jurnalistik.co.id – Kebakaran di Jalan Citarum Atas, Kelurahan Cideng, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, bermula dari api yang berkobar di sebuah warung makan (warteg). Peristiwa itu terjadi pada Jumat (5/6/2026), dan warga sempat mendengar ledakan saat menjalankan shalat subuh.
Saksi mata, Wahid (50), menceritakan bahwa awal kejadian berawal ketika ia hendak mempersiapkan jualan. Ia sedang memasak sebelum bersiap shalat subuh, lalu mendengar suara ledakan.
“Waktu itu saya mau persiapan jualan. Saya sedang memasak. Kemudian mau shalat subuh,” ujar Wahid di lokasi kejadian.
Menurut Wahid, saat itu terdengar ledakan, lalu ada permintaan pertolongan karena terjadinya kebakaran. “Kok terdengar ledakan. Kemudian ada yang minta tolong, tolong kebakaran,” tuturnya.
Wahid kemudian membuka pintu rumah kontrakannya dan melihat api besar dari rumah tetangganya. Ia menyebut rumah tersebut sehari-hari digunakan sebagai warung makan.
“Apinya besar. Sudah tinggi. Saya langsung ke situ, mau bantu. Tapi pakai air juga sudah tidak bisa karena apinya besar,” katanya.
Setelah mengetahui situasi tersebut, Wahid memberitahu istri dan anaknya mengenai kebakaran. Ia juga menyampaikan informasi itu kepada para tetangga lain yang masih berada di dalam rumah.
Warga kemudian bergegas meninggalkan rumah masing-masing untuk mencari lokasi yang aman. Wahid mengatakan pemadam kebakaran datang setelah warga melakukan evakuasi, dan proses pemadaman berlangsung hingga kondisi sudah terang.
“Habis itu petugas pemadam datang. Pemadaman sampai kondisi sudah terang,” tutur Wahid.
Akibat kebakaran, rumah kontrakan Wahid hangus terbakar beserta barang-barang perabot dan uang hasil berjualannya gado-gado. Wahid menyebut alat memasak, seperti panci, wajan, dan kompor, turut hangus dalam kebakaran tersebut.
“Yang selamat motor saya, lalu cobek. Motor saya bisa selamat, tapi kuncinya hilang,” kata Wahid.
Setelah api berhasil dipadamkan, petugas memasang garis polisi di lokasi kebakaran. Pantauan di Jalan Citarum Atas menunjukkan kawasan kejadian telah ditetapkan sebagai area yang perlu dipantau.
Warga yang mengetahui peristiwa tersebut menggambarkan bahwa momen awal kebakaran ditandai dengan suara ledakan sebelum api terlihat membesar. Dari cerita Wahid, rangkaian kejadian bergerak cepat dari persiapan menjelang shalat subuh hingga warga berupaya menolong sekaligus mencari keselamatan.
Kebakaran tersebut berlangsung cepat sejak momen sebelum waktu shalat subuh. Api pertama kali dikaitkan dengan aktivitas di warung makan di lokasi kejadian, namun warga baru benar-benar menyadari situasi melalui suara dentuman yang terdengar lebih dahulu sebelum kobaran makin terlihat besar.
Wahid menuturkan saat itu ia masih berada di dalam rumah kontrakan, sedang menyiapkan kebutuhan jualan sembari memasak. Dari proses tersebut, ia kemudian menangkap bunyi ledakan yang mengagetkan, lalu terdengar seruan agar warga segera menolong karena terjadi kebakaran.
Setelah mendengar dan menerima kabar adanya kebakaran, Wahid keluar dan membuka pintu rumah kontrakannya. Ia melihat api yang sudah menjulang dari rumah tetangga yang sehari-hari dipakai sebagai tempat warung makan, sehingga upaya pertolongan dilakukan secepat mungkin meski beberapa cara seperti menggunakan air tidak mampu menahan laju api.
Wahid lalu menyampaikan kabar itu kepada keluarga yang berada di dalam rumah, termasuk istri dan anaknya. Informasi yang ia sampaikan juga menjangkau tetangga lain yang masih berada di dalam bangunan, sehingga warga dapat bergerak bersama untuk mencari tempat yang aman sebelum petugas tiba.
Menurut Wahid, petugas pemadam kebakaran datang setelah warga melakukan evakuasi. Proses pemadaman berlangsung hingga kondisi mulai terang, kemudian petugas memasang garis polisi di lokasi. Dari dampak yang ditimbulkan, rumah kontrakan Wahid beserta perabot dan uang hasil berjualannya ikut hangus, termasuk alat-alat memasak seperti panci, wajan, dan kompor. Ia juga menyebut motor dan cobek yang dimiliki masih selamat, tetapi kunci motor hilang.












