” ujarnya. Ia memandang kebiasaan seperti ini dapat mempercepat kerusakan baterai.

Alfian juga menjelaskan bahwa cara penyimpanan kendaraan turut memengaruhi kondisi baterai. Ia menyebut motor listrik yang terlalu lama terpapar sinar matahari langsung berpotensi mengalami kenaikan suhu baterai.

“Kalau langsung keseringan kena matahari ya bisa berpengaruh. Baterai kan ditanam di bawah, jadi kalau sering kena panas otomatis bagian dalamnya juga panas. Itu berpengaruh ke temperatur baterai,” ucapnya. Dengan kata lain, paparan panas yang berulang dapat memengaruhi temperatur yang berhubungan langsung dengan kondisi baterai.

Selain faktor suhu, Alfian juga mengingatkan masalah yang bisa muncul ketika motor listrik terlalu jarang digunakan. Ia menyarankan kendaraan tetap dipakai atau setidaknya dilakukan pengisian daya secara berkala agar baterai tidak dibiarkan dalam kondisi yang tidak terawat.

“Malah yang bikin cepat rusak itu jarang dipakai,” kata Alfian. Ia menekankan bahwa pengisian berkala tetap diperlukan meskipun kendaraan tidak sering dipakai.

“Paling tidak tiga sampai empat hari sekali di-charge tidak apa-apa. Kalau satu bulan sekali baru dipakai itu yang sering jadi masalah,” ujarnya. Pernyataan ini menggambarkan bahwa jeda pengisian yang terlalu panjang dapat menjadi pemicu gangguan pada baterai.

Dalam bagian lain, Alfian juga mengingatkan pengguna untuk menggunakan charger sesuai spesifikasi bawaan pabrikan. Ia menilai penggunaan charger yang tidak sesuai dapat membuat baterai bekerja lebih berat dan berpotensi menimbulkan panas berlebih.

“Kalau motornya sebenarnya tidak support fast charging tapi dipaksa pakai charger yang lebih besar, baterainya jadi panas. Itu yang bisa mempercepat kerusakan,” ucap Alfian. Dari penjelasan tersebut, pemilihan charger menjadi bagian penting dalam menjaga temperatur kerja baterai dan memperlambat penurunan kondisinya.

Dengan menghindari kebiasaan-kebiasaan tersebut, pengguna motor listrik dapat menjaga performa baterai agar tetap optimal sekaligus memperpanjang usia pakainya. Alfian menegaskan bahwa kerusakan yang dipercepat biasanya berasal dari pola penggunaan, pengisian, penyimpanan, hingga ketidakcocokan perangkat charger yang dipakai.

Ringkasnya, ada lima titik yang perlu diperhatikan: menunggu hingga baterai hampir habis, fast charging yang terlalu sering, mengisi terlalu lama atau membiarkan motor tetap terhubung pada charger, paparan panas dari sinar matahari langsung, serta kebiasaan jarang digunakan dan penggunaan charger yang tidak sesuai spesifikasi pabrikan.

Jika kebiasaan-kebiasaan itu dikurangi, baterai motor listrik punya peluang lebih baik untuk bertahan pada performa yang semestinya. Langkah sederhana seperti pengisian lebih cepat saat kapasitas mulai turun, pengendalian intensitas fast charging, serta memperhatikan cara penyimpanan dan jadwal penggunaan dapat menjadi kunci dalam merawat umur baterai.