jurnalistik.co.id – Hari-hari besar di Centre Court Wimbledon kembali berlanjut dengan hasil yang sulit diprediksi: Arthur Fery menyingkirkan Flavio Cobolli dan memastikan dirinya melangkah ke semifinal. Laga yang berlangsung dalam tiga set itu membuat perhatian publik di All England Club makin memuncak.
Fery berstatus wildcard Inggris, sementara Cobolli datang sebagai unggulan kesembilan. Setelah set demi set berjalan ketat, Fery akhirnya unggul dan membawa kemenangan yang sekaligus mengubah peta persaingan di turnamen ini. Di sepanjang pertandingan, momen-momen penting terasa berulang—termasuk satu insiden yang membuat Cobolli menyampaikan keluhan terkait servis.
Bagi Fery, hasil ini bukan sekadar tiket semifinal, melainkan rangkaian emosi yang baru pertama kali ia rasakan. Usai pertandingan, ia mengatakan, “I felt emotions that I’ve never experienced before in my life in that last game,”. Ia juga menambahkan, “I have the crowd behind me here, which is a huge help.”
Semifinal Wimbledon untuk Fery sekarang memiliki nama dan wajah yang jelas. Ia akan menghadapi Alexander Zverev, unggulan kedua asal Jerman, pada Jumat. Dengan situasi itu, Fery masih harus melewati satu ujian besar lagi sebelum melangkah lebih jauh.
Di sisi historis, penampilan Fery membuat statistik Wimbledon semakin berwarna. Ia menjadi petenis Inggris kelima yang mencapai semifinal sejak era Open dimulai pada 1968. Lebih jauh, hanya ada empat pemain yang pernah menembus semifinal turnamen Grand Slam tunggal putra dengan status wildcard, yaitu Jimmy Connors (1991 US Open), Henri Leconte (1992 French Open), dan Goran Ivanisevic (2001 Wimbledon).
Dari tiga nama terdahulu tersebut, hanya Ivanisevic yang akhirnya meraih gelar. Artinya, capaian Fery saat ini membuka peluang besar—meski belum ada apa pun yang bisa dianggap selesai sebelum semifinal berlangsung.
Performa ini juga berdampak langsung pada posisi ranking Fery. Ia diproyeksikan naik hingga peringkat ke-36 dunia, padahal sebelum turnamen ini ia belum pernah menembus batas peringkat 100 besar. Dari sisi perjalanan karier, peningkatan itu berarti jalan menuju turnamen-turnamen terbesar menjadi lebih terbuka ke depan.
Tak kalah penting, Fery membawa nilai hadiah yang besar. Sebuah cek senilai ÂŁ900,000 menanti dia, dan jumlah itu akan bertambah jika ia mampu mengalahkan Zverev. Dengan angka sebesar itu, Wimbledon memberinya suntikan finansial untuk terus mengembangkan karier.
Namun, cara pandang Fery terhadap hasil tampak berbeda. Ia menyampaikan, “I don’t really see results as a monetary value, I see it more as a result of a lot of work put in throughout the years,” setelah mencapai undian utama Australian Open pada Januari. Di momen itu, ia juga pernah berbicara soal kemampuan untuk “reinvest” dalam teniSnya, tetapi yang paling menonjol tetap satu: uang bukan titik pusat motivasinya.
Berita Terkait
Dari latar belakang keluarga, ayah Fery, Loic, bekerja sebagai manajer aset dan pernah menjadi pemilik klub sepak bola Lorient yang berlaga di Ligue 1. Sementara itu, ibunya, Olivia, tercatat sebagai mantan pemain Fed Cup dari Prancis yang juga bekerja untuk LTA sebagai manajer pengembangan bisnis. Keluarga Fery dilaporkan bernilai lebih dari ÂŁ275m.
Meski capaian mulai melonjak, orang-orang di dekatnya menggambarkan Fery sebagai sosok yang tetap rendah hati. Pelatihnya, Jeroen Benard, menyebutnya “normal 23-year-old who happens to be very good at sport”. Rekannya sesama pemain Inggris, Felix Gill—yang telah lama menjadi teman dekat—juga menilai Fery sebagai “silly one” dalam lingkar pertemanan mereka.
Benard memotret kedekatan itu lewat kebiasaan sehari-hari. “Every morning when he gets treatment we’re watching World Cup highlights and we talk about day-to-day stuff,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa rutinitas tersebut terasa biasa, “It’s nothing different to if we were playing a Challenger in Croatia.”
Perjalanan Fery sendiri berawal dari kedekatannya dengan Wimbledon sejak usia muda. Ia tumbuh di wilayah yang jaraknya tidak jauh dari Centre Court, datang ke kejuaraan hampir setiap musim panas, dan mencoba meniru figur-figur yang ia saksikan dari tribun. Saat waktunya bertambah, ia pun berkembang dari sistem LTA sebagai salah satu talenta yang menjanjikan.
Langkah berikutnya membawa Fery ke Stanford University di California. Di kampus bergengsi itu, ia mengambil studi di bidang science, technology and society. Pendidikan tersebut, menurut ceritanya, berfungsi sebagai penopang alternatif jika tenis tidak berjalan sesuai harapan, sekaligus membantu ia mempertajam permainan melalui kesempatan beasiswa tenis.
Fery juga sempat menunda transisi penuh ke tur ATP agar bisa mengikuti jalur alumni Stanford seperti John McEnroe dan saudara Bryan. Dalam prosesnya, cedera ikut membatasi progresnya, terutama bone bruising di lengan yang sempat menimbulkan “doubts and dark moments”.
Meski demikian, ia memilih untuk bersabar dan menata pemulihan. Setelah dua musim terakhir ia bermain dengan konsisten, kini ia memetik hasil dari kesabaran itu. Di lapangan, ketenangan menjadi kunci: Fery tampil dengan kepala dingin dan serius, baik saat pertandingan berlangsung maupun ketika menjalani wawancara pascalaga.
Salah satu gambaran kedewasaan Fery terlihat dari pertandingan putaran keempat saat ia menghadapi situasi besar. Ia tidak gentar bermain di hadapan Roger Federer dalam kemenangannya atas Grigor Dimitrov. Bahkan, momen ketika Queen Camilla menonton juga tidak mengubah fokusnya.
Queen Camilla bahkan hadir menyaksikan pertandingan melawan Cobolli. Sebelum dan sesudah laga, Fery bertemu dengan Camilla, yang memberi dukungan. Fery mengutip percakapannya dengan mengatakan, “She congratulated me and said ‘keep going’,” dan ia menambahkan bahwa ia sempat memberitahu, “I told her it was my birthday on Sunday. It would be great to play the Wimbledon final on my birthday.”
Dengan kalender itu, kemungkinan bermain final tepat pada ulang tahun ke-24 terdengar seperti sesuatu yang nyaris mustahil—namun kini ia setidaknya sudah berada di jalur yang realistis menuju pertandingan berikutnya. Dengan semifinal melawan Zverev di depan mata, Fery tetap harus membuktikan bahwa cerita besar ini bukan kebetulan semata.












