jurnalistik.co.id – Lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada Jumat (17/7/2026) memperlihatkan likuiditas pasar keuangan domestik masih cukup besar. Berdasarkan data lelang yang dirilis Bank Indonesia, minat pelaku pasar meningkat pada sesi kali ini.
Permintaan naik dibanding lelang sebelumnya
Permintaan terhadap SRBI tercatat naik 24,4% menjadi Rp37,93 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibanding nilai permintaan pada lelang Rabu (15/7/2026) yang sebesar Rp30,67 triliun.
Bank Indonesia juga meningkatkan penyerapan dana melalui lelang SRBI. Penyerapan pada Jumat (17/7/2026) mencapai Rp17 triliun, naik dari Rp15 triliun pada lelang sebelumnya.
Terutama didorong tenor 12 bulan
Dari sisi tenor, lonjakan minat investor paling menonjol terlihat pada SRBI tenor 12 bulan. Nilai penawaran pada tenor ini melonjak menjadi Rp32,59 triliun, naik 31,6% dibanding lelang sebelumnya yang berada di Rp24,75 triliun.
Seiring meningkatnya penawaran, BI juga menaikkan nominal yang dimenangkan untuk tenor 12 bulan. Nilai yang dimenangkan tercatat Rp16,58 triliun, lebih tinggi dibanding lelang sebelumnya sebesar Rp13,3 triliun.
Dalam total nilai yang dimenangkan pada sesi ini, Rp17 triliun, hampir 98% berasal dari tenor 12 bulan. Dengan demikian, sekitar Rp16,58 triliun dari total dimenangkan terkonsentrasi pada tenor tersebut.
Tenor 6 bulan melemah
Berita Terkait
Sementara itu, kinerja penawaran pada tenor 6 bulan justru bergerak berlawanan arah. Nilai penawaran tercatat turun menjadi Rp4,64 triliun dari sebelumnya Rp5,31 triliun.
Selain penawaran yang lebih rendah, BI juga memangkas nilai yang dimenangkan secara signifikan pada tenor 6 bulan. Nilai yang dimenangkan hanya Rp200 miliar, turun tajam dibanding lelang sebelumnya yang mencapai Rp1,2 triliun.
Gambaran kebutuhan dana di pasar
Pola distribusi nilai yang dimenangkan menunjukkan bahwa selera pelaku pasar lebih terkonsentrasi pada tenor panjang pada lelang ini. Dengan sekitar 98% kemenangan berada di tenor 12 bulan, komposisi serapan mengindikasikan fokus penempatan dana pada durasi tersebut.
Di sisi lain, penurunan pada tenor 6 bulan—mulai dari penawaran yang turun hingga porsi kemenangan yang dipangkas—memperlihatkan adanya pergeseran preferensi terhadap tenor yang ditawarkan dalam lelang. Perbandingan nilai yang dimenangkan antara dua tenor juga memperjelas perbedaan respons pelaku pasar.
Secara keseluruhan, sesi Jumat (17/7/2026) menempatkan permintaan sebesar Rp37,93 triliun dan penyerapan Rp17 triliun sebagai penanda bahwa likuiditas di pasar keuangan domestik masih melimpah. Di saat yang sama, konsentrasi hampir seluruh kemenangan pada tenor 12 bulan menjadi bagian paling menonjol dari dinamika lelang SRBI kali ini.
Jika dilihat dari perbandingan antara jumlah yang ditawarkan dan yang akhirnya terserap, sesi kali ini menunjukkan adanya penyesuaian strategi baik di sisi penawaran maupun seleksi nilai yang dimenangkan. Kenaikan permintaan secara keseluruhan tetap diikuti kenaikan pada tenor yang paling diminati.
Khusus tenor 12 bulan, lonjakan penawaran diikuti dengan peningkatan nominal yang dipilih untuk dimenangkan, sehingga ketebalan kebutuhan dana pada durasi tersebut terlihat lebih konsisten. Dengan nilai yang dimenangkan mencapai Rp16,58 triliun, tenor ini menjadi pendorong utama dari total serapan Rp17 triliun.
Sebaliknya, pada tenor 6 bulan, pergerakan cenderung melemah pada dua tahap sekaligus: mulai dari penurunan nilai penawaran hingga penyusutan nilai yang dimenangkan. Hasilnya, kontribusi tenor 6 bulan terhadap total kemenangan menjadi sangat kecil, hanya sekitar Rp200 miliar.
Komposisi tersebut juga memberi gambaran bahwa pelaku pasar lebih memusatkan alokasi pada periode yang lebih panjang dibanding sesi sebelumnya. Meskipun permintaan naik 24,4% dan serapan turut bertambah, perubahan terutama tampak pada bergesernya porsi kemenangan ke tenor 12 bulan, sementara tenor 6 bulan mengalami pemangkasan.












