jurnalistik.co.id – Dua personel militer Amerika Serikat tewas dalam operasi di Yordania, sementara satu lainnya dilaporkan masih hilang setelah serangan gabungan rudal balistik dan drone dari Iran, menurut pejabat militer AS. Komando Pusat AS (US Central Command/Centcom) menyatakan empat personel AS dievakuasi secara medis ke rumah sakit di Yordania, namun kemudian telah dipulangkan.
Dalam perkembangan yang diumumkan pada Sabtu, Centcom juga menyebut personel yang mengalami cedera ringan telah kembali bertugas. Yordania sebelumnya menyatakan pihaknya berhasil mencegat sepuluh rudal Iran yang masuk wilayah udara negara itu semalam hingga Sabtu.
Pejabat militer tidak mengungkap identitas dua orang yang tewas, maupun rincian mengenai kronologi kejadian, termasuk lokasi serangan terbaru di Yordania. Tidak ada penjelasan tambahan dari pihak militer mengenai kondisi satu personel yang dinyatakan hilang.
Centcom merilis pernyataan yang menyebut bahwa serangan terhadap pasukan AS terjadi ketika negara dan kekuatan mitranya menghadapi ancaman rudal dan drone dari Iran. Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa satu personel dinyatakan hilang.
“Two US service members in Jordan were killed in action as US Central Command (Centcom) and partner forces defended against Iranian ballistic missile and drone attacks. Additionally, one service member is currently missing. ”Out of respect for the families, Centcom will withhold additional information, including the identities of the fallen warriors, until 24 hours after the next of kin have been notified.”
Menurut Centcom, empat personel AS yang dievakuasi secara medis ke rumah sakit di Yordania kemudian dipulangkan. Sementara itu, korban lain yang mengalami luka ringan dilaporkan telah kembali ke tugas.
Di sisi lain, militer Yordania melaporkan tidak adanya informasi terkait kerusakan dalam pernyataan mengenai intersepsi serangan pada periode semalam. Pernyataan tersebut berfokus pada keberhasilan mencegat sepuluh rudal Iran yang masuk wilayah udara Yordania.
Centcom juga menyebut bahwa serangan yang terjadi di Yordania berlangsung dalam konteks operasi udara AS yang telah berlangsung berhari-hari. Pihak militer AS menyatakan telah melakukan serangan pada malam ke-7 berturut-turut terhadap Iran, sejak Presiden Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan sementara sementara “over”.
“Gencatan sementara” itu sebelumnya dijelaskan sebagai kesepakatan yang diumumkan sementara, namun kemudian dinyatakan berakhir. Pernyataan Trump mengenai kesepakatan yang dinyatakan “over” menjadi penanda berlanjutnya operasi.
Perkembangan terbaru juga berdampak pada catatan korban di pihak AS. Total korban tewas dalam konflik disebut meningkat menjadi 16 setelah seorang pilot Angkatan Laut AS yang sebelumnya dilaporkan hilang pada awal bulan ini dinyatakan meninggal dunia.
Berita Terkait
Catatan peningkatan tersebut disebut menjadi kenaikan kedua dalam sepekan terakhir. Namun, rincian mengenai keadaan pilot yang dinyatakan meninggal dan kaitannya dengan operasi sebelumnya tidak diuraikan lebih jauh dalam pernyataan yang sama.
Di tingkat lain, media negara Iran mengaitkan kerugian dalam operasi udara AS dengan angka korban yang berbeda. Menurut laporan tersebut, setidaknya 50 orang tewas dan lebih dari 500 orang terluka akibat serangan AS selama tiga minggu terakhir.
Laporan itu disampaikan dengan merujuk pada kementerian kesehatan Iran. Dengan demikian, perbandingan angka korban menunjukkan adanya perbedaan narasi antara pihak-pihak yang berkonflik, sesuai pola pemberitaan di tengah eskalasi.
Washington dan Teheran sempat mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang pada bulan Juni. Namun, perjanjian itu disebut runtuh dalam waktu satu bulan setelah penandatanganan.
Menjelang akhir pekan, suasana eskalasi juga tampak dari pernyataan pemimpin tertinggi Iran. Pada malam Sabtu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyatakan melalui pernyataan tertulis bahwa pelanggaran berulang AS terhadap kesepakatan menyingkap kebenaran mendasar.
Dalam pernyataannya, Khamenei menyebut: “America’s “repeated breaches” of the agreement had “laid bare a fundamental truth: the signature of the US president is utterly worthless and devoid of credibility”.”
Khamenei disebut tidak terlihat di ruang publik sejak serangan yang menewaskan ayahnya pada awal perang di bulan Februari. Pernyataan itu menempatkan eskalasi sebagai konsekuensi dari putusnya kepercayaan terhadap komitmen perjanjian.
Hostilitas dilaporkan meningkat kembali dalam sepekan terakhir. Pihak AS disebut telah memasang kembali blokade pada pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Teheran menyatakan Selat Hormuz ditutup.
Dengan adanya peristiwa di Yordania ini, rangkaian serangan antara dua pihak kembali menegaskan pola konfrontasi yang berkelanjutan. Meski Yordania menyatakan intersepsi terhadap rudal Iran, informasi mengenai detail dampak di lokasi kejadian bagi pasukan AS tetap dibatasi oleh Centcom.
Centcom menyatakan penahan informasi tambahan dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga. Pihaknya menyebut identitas korban yang tewas dan informasi lanjutan akan ditahan hingga 24 jam setelah pihak keluarga terdekat diberitahu.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak militer mengenai penjelasan operasional atas satu personel yang masih dinyatakan hilang. Namun, laporan yang disampaikan menegaskan bahwa serangan yang dilaporkan melibatkan kombinasi rudal balistik dan drone, serta menempatkan pasukan AS di garis pertahanan bersama kekuatan mitra.












