jurnalistik.co.id – London City Lionesses sukses membuat kejutan dalam perburuan bakat di kompetisi kasta tertinggi sepak bola putri Inggris. Setelah Michele Kang membeli klub pada Desember 2023, langkah berikutnya terasa seperti plot yang sulit dibayangkan: Alexia Putellas akhirnya bergabung sebagai pemain pada dua setengah tahun setelah kepemilikan baru itu berjalan.
Putellas, yang di Spanyol dikenal dengan julukan “La Reina”, selama 14 tahun menjadi figur utama Barcelona. Ia membantu klub itu mengangkat gelar dalam jumlah luar biasa, termasuk 10 gelar liga dan empat gelar Liga Champions. Setelah meraih penghargaan Ballon d’Or secara beruntun pada 2021 dan 2022, kariernya sempat terguncang oleh cedera anterior cruciate ligament (ACL) yang datang menjelang Euro 2022, sebelum akhirnya kembali pulih tepat waktu untuk ikut mengantar Spanyol menjadi juara Piala Dunia pada 2023.
Musim berikutnya tetap menunjukkan kapasitasnya di level turnamen besar. Putellas juga masuk skuad yang menuntaskan Euro 2025 sebagai runner-up di belakang Inggris. Dengan semua pencapaian itu, pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana sebuah klub independen dari Bromley—yang pada 2025 bermain di divisi kedua—bisa mengunci salah satu transfer terbesar dalam sejarah Women’s Super League, serta mengapa Putellas memilih London City di tengah opsi dari banyak raksasa sepak bola putri.
Seiring kontraknya berakhir di Barcelona, Putellas mengambil keputusan untuk meninggalkan klub. Proses kepindahan ini juga diyakini sudah lama menyimpan dorongan untuk merasakan tantangan baru di WSL. Meski London City harus bersaing dengan klub-klub papan atas dari berbagai negara, Putellas tetap menarik diri ke arah proyek yang dinilai menawarkan perubahan nyata, bukan sekadar perpindahan profesional.
Dari sisi tawaran, ia sempat dihadapkan pada minat dari Inggris, Meksiko, dan Amerika Serikat. Namun, sumber-sumber di dekat pemain menyebut bahwa Boston Legacy menjadi pesaing yang paling sulit dihadapi. Di tengah persaingan tersebut, perhatian Putellas juga tertarik pada ambisi Kang untuk permainan sepak bola putri. Hubungan Kang tidak hanya berhenti pada kerangka pemilik klub, tetapi juga menyeberang pada kemungkinan kemitraan bisnis yang bisa berkembang setelah masa bermain Putellas berakhir.
Putellas sendiri membuka bahwa ia dan Kang pertama kali bertemu di Miami empat tahun lalu. Pada saat makan malam, keduanya membahas visi mereka untuk masa depan permainan. Harapan sang pemain adalah bergabung dengan klub yang memberinya ruang untuk berkontribusi di luar lapangan, sekaligus tetap memberi dampak di dalam pertandingan. Ia juga disebut ingin meninggalkan “warisan” yang dapat mendukung pertumbuhan generasi berikutnya dalam cabang olahraga ini.
Keputusan Putellas juga datang dengan konsekuensi besar di musim ini. Ia melepaskan peluang bermain di Liga Champions, padahal ia berperan sebagai kapten Barcelona pada kemenangan di 2026. Namun, London City memiliki peta jalan lima tahun yang diarahkan untuk bersaing memperebutkan trofi dan menargetkan peluang kualifikasi Eropa di WSL pada musim yang berjalan. Menjelang Piala Dunia berikutnya, ia diperkirakan ingin kondisinya sudah matang pada 2027, dengan kontrak tiga tahun di Bromley yang dianggap menjadi tempat untuk memastikan kelanjutan kariernya secara berkelanjutan.
Negosiasi dan pendekatan London City
Kang dinilai punya pengaruh yang sangat besar dalam meyakinkan Putellas. Dalam berbagai kesempatan, pemilik klub itu terlibat percakapan rutin dengan sang pemain ketika hadir di acara-acara serta seremoni penghargaan. Itulah alasan mengapa London City tetap percaya pada kemungkinan pendekatan, meski kesepakatan formal baru terwujud dalam beberapa pekan terakhir.
Klub juga disebut tidak mengajukan permintaan kepada Barcelona untuk memulai komunikasi terkait Putellas pada Januari, meski secara aturan klub memungkinkan melakukan hal itu. Putellas sebelumnya menyatakan ingin menyelesaikan musim tanpa gangguan tambahan. Kontraknya akhirnya ditandatangani pada bulan ini, dan dipahami sang pemain tidak membahas keputusan itu dengan rekan setimnya.
Selain pendekatan personal, faktor finansial juga menjadi penopang. London City mampu menyediakan dana yang diperlukan untuk membayar Putellas sesuai nilai yang ia bawa dan menjadikannya pemain dengan bayaran tertinggi di klub. Menurut sumber di London City, ia memperoleh gaji pokok yang nilainya kurang dari ÂŁ1 juta, dengan potensi tambahan dari bonus atau add-ons yang bisa menaikkan total pendapatan.
Batasan gaji di WSL dan cara London City mengaturnya
Berita Terkait
Dalam kerangka kompetisi, ada batasan pendapatan bagi pemain WSL. WSL mencegah pemain memperoleh penghasilan lebih besar dari 80% total pendapatan klub, dengan kemungkinan tambahan investasi hingga ÂŁ4 juta. Sebagai gambaran, pemain-pemain dengan pendapatan tertinggi di Arsenal dan Chelsea pada 2025 disebut memiliki pendapatan masing-masing ÂŁ21,5 juta dan ÂŁ21,3 juta. Dengan tambahan investasi maksimal, struktur upah yang mungkin bergerak di sekitar angka ÂŁ21 juta.
Bagi London City, investasi tersebut berasal dari Kynisca, bisnis yang terkait dengan Kang. Artinya, gaji Putellas harus ditempatkan agar tetap berada dalam “soft salary cap” yang disusun. Total pendapatan klub juga belum diumumkan karena London City baru saja promosi ke WSL pada tahun lalu, sehingga angka final masih dalam proses pembaruan.
Meski aspek finansial penting, daya tarik utama yang ditekankan justru adalah proyek yang didanai Kang: klub independen yang ambisius, menargetkan peluang untuk mencapai tempat kualifikasi Eropa, serta memiliki niat untuk memperluas permainan sepak bola putri. Selain itu, ada pula pengaruh dari Spanyol dalam struktur klub. General Manager Gonzalo Rodriguez Garcia dan mantan eksekutif Barcelona, Markel Zubizarreta, disebut memegang peran organisasi kunci, sementara Eder Maestre ditunjuk sebagai manajer.
Putellas juga datang dengan latar hubungan yang sudah mengakar di internal tim. Jana Fernandez, sahabat dekatnya, disebut mengalami perkembangan setelah pindah dari Barcelona ke London City pada tahun sebelumnya. Kedatangan bek Spanyol, Mapi Leon, juga dinilai akan segera terjadi, sehingga nuansa kompetensi dan iklim komunikasi di ruang latihan menjadi lebih mudah untuk dibangun.
Dampak kedatangan Putellas bagi London City
Di London City, Putellas diperkirakan masuk ke kelompok kepemimpinan klub. Harapannya, ia mampu menetapkan standar yang lebih tinggi dalam latihan serta menunjukkan profesionalisme yang konsisten. Ia juga disebut akan berada lebih cepat di London dari rencana awal persiapan pramusim, sekaligus menolak peluang komersial yang tersedia di Piala Dunia pria.
Dari perspektif pemasaran, kehadiran Putellas berpotensi memperkuat citra klub dan membuka peluang promosi yang lebih luas—hal yang penting bagi London City yang sedang membangun basis penggemar dari nol. Dalam jangka lebih panjang, kedatangannya juga bisa menjadi pemantik bagi pemain-pemain level atas lain untuk mempertimbangkan pindah ke klub yang sama.
Namun, di sisi kompetitor WSL, situasi ini dipandang menimbulkan kekhawatiran. Kang dan Putellas dipahami sebagai kombinasi kemitraan yang kuat, yang dapat mendorong perkembangan liga sekaligus membawa London City menuju status klub-klub papan atas Eropa. Bagi tim-tim elit yang lain, konsekuensinya adalah kebutuhan untuk terus berinvestasi agar tetap berada di jalur yang sama.
Perubahan itu juga terkait dengan peta persaingan internasional. Dalam sejarahnya, Amerika Serikat pernah mendominasi, dan National Women’s Soccer League (NWSL) masih menjadi liga yang menarik. Akan tetapi, WSL dinilai mulai menyalip kemampuan untuk menghadirkan pemain terbaik dunia. Spanyol—sebagai juara dunia bertahan—disebut kehilangan lebih banyak pemain ke WSL, dan London City diperkirakan memiliki setidaknya tujuh pemain asal Spanyol dalam skuad musim ini.
Ada pula pertanyaan yang lebih sensitif: kesenjangan finansial. Walau Putellas bergabung dengan status bebas transfer, kemampuan klub-klub besar untuk memberi gaji besar dikhawatirkan akan menekan tim-tim yang berada di paruh bawah klasemen. Situasi ini berpotensi memunculkan perdebatan baru mengenai efektivitas salary cap WSL dan apakah mekanisme yang ada mendorong investasi, atau justru menghambat perkembangan klub lain yang tidak memiliki kapasitas yang sama untuk tumbuh cepat.
Di luar soal penghasilan, perhatian juga mengarah ke keputusan UEFA yang mencegah pemilik multi-klub memiliki lebih dari satu klub dalam Liga Champions. Dalam konteks itu, muncul pertanyaan lanjutan: apakah Kang akan mengundurkan diri dari salah satu kepemilikan—baik Lyon maupun London City Lionesses—jika klub yang ditanganinya mampu mencapai ambisi yang ditargetkan.
Dengan rangkaian faktor mulai dari visi jangka panjang, koneksi pribadi, hingga kerangka finansial yang berada dalam batas WSL, London City akhirnya berhasil menarik Putellas. Transfer ini bukan hanya menjadi rekor baru bagi kompetisi, tetapi juga sinyal bahwa arah persaingan di WSL sedang bergeser, dan tim-tim lain harus menyesuaikan ritme investasi mereka untuk tetap relevan.







