jurnalistik.co.id – Gedung Putih menyatakan dukungannya terhadap hak kebebasan berekspresi Timnas Argentina, di tengah sorotan menjelang partai puncak Piala Dunia 2026.
Pernyataan itu muncul setelah Argentina meraih kemenangan atas Inggris pada babak semifinal, lalu dirayakan dengan aksi yang memunculkan reaksi luas di publik.
Dalam momen selebrasi tersebut, para pemain Argentina membawa masuk spanduk kontroversial ke lapangan. Spanduk itu awalnya dipegang oleh para suporter sebelum kemudian dibawa ke area pertandingan.
Spanduk yang dibentangkan memuat pesan penegasan klaim wilayah dengan tulisan “Las Malvinas son Argentinas”, yang bermakna “Kepulauan Falkland adalah Argentina”.
Otoritas dan pengamat sepak bola kemudian menyoroti kemungkinan pelanggaran terhadap regulasi yang mengatur penggunaan atribut politik di stadion. Polemik itu berangkat dari kekhawatiran bahwa selebrasi yang melibatkan pesan berbau klaim wilayah dapat dikategorikan sebagai simbol politik.
Potensi benturan aturan IFAB dan FIFA
Aturan FIFA yang disorot menyebutkan bahwa segala materi yang bernuansa politis berpotensi melanggar ketentuan etika pertandingan. “Segala materi, termasuk namun tidak terbatas pada spanduk, bendera, selebaran, pakaian, dan perlengkapan lainnya, yang bersifat politis, menyinggung, dan/atau diskriminatif, yang mengandung kata-kata, simbol, atau atribut lain apa pun yang bertujuan untuk melakukan diskriminasi dalam bentuk apa pun terhadap suatu negara, individu, atau kelompok berdasarkan ras, warna kulit, etnis, asal kebangsaan atau sosial, identitas dan ekspresi gender, disabilitas, bahasa, agama, opini politik atau opini lainnya, kelahiran, kekayaan atau status lainnya, orientasi seksual, atau atas dasar lainnya,” bunyi aturan FIFA dikutip dari The Athletic, Minggu (19/7/2026).
Ketentuan serupa juga dinyatakan dalam peraturan IFAB terkait perlengkapan pemain. “Peralatan tidak boleh memiliki slogan, pernyataan, atau gambar politik, agama, atau pribadi,” bunyi peraturan IFAB. “Pemain tidak boleh memperlihatkan pakaian dalam yang menampilkan slogan, pernyataan, atau gambar politik, agama, pribadi, atau iklan selain logo produsen.”
Berita Terkait
Sejumlah politisi kemudian menyampaikan kecaman dalam beberapa hari terakhir. Salah satu yang paling menonjol datang dari Ed Davey, pemimpin partai Liberal Democrats Inggris, yang mendesak agar pemain yang terlibat dijatuhi hukuman larangan bermain pada laga final melawan Spanyol.
Di sisi lain, FIFA menyatakan masih mengevaluasi laporan resmi pertandingan sebelum menentukan keputusan terkait kemungkinan sanksi untuk Argentina. Tidak ada tenggat waktu pasti kapan putusan tersebut akan dijatuhkan.
Di tengah ancaman sanksi dan gelombang kecaman, Andrew Giuliani—direktur eksekutif gugus tugas Piala Dunia—justru membela perayaan para pemain tersebut. Ia menyampaikan pembelaan pada hari Jumat, ketika perdebatan memuncak setelah insiden selebrasi di semifinal.
Di lapangan, perayaan kemenangan juga ditunjukkan melalui momen para pemain yang mengangkat Lionel Messi setelah peluit panjang berbunyi. Namun, di balik euforia, diskusi publik tetap berpusat pada apakah spanduk bertulisan “Las Malvinas son Argentinas” dapat dipandang sebagai ekspresi yang melanggar kode etik stadion.
Dengan final Piala Dunia 2026 yang semakin dekat, keputusan FIFA masih menjadi penentu. Publik menunggu apakah evaluasi atas laporan resmi pertandingan akan berujung sanksi, atau justru tidak ada tindakan lanjutan terhadap pihak Argentina.
Di luar lapangan, perdebatan juga merambat ke ruang-ruang media dan opini, karena spanduk yang berisi pesan klaim wilayah tidak dipandang sebagai bagian standar dari selebrasi pertandingan. Banyak pihak kemudian melihatnya sebagai ujian interpretasi: apakah simbol yang menyentuh isu negara dan wilayah dapat diperlakukan sama seperti atribut nonpolitik, atau justru masuk kategori yang berpotensi menyinggung aturan etika.
Dengan sejumlah penilaian yang mengacu pada teks ketentuan FIFA dan IFAB, perhatian publik beralih pada bagaimana laporan resmi pertandingan akan dibaca dan diproses. Setelah evaluasi itu selesai, publik menanti apakah keputusan yang mungkin diambil hanya sebatas catatan, atau berujung pada tindakan terhadap mereka yang terlibat, terutama mengingat tekanan dari politisi agar ada efek nyata pada laga final.
Sementara itu, pembelaan terhadap perayaan juga terus menjadi bagian dari narasi yang sama. Insiden di semifinal tidak hanya dibaca sebagai momen euforia, tetapi juga sebagai titik awal konflik wacana antara dukungan terhadap ekspresi kebebasan berekspresi dan kekhawatiran bahwa atribut bernuansa politis bisa mengganggu ketertiban kompetisi. Semua pihak kini menunggu respons FIFA sebagai penentu arah lanjutan polemik.












