jurnalistik.co.id – John Stones memilih menjalani laga perebutan peringkat ketiga Piala Dunia 2026 dengan kepala yang masih sarat emosi. Menjelang duel Perancis vs Inggris, bek timnas Inggris itu mengakui kenangan pahit atas kekalahan dari Argentina masih terasa membekas.
Pertandingan perebutan tempat ketiga Perancis vs Inggris akan berlangsung di Stadion Miami, Florida, Amerika Serikat pada Minggu (19/7/2026) pukul 04.00 pagi WIB. Bagi Stones dan rekan-rekannya, laga ini menjadi kesempatan lain untuk mengalihkan kesedihan menjadi hasil.
Stones tidak menutup-nutupi bahwa kondisi skuad saat ini masih berat. Ia merujuk pada rangkaian emosi setelah laga semifinal melawan Argentina, yang berakhir dengan kemenangan sang juara bertahan.
Dalam semifinal Piala Dunia 2026, Inggris vs Argentina berlangsung di Stadion Atlanta pada Kamis (16/7/2026) dini hari WIB. Hasilnya, Argentina menang 2-1 setelah mampu membalik keadaan, meski Inggris sempat unggul lebih dulu.
Inggris membuka keunggulan pada menit ke-55 lewat Anthony Gordon. Namun, Argentina kemudian menyamakan kedudukan melalui Enzo Fernandez pada menit ke-85, sebelum menuntaskan kemenangan lewat gol pemain pengganti Lautaro Martinez pada menit 90+2.
Stones menilai jeda waktu yang sempat diberikan tidak otomatis menghapus rasa sakit itu. “Menurut saya, semua orang telah diberikan masa tenggang tersebut namun masih terus mengalami penderitaan dan rasa sakit. Ada banyak hal, banyak emosi yang sangat wajar dirasakan oleh siapa saja,” ujar Stones.
Baginya, emosi semacam itu bukan sesuatu yang aneh atau berlebihan, karena proses pertandingan selalu meninggalkan bekas pada individu dan tim. Stones kemudian menekankan bahwa kemarahan atau frustrasi bisa membuat pemain terjebak dalam sudut pandang yang sempit.
“Sebagai pemain, kami bisa terlalu terpaku pada rasa marah atau frustrasi akibat situasi pribadi maupun berbagai keadaan yang terjadi selama pertandingan.”
Stones menambahkan, ada hal lain yang kerap luput ketika suasana hati sedang buruk. Ia mengingatkan pentingnya menjaga perspektif tentang kebanggaan tim dan kerja kolektif yang sudah dijalani.
“Namun, kami sering kali lupa betapa bangganya kami atau betapa bangganya saya, terhadap setiap individu di dalam tim dan skuad kami.”
Berita Terkait
Dengan latar itu, Stones membawa pesan bahwa perjuangan yang ditempuh tidak boleh berhenti di titik kekalahan. Ia menegaskan, semua pengorbanan dan kerja keras yang telah dilakukan menjadi alasan untuk terus melangkah.
“Segala usaha, pengorbanan, dan kerja keras yang telah dicurahkan, bukan hanya oleh para pemain, melainkan oleh semua pihak—itulah yang telah membawa kita sampai ke titik ini,” imbuh Stones.
Dalam narasi pertandingan, Inggris juga dihadapkan pada kritik yang lebih spesifik soal pendekatan taktik. Menjelang laga perebutan peringkat ketiga, Stones menggambarkan bahwa timnya sebenarnya layak meraih gelar, namun mimpi itu tersendat oleh keputusan strategis di fase semifinal.
Laga tersebut sendiri menjadi sorotan karena disebut melawan arah dari harapan yang selama ini dibangun timnas Inggris. Bagi Inggris, ada penanda waktu 60 tahun sejak timnas Inggris meraih gelar juara pada 1966, sehingga perjalanan berikutnya membawa beban harapan tersendiri.
Stones juga menyebut pelatih Thomas Tuchel dengan konteks yang jelas. Ia menyinggung bahwa mimpi timnas Inggris kemudian “dibuyarkan oleh kesalahan taktik sang pelatih, Thomas Tuchel usai unggul lebih dulu di menit ke-55 melalui Anthony Gordon.”
Di semifinal melawan Argentina, Tuchel dinilai menerapkan pendekatan bertahan dengan memainkan beberapa bek, seperti Ezri Konsa, Dan Burn, dan Nico O’Reilly. Namun, Inggris justru kebobolan dua gol beruntun yang mengubah arah pertandingan.
Sekilas, keputusan taktik itu tidak lepas dari kenyataan bahwa setelah unggul, Inggris gagal mempertahankan momentum hingga akhir. Pergantian dinamika tersebut akhirnya membawa Inggris turun untuk memperebutkan peringkat ketiga melawan Perancis.
Stones sendiri merupakan salah satu pemain kunci Inggris yang sudah merasakan fase-fase besar turnamen. Ia berhasil mencapai dua kali semifinal Piala Dunia, yakni pada 2018 dan 2026, serta dua kali tampil di final Piala Eropa pada 2020 dan 2024.
Usianya kini 32 tahun, dan ia berada dalam status bebas transfer setelah meninggalkan Manchester City. Meski begitu, Stones menyatakan belum berniat mengakhiri karier internasionalnya bersama timnas Inggris, dan akan mencoba mendapatkan juara 3 Piala Dunia 2026.
Di Stadion Miami, emosi yang masih tersisa dari kekalahan Argentina akan diuji ulang menjadi fokus. Perebutan peringkat ketiga mungkin bukan gelar utama, tetapi bagi Stones dan skuadnya, ini tetap soal harga diri, kebanggaan, dan kelanjutan perjalanan yang harus ditutup dengan cara yang layak.












