jurnalistik.co.id – Tim penyelamat telah menemukan jenazah Nirmal Purja, pendaki asal Inggris-Nepal, di Gunung Broad Peak, Pakistan, pada Minggu.
Purja yang berusia 43 tahun dilaporkan meninggal dunia bersama sembilan anggota tim ekspedisi lainnya akibat bencana longsoran salju di kawasan pegunungan Karakoram.
BBC mengutip konfirmasi dari klub Alpine Pakistan yang menyebut jasad Purja ditemukan pada ketinggian sekitar 5.700 meter di atas permukaan laut.
Di area yang berdekatan, tim penyelamat juga menemukan tiga jenazah pendaki lain sebelum mengevakuasinya menuju Kamp Jepang.
Sebelum jenazah Purja ditemukan, otoritas Pakistan telah mengidentifikasi tiga korban lain dari tim ekspedisi Elite Expeditions, yakni Mallory Geis (Amerika Serikat), Nadhira Ahmed Abdullah Al Harthy (Oman), serta Pur Bahadur Gurung (Nepal).
Belasungkawa dari otoritas dan tokoh Inggris-Nepal
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya 10 pendaki, yang terdiri dari enam warga Nepal dan empat pendaki asing.
“Kematian tragis enam warga Nepal dan empat pendaki asing lainnya, termasuk pemegang rekor dunia Nirmal Purja , di pegunungan Karakoram Pakistan, telah mengejutkan kami. Sejarah keberanian, dedikasi, dan kontribusi mereka akan selalu tetap menginspirasi,” ungkap Balendra Shah.
Penghormatan juga datang dari Pangeran William serta Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting. Keduanya memuji pengabdian Purja di militer serta reputasinya di dunia petualangan ekstrem.
Sementara itu, kakak kandung Purja, Kamal, menegaskan kebanggaannya terhadap warisan inspiratif yang ditinggalkan sang adik.
Rekor “14 puncak” yang menyingkat waktu
Nama Nirmal Purja mulai dikenal luas saat ia mengukir pencapaian ekstrem dalam rangkaian pendakian berskala dunia.
Berita Terkait
Dikenal pula dengan panggilan “Nimsdai”, Purja meraih sorotan internasional pada 2019 setelah menaklukkan seluruh 14 puncak gunung berketinggian lebih dari 8.000 meter dalam waktu 189 hari, atau sekitar enam bulan.
Pencapaian tersebut mematahkan rekor sebelumnya yang menuntut waktu lebih dari tujuh tahun untuk menyelesaikan target yang sama.
Kisah penaklukan ekstrem itu kemudian diabadikan dalam film dokumenter Netflix berjudul 14 Peaks: Nothing Is Impossible.
Dalam salah satu kutipannya kala itu, Purja menyampaikan, “Ini adalah enam bulan yang melelahkan tetapi juga penuh pelajaran berharga, dan saya berharap telah membuktikan bahwa segala sesuatu mungkin terjadi dengan tekad, kepercayaan diri, dan sikap positif.”
Jejak militer dan pencapaian di Everest
Sebelum menjadi salah satu figur pendakian terbaik di dunia, Purja mengabdi selama 16 tahun di Angkatan Bersenjata Inggris, dengan 10 tahun di antaranya dilakukan di pasukan khusus.
Ia juga mencatatkan rekor sebagai prajurit Gurkha pertama yang mendaki Everest ketika masih aktif bertugas.
Atas prestasi tersebut, Purja dianugerahi gelar MBE pada 2018 oleh mendiang Ratu Elizabeth II, sebagai pengakuan terhadap keberhasilan di ketinggian ekstrem.
Kepergian Purja di Broad Peak pun menutup perjalanan yang selama ini memadukan disiplin militer, kemampuan menghadapi medan sulit, serta tekad untuk menuntaskan target yang menantang.
Di tengah upaya pencarian dan evakuasi yang melibatkan beberapa korban lainnya, nama Purja tetap dikenang melalui rekam jejak rekor dunia dan pengaruhnya terhadap komunitas pendaki ekstrem, yang selama ini melihat pencapaiannya sebagai bukti bahwa batas kemampuan dapat ditembus dengan perencanaan, ketekunan, dan keberanian menghadapi risiko.
Selain memastikan jasad Purja, tim penyelamat juga mengutamakan evakuasi dari lokasi penemuan di ketinggian pegunungan Karakoram. Proses tersebut dilakukan dengan membawa temuan-temuan korban menuju Kamp Jepang, menyusul kondisi medan yang penuh tantangan setelah bencana longsoran salju.
Dalam rekam kiprahnya, perjalanan Purja kerap dikaitkan dengan pendekatan disiplin dan mentalitas bertahan di situasi ekstrem, yang kemudian melekat pada publik melalui dokumenter Netflix “14 Peaks: Nothing Is Impossible”. Nama dan pencapaiannya, termasuk pencapaian 14 puncak dalam 189 hari, terus menjadi rujukan bagi banyak pendaki sebagai gambaran bahwa target besar bisa ditempuh melalui ketekunan dan keberanian menghadapi risiko.












