Teknologi

Scott Margerison alias E Dobbin Dipolisikan karena Rekam Orang Diam-diam Pakai Kacamata Pintar Meta

×

Scott Margerison alias E Dobbin Dipolisikan karena Rekam Orang Diam-diam Pakai Kacamata Pintar Meta

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tiktoker Ini Dipolisikan karena Rekam Orang Diam-diam Pakai Kacamata Pintar Meta

jurnalistik.co.id – Scott Margerison, kreator konten TikTok asal Inggris yang dikenal di media sosial dengan nama E Dobbin (akun @edobbin_agwob), dilaporkan ke polisi karena diduga merekam orang tanpa izin.

Menurut keterangan yang diterima, pria berusia 42 tahun itu saat ini sedang dalam proses penyelidikan oleh Kepolisian Skotlandia. Dugaan tersebut berkaitan dengan cara ia merekam sejumlah orang di ruang publik menggunakan kacamata pintar buatan Meta.

Sejumlah video yang menampilkan aktivitas Margerison kemudian diunggah ke media sosial. Unggahan itu mendapat keluhan dari sejumlah pihak yang merasa privasi mereka dilanggar.

Dalam rangkaian perjalanan yang dilakukan pada akhir Juni hingga awal Juli, Margerison berkeliling Skotlandia dengan sebuah mobil van. Ia diketahui mengunjungi beberapa wilayah seperti Dunoon, Glencoe, John O’Groats, Skye, Uist, Barra, dan Lewis.

Di berbagai video, Margerison tampak mendekati orang asing lalu mengajak mereka berbincang. Dalam percakapan tersebut, ia tidak memberikan informasi terlebih dahulu bahwa pembicaraan sedang direkam menggunakan kacamata pintar Meta yang dilengkapi kamera tersembunyi.

Kepolisian Skotlandia menyatakan telah menerima sejumlah laporan terkait video-video yang beredar. Juru bicara kepolisian menegaskan bahwa pihaknya sedang meninjau isi rekaman tersebut untuk menilai apakah terdapat unsur tindak pidana.

“Kami mengetahui video-video yang diunggah secara daring tersebut dan saat ini sedang meninjau isinya,” kata juru bicara Kepolisian Skotlandia.

Selain isu perekaman tanpa izin, beberapa unggahan Margerison juga dipandang melewati batas. Ada video yang menunjukkan ia mengumpat kepada orang yang ditemui, disertai kata-kata bernuansa rasisme.

Di video lain, ia juga menyampaikan komentar bernada seksual kepada dua remaja yang ditemuinya di sebuah kapal feri milik operator CalMac. Setelah melihat keduanya, Margerison mengenakan kacamata Meta, lalu menghampiri kedua remaja beserta orang tua mereka untuk berbicara tanpa memberi tahu bahwa percakapan direkam.

Masih terkait penggunaan kacamata tersebut, video lain memperlihatkan Margerison memaki seorang penumpang feri tanpa alasan yang jelas. Sementara itu, insiden lain terjadi di Pulau Skye ketika ia berbincang dengan seorang wanita pemilik toko berketurunan India yang beragama Sikh.

Dalam percakapan di Skye, Margerison dinilai menyampaikan beberapa pernyataan yang bernuansa rasisme. Hingga saat ini, pemeriksaan dari Kepolisian Skotlandia masih berfokus pada peninjauan video yang dipublikasikan dan penentuan langkah hukum bila terbukti ada pelanggaran.

Kasus ini menyoroti perhatian publik terhadap praktik perekaman dengan perangkat tersembunyi di ruang terbuka, terutama ketika orang yang menjadi subjek tidak mengetahui percakapan mereka sedang direkam. Proses penyelidikan akan menentukan sejauh mana dugaan itu dapat dikaitkan dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Sejumlah pihak yang merasa menjadi subjek dalam rekaman tersebut mengajukan keluhan setelah video-video Margerison beredar. Mereka menilai tindakan mendekati orang di ruang publik tanpa pemberitahuan mengenai perangkat perekam dapat mengganggu batas privasi, terlebih ketika percakapan berlangsung dalam situasi yang seharusnya bersifat spontan.

Dalam rangkaian konten yang dipublikasikan, penggunaan kacamata pintar Meta menjadi titik sorot karena perangkat itu disebut berisi kamera tersembunyi. Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa komunikasi berlangsung tanpa persetujuan yang jelas, sehingga kepolisian perlu menilai konteks rekaman serta apakah tindakan tersebut memenuhi unsur pelanggaran hukum.

Proses peninjauan Kepolisian Skotlandia juga mencakup kajian terhadap sejumlah unggahan yang dianggap melampaui batas dalam penyampaian komentar. Dari video yang menampilkan Margerison mengumpat hingga rekaman lain yang memuat komentar seksual kepada remaja, pihak berwenang perlu menentukan apakah sikap dan perkataan dalam situasi tersebut relevan dengan aspek pidana yang diduga.

Selain itu, pemeriksaan diarahkan pada penilaian atas konten bernuansa rasisme yang muncul dalam beberapa video, termasuk insiden yang dikaitkan dengan percakapan di Pulau Skye bersama pemilik toko berketurunan India yang beragama Sikh. Hasil peninjauan diharapkan menjadi dasar bagi langkah hukum berikutnya apabila terbukti ada pelanggaran.