jurnalistik.co.id – Ancaman krisis kekeringan mulai menghantui sektor pertanian di Provinsi Lampung. Di Lampung Selatan, sejumlah lahan sawah—terutama yang mengandalkan tadah hujan—dilaporkan mengalami penurunan pasokan air secara drastis hingga berpotensi mengganggu produktivitas pangan dan memicu gagal panen.
Kondisi itu mulai dirasakan petani di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Sejak sekitar satu bulan terakhir, hamparan sawah di wilayah tersebut perlahan berubah menjadi lebih kering karena minimnya intensitas curah hujan yang turun.
Tanaman padi yang baru memasuki usia sekitar 25 hari setelah tanam (HST) terpantau mulai menguning. Sebagian tanaman bahkan dilaporkan mati mengering akibat kurangnya asupan air.
Untuk mempertahankan sisa tanaman agar tetap hidup, para petani setempat terpaksa mengandalkan mesin pompa air darurat. Upaya tersebut harus dilakukan meski membawa konsekuensi biaya operasional yang tidak sedikit.
Seorang petani di Desa Natar, Saeran, mengatakan fenomena kekeringan tahun ini terasa datang jauh lebih cepat dibandingkan siklus musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya. Ia menilai, hampir seluruh bentangan lahan pertanian di kawasan itu berada dalam kondisi kritis yang sama.
“Sudah hampir sebulan ini sawah mulai kering. Bukan hanya lahan saya, rata-rata sawah di sini kondisinya sama. Air semakin sulit didapat,” kata Saeran saat ditemui Kompas.com di areal persawahan Natar, Sabtu (20/6/2026).
Saeran menjelaskan bahwa pada awal masa tanam, kondisi lahan sebenarnya masih memiliki cadangan air yang memadai. Namun, ketika memasuki awal Juni, hujan mendadak berhenti dan membuat debit pasokan air untuk area persawahan menyusut tajam.
“Waktu tanam masih ada cadangan air. Kami tidak menyangka hujan berhenti cukup lama. Sekarang tanah mulai retak dan tanaman banyak yang layu,” ujarnya.
Menurut Saeran, situasi tersebut kini membuat para petani di desanya hanya bisa pasrah sambil berharap hujan turun dalam waktu dekat. Ia menyebut, jika cuaca panas ekstrem terus bertahan dalam beberapa pekan ke depan, kerusakan vegetasi tanaman padi diprediksi akan semakin meluas dan sulit diselamatkan.
“Kalau hujan tidak segera turun, kami khawatir banyak tanaman yang mati. Padi yang masih muda sangat bergantung pada ketersediaan air,” katanya.
Kekeringan mendorong petani menambah biaya operasional harian
Demi menyelamatkan modal yang sudah tertanam, Saeran dan petani lain memutar strategi dengan mengoperasikan mesin pompa air selama berjam-jam setiap hari. Pompa digunakan untuk mengambil sisa-sisa air dari ceruk sumber resapan yang masih tersedia.
Saeran merinci bahwa biaya produksi menjadi bertambah karena mereka harus membeli bahan bakar untuk menggerakkan pompa. Meski demikian, menurutnya, langkah itu terpaksa dilakukan agar tanaman tetap bertahan dan tidak mengalami gagal panen.
Upaya tersebut menjadi gambaran bagaimana perubahan pola hujan dapat berdampak langsung pada fase pertumbuhan padi. Saat tanaman berada pada masa yang membutuhkan pasokan air, penurunan ketersediaan air dapat mempercepat gejala seperti penguningan dan layu.
Dampak kekeringan menyasar sentra produksi lain di Lampung
Dampak kekeringan yang nyata tidak hanya mengisolasi wilayah Lampung Selatan. Berdasarkan laporan di lapangan, sejumlah daerah yang menjadi sentra produksi padi terbesar lainnya di Lampung—seperti Kabupaten Lampung Timur, Way Kanan, Tulang Bawang Barat, hingga Tanggamus—juga mulai mengalami keterbatasan pasokan air untuk areal irigasi pertanian.
Dalam konteks El Nino, kondisi ini dilaporkan berujung pada krisis pasokan air di beberapa wilayah sentra produksi padi tersebut. Kekurangan air pada fase budidaya berpotensi memperlebar risiko gangguan produktivitas hingga gagal panen massal.
Dengan curah hujan yang disebut berhenti sejak awal Juni, petani di Natar saat ini berada pada posisi bergantung pada kemungkinan hujan kembali turun. Sementara itu, langkah penggunaan pompa darurat menjadi upaya sementara untuk menahan kerusakan tanaman yang masih berada pada usia muda di lahan.










