Hukum & Kriminal

Karyawan Perusahaan Diserang Sajam dan Senapan, Warga Inhu Demo Polisi, Minta Aktor Intelektual Ditangkap

0
×

Karyawan Perusahaan Diserang Sajam dan Senapan, Warga Inhu Demo Polisi, Minta Aktor Intelektual Ditangkap

Sebarkan artikel ini
Karyawan Perusahaan Diserang Sajam dan Senapan, Warga Inhu Demo Polisi Minta Aktor Intelektual Ditangkap Regional 6 Juni 2026
Ilustrasi: Karyawan Perusahaan Diserang Sajam dan Senapan, Warga Inhu Demo Polisi Minta Aktor Intelektual Ditangkap

jurnalistik.co.id – PEKANBARU—Ratusan warga menggelar demonstrasi besar-besaran di depan Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Indragiri Hulu (Inhu), Riau, Sabtu (6/6/2026). Aksi itu digelar menyusul penyerangan brutal terhadap para karyawan perusahaan sawit PT Sinar Belilas Perkasa oleh sekelompok orang bersenjata tajam dan senapan angin.

Demonstran yang diperkirakan berjumlah sekitar 400 orang sebagian besar merupakan pihak keluarga dari para korban. Mereka datang tergabung dalam Forum 3 Desa dan 1 Kelurahan yang meliputi wilayah Desa Talang Jerinjing, Paya Rumbai, Sungai Raya, serta Kelurahan Sekip Hilir.

Selama aksi berlangsung, aparat kepolisian setempat memberikan pengawalan ketat kepada massa demonstran. Di lokasi itu, warga dan keluarga korban menyampaikan tuntutan agar proses hukum berjalan dengan tegas dan menyeluruh.

Desakan agar pelaku ditangkap dan korban diberi perlindungan

Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Zaudi Alamsyah, menegaskan kedatangan massa ke depan markas polisi untuk meminta komitmen penuh dari jajaran Polres Inhu agar segera menangkap seluruh pelaku yang terlibat. Zaudi menyampaikan bahwa perlindungan dan rasa aman bagi korban serta keluarga korban menjadi perhatian utama dalam tuntutan mereka.

“Kami juga meminta kepada penegak hukum untuk dapat memberikan perlindungan dan rasa aman kepada korban dan keluarga korban, serta pekerja buruh dan karyawan yang saat ini masih mengalami trauma berat,” kata Zaudi saat memberikan keterangan kepada wartawan di sela-sela aksi.

Menurut Zaudi, hingga saat ini para karyawan masih dibayangi rasa was-was dan ketakutan untuk kembali bekerja maupun sekadar beraktivitas di dalam areal perkebunan perusahaan. Ia menekankan bahwa pekerjaan sebagai buruh sawit merupakan pilar utama penopang ekonomi bagi karyawan dan keluarganya.

“Kami bersama keluarga korban, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu korban saat tragedi penyerangan,” ucap Zaudi.

Di sisi lain, pihak keluarga juga menyampaikan apresiasi kepada Polres Inhu yang bergerak cepat menangkap dua orang tersangka penyerangan. Namun, warga mendesak agar penyidikan tidak berhenti pada penangkapan tersebut saja.

“Kami meminta pihak kepolisian untuk menangkap aktor intelektual penyerangan itu,” kata Zaudi menegaskan.

Zaudi menambahkan, bila tuntutan itu tidak segera direalisasikan, warga bersama keluarga korban mengancam akan kembali turun ke jalan. Mereka menyatakan rencana pengawalan kasus ini dengan mengerahkan jumlah massa yang jauh lebih besar ke Mapolres Inhu.

Kronologi penyerangan: saat sarapan pagi, enam karyawan menjadi korban

Peristiwa penyerangan bermula pada Senin (1/6/2026). Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sebanyak 6 orang karyawan perusahaan kelapa sawit PT Sinar Belilas Perkasa (SBP) di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, menjadi korban penembakan serta pembacokan brutal oleh sekelompok orang tidak dikenal.

Akibat serangan mendadak tersebut, para korban mengalami luka tembak dan sabetan senjata tajam. Mereka kemudian harus dilarikan ke rumah sakit guna mendapatkan perawatan medis intensif.

Peristiwa mencekam itu bermula ketika para korban sedang berkumpul bersama dan menyantap sarapan pagi di lokasi area kerja mereka. Secara tiba-tiba, datang rombongan massa yang berjumlah sekitar 100 orang dengan membawa berbagai senjata tajam serta senapan angin.

Tanpa ada pembicaraan apa pun, rombongan pelaku tersebut langsung melancarkan serangan secara membabi buta ke arah karyawan. Penyerangan tersebut menjadi titik awal tuntutan warga agar aparat segera mengusut pelaku hingga tuntas.

Rangkaian demonstrasi di depan Mapolres Inhu pada Sabtu (6/6/2026) kemudian mencerminkan respons keluarga korban terhadap peristiwa yang terjadi sebelumnya. Warga menempatkan permintaan penangkapan pelaku tambahan, termasuk aktor intelektual, sebagai bagian dari upaya memastikan keadilan berjalan dan korban mendapatkan kepastian.

Dalam aksi itu, Zaudi Alamsyah juga menyoroti dampak psikologis yang dialami karyawan. Ia menegaskan bahwa trauma berat masih dirasakan para korban, sehingga mereka dibayangi rasa takut saat hendak kembali beraktivitas di area kerja.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, warga mendorong polisi untuk tidak hanya menindak dua tersangka yang sudah ditangkap, tetapi juga melanjutkan proses penegakan hukum secara lebih luas. Ancaman massa untuk kembali turun dengan jumlah yang lebih besar menjadi penegasan bahwa tuntutan mereka masih terus berlanjut hingga ada realisasi penangkapan sesuai permintaan.