Internasional

Starmer menerima revolver berisi peluru dari Erdogan, masih tersimpan di Turki

×

Starmer menerima revolver berisi peluru dari Erdogan, masih tersimpan di Turki

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sir Keir Starmer gifted gun and ammunition by Turkish president

jurnalistik.co.id – Dalam rangkaian pertemuan di KTT NATO yang berlangsung di Ankara, Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer menerima sebuah hadiah bersifat sangat spesifik: sebuah revolver yang dipersonalisasi serta amunisi aktif. Hadiah itu diserahkan langsung oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat acara puncak.

Menurut laporan tersebut, revolver yang diberikan Starmer memiliki ukiran nama perdana menteri. Senjata itu tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari serangkaian hadiah serupa yang disiapkan untuk para pemimpin negara yang menghadiri KTT di Ankara.

Revolver tersebut diketahui belum kembali ke Inggris. Saat ini, senjata itu masih berada di Turki dan ditangani oleh pejabat Inggris di sana, sehingga belum masuk tahap penggunaan atau pemindahan ke wilayah nasional.

Di sisi prosedur, laporan menyebutkan bahwa revolver itu diperkirakan akan dinonaktifkan terlebih dahulu sebelum dikembalikan. Dengan proses nonaktif tersebut, senjata nantinya diharapkan tidak lagi memiliki kemampuan untuk menembakkan amunisi aktif.

Faktor regulasi menjadi alasan penting mengapa senjata tetap berada di Turki. Erdogan disebut telah memberi pengabaian atas kontrol ekspor untuk hadiah tersebut, namun kepulangannya tertahan karena menurut aturan di Inggris, pengimporan senjata api yang masih berisi peluru adalah hal yang ilegal.

Pihak Downing Street juga tidak merilis foto revolver tersebut. Ketidakterbukaan dokumentasi visual ini membuat detail tampilan senjata, selain ukiran nama yang disebutkan, tidak dapat diverifikasi secara langsung oleh publik melalui rilis resmi.

Kesepakatan pertahanan di sela KTT

Di luar urusan hadiah, momen di KTT NATO tersebut juga memuat rangkaian agenda diplomatik. Dalam pertemuan di KTT, Starmer menandatangani perjanjian pertahanan dengan Erdogan. Perjanjian itu disebut akan membuka jalan bagi kerja sama yang lebih dekat dalam hal pertukaran intelijen antara kedua negara.

Perpaduan antara agenda keamanan dan keputusan simbolik berupa hadiah senjata menunjukkan bahwa hubungan Inggris–Turki saat itu dibawa ke dua jalur sekaligus: jalur kebijakan melalui dokumen pertahanan, dan jalur hubungan antarpemimpin melalui pemberian item yang sarat makna.

Setelah KTT berakhir, Starmer menyampaikan pandangannya mengenai kondisi aliansi. Ia menyatakan bahwa pertemuan menghasilkan kesan aliansi yang lebih kuat dan lebih bersatu.

Dalam kutipan yang dimuat, Starmer mengatakan, “This has been a good summit. We achieved what we wanted to achieve, which is unity. So important we have that, particularly with the conflicts going on in Ukraine and the conflicts in Iran,” he added.

Kalimat tersebut menekankan bahwa persatuan menjadi sasaran utama yang ingin dicapai dalam KTT. Ia juga mengaitkannya dengan konteks konflik yang tengah berlangsung, yakni konflik di Ukraina serta konflik di Iran, sebagaimana disebut dalam pernyataannya setelah pertemuan.

Laporan itu juga menempatkan rangkaian agenda di KTT NATO sebagai bagian dari periode akhir masa jabatan Starmer dalam agenda internasionalnya. Disebutkan, ini akan menjadi acara internasional besar terakhir baginya setelah ia mengumumkan pengunduran diri pada bulan lalu.

Dengan status revolver yang masih berada di Turki dan menunggu penonaktifan sebelum dikembalikan, keseluruhan kisah hadiah tersebut memperlihatkan adanya jarak antara momen serah terima di forum internasional dan konsekuensi administratif yang harus dipenuhi setelahnya. Pada saat yang sama, perjanjian pertahanan yang ditandatangani menunjukkan bahwa fokus hubungan kedua negara tidak berhenti pada peristiwa seremonial, melainkan berlanjut ke mekanisme kerja sama keamanan.

Hingga saat ini, revolver tersebut tetap menjadi bagian dari inventaris pejabat Inggris di Turki, sementara proses yang diharapkan terjadi berikutnya adalah penonaktifan agar kepulangannya kelak tidak memunculkan persoalan terkait larangan impor senjata api berisi peluru ke Inggris.